My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 46



Bandung


Paman Bagas dan Bibi Indah telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Maya, Maya akhirnya mau menceritakan semuanya. Paman dan Bibi menyayangkan hal yang menimpa Maya, bagaimana bisa Jack yang mereka kenal baik tega bermain belakang, berselingkuh dari Maya.


Paman dan bibi terus menyemangati Maya agar tidak terpuruk karena masalah itu, mengingatkannya bahwa ada Mia yang menjadi prioritasnya sekarang. 


"Paman dan Bibi akan selalu mendukungmu, tinggallah di sini selama yang kau mau... karena kau sudah kami anggap anak kami sendiri, Maya." Paman Bagas menepuk bahu Maya menguatkan, Maya tersenyum tipis. 


Bibi Indah memeluk Maya erat, hal itu membuat Maya menitikkan kembali air mata yang sebenarnya sudah lelah ia keluarkan. 


"Aku bingung Bi... Bagaimana menyampaikannya pada Mia tentang keadaanku ini?" Maya terisak.


"Mia anak yang cerdas, dia pasti akan mengerti," Bibi Indah mengusap punggung Maya lembut.


Maya bersyukur masih memiliki Paman dan Bibi yang sangat menyayangi nya.


🌷🌷🌷


2 minggu sudah Maya dan Mia tinggal di rumah Paman Bagas, dan 2 minggu pula Angga terus datang kerumah Paman Bagas dengan alasan ingin bermain dengan Mia, meski sebenarnya ia hanya ingin melihat Maya. 


Wajah Maya memang tidak secantik Siska, tapi wajahnya selalu bisa membayangi orang yang melihatnya... Entah itu dinamakan kharisma. Maya sangat manis dan imut, diusianya yang menginjak 30th dia terlihat masih belia. 


Angga terus memikirkan Maya sejak pertama kali ia bertemu. Meski tau status Maya yang tidak sendiri, entah setan mana yang membuatnya buta. Yang dia mau hanya bisa melihat senyum Maya yang manis setiap hari. 


🌷🌷🌷


PT. Angkasa


BRUAK


Bahkan ada situs melengkapinya dengan video mesum Danu bersama beberapa wanita malam. Danu menjambak rambutnya frustasi. 


"Siapa yang menyebarkan semua itu?! Cari orang yang berani bermain-main denganku!" Danu memberi perintah pada orang suruhannya dengan berapi-api.


Namun baru orang suruhannya akan keluar, pintu ruang kerja Danu terbuka. Sesosok pria rupawan dengan ekspresi dingin memasuki ruangan diikuti beberapa pria berpakaian serba hitam mengikutinya dari belakang.


Danu terkejut dengan kehadiran pria itu, sejenak kemudian dia memperlihatkan senyum mengejek.


"Ada apa Tuan Jack Adinata yang terhormat hingga datang ke sini?"


"Aku yang menyebarkan scandalmu hingga membuat sahammu anjlok," Aku menatap datar pada Pak Danu."Dan kerja sama kita aku rasa cukup sampai disini, aku tidak mau perusahaanku colapse karena orang yang suka menghambur-hamburkan uang untuk wanita malam."


Danu membelalakkan mata mengetahui aku dibalik semua insiden ini. Danu merangsek hendak memukulku tapi aku menahan tinjunya yang menggantung diudara. 


"Semua karena mu tidak mau menikahi Siska, apa salahnya berpoligami?" Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kini aku mengerti kenapa Siska selalu menyalahkan orang lain dari kesalahannya sendiri. Sama seperti ayahnya yang mendidik untuk jadi pribadi yang egois.


Aku menghempas tangan Tuan Danu kemudian merapikan jas ku dan menatapnya tajam. "Maksudnya? Lebih baik berpoligami dibanding berganti-ganti wanita setiap malam seperti anda, begitu?" Mata Danu memerah menahan amarah dan malu secara bersamaan.


"Jangan jadikan Siska alasanmu untuk semua ke salahanmu, Siska hanya pion untukmu. Agar bisa mendekatiku dan mengeruk harta keluargaku," Aku berbalik badan dan memberi isyarat pada Tomi untuk menyelesaikan sisanya.


"Tomi akan mengurus semua dokumen pembatalan kontrak, kedepannya jangan pernah muncul dihadapanku maupun keluargaku lagi. Atau aku akan bawa masalah ini ke ranah hukum!"


Akupun melangkah untuk meninggalkan ruangan itu namun tawa Danu mengusikku untuk berhenti dan menoleh padanya.


"Hahahaha, ya aku tidak menyesal... setidaknya kini kau sendiri. Mungkin istrimu akan menemukan penggantimu yang lebih baik, bukan tukang selingkuh," Perkataannya berhasil memancing emosiku, dengan langkah lebar aku mendekat dan mencengkeram kerah bajunya. 


"Aku bukan kau pak tua, yang lupa akan waktunya mati esok dan terus menumpuk dosa!" Aku mengangkat tubuhnya hingga membuat ia tercekik "Perlu kau tau, Maya bukan wanita lemah seperti istrimu yang memilih membunuh dirinya sendiri dibandingkan mempunyai suami macam dirimu!!" Aku menghempas tubuh Danu kasar hingga membuatnya terjerebab di lantai.