
Kediaman Jack Adinata
Kami sekeluarga bersuka cita dengan kembalinya Maya dan Mia dirumah ini tapi entah kenapa hatiku masih kesal akibat kejadian tadi di mobil, aku tau itu hanya gurauan. Mengapa kesalnya tidak bisa hilang, aku terus menatap sebal pada Maya.
Ada apa dengan diriku??
Maya menyadari pandanganku padanya, ia tersenyum tapi aku memalingkan muka. Terlihat Maya mengeryitkan kening bingung.
Semua orang sedang bercengkrama mengelilingi Mia, mereka sangat rindu dengan celotehnya. Aku juga rindu pada Mia, hanya saja ego yang masih menguasai membuat ku memilih pergi dari ruangan keluarga menuju dapur, mungkin dengan air dingin dapat melunturkan perasaan aneh ini.
Aku juga tidak ingin kesal berlama-lama, rugi dong yang ada nanti Maya pergi lagi karena sebal dengan tingkah aneh ku. Aku menenggak satu gelas air putih hingga tandas. Aku menyeka air yang masih ada dibibir ku.
"Daddy kenapa seh? Masih marah gara-gara tadi?" Maya tiba-tiba ada di belakangku.
Aku hampir tersedak air liurku sendiri, aku menoleh kearah Maya dengan wajah masam. Aku tidak mau seperti ini, aku bingung pada diri sendiri.
"Maafin Mommy... jangan marah lagi please!" Maya memohon, mana sanggup aku tidak mengabulkannya. Aku menganggukkan kepalaku seperti anak kecil.
Maya tersenyum tapi kemudian ia terusik dengan wajahku yang tidak ramah "Tapi kok Daddy masih cemberut?"
"Cium... " Kataku lirih, apa-apaan seh aku ini. Aku malu sendiri dengan tingkahku.
What's wrong with you, Jack? batinku.
Maya kaget dengan sikapku, kemudian terkekeh. "Baiklah," Maya mendekatkan bibirnya pada bibirku, mengecup lembut.
Saat Maya ingin menyudahinya aku menahan tengkuknya, membalas ciumannya dengan buas. Aku seperti orang kesetanan, memangut, menghisap mendominasi membuat Maya kewalahan. Tanganku tidak tinggal diam, sudah bergerilya menjamah perut menuju atas tubuh Maya.
Maya tersentak karena sentuhan ku, Maya mengkhawatirkan keberadaan kami. "Hmmmpp, Daddy... Stop!" Maya mencoba melepas ciuman membuatnya terdengar seperti erangan membuat libido ku semakin naik.
Maya memukul-mukul punggungku, aku akhirnya melepaskan ciuman. Maya menutup mulut dengan punggung tangannya.
Senyumku mengembang, aku langsung mengangkat tubuh Maya menggendongnya bridal. Reflect Maya melingkarkan tangan di leherku.
"Kita lanjut di kamar!" Aku menyeringai lebar, Mata Maya membulat membuatku semakin senang. Saat ia ingin mengeluarkan protesnya. "Daddy tidak keberatan mencium Mommy sepanjang jalan menuju kamar,"
Maya pun mengatupkan bibir rapat-rapat. Hanya menyisakan rona merah di pipinya. Aku membawanya ke kamar melewati orang-orang yang sedang asik mengobrol di ruang keluarga.
"Masih siang Jack!" seloroh ayahku jahil.
"Biar lama mainnya, Ayah!" jawabku asal membuat Maya malu setengah mati, ia menyembunyikan wajahnya di dadaku.
Catherine menyorakiku, Tomi tersenyum kecil sambil menatap Catherine malu-malu. Ibu menggelengkan kepalanya. Sedangkan aku melenggang pergi tidak menghiraukan yang lain.
"Memangnya Daddy main apa sama Mommy, Opa?" Mia bertanya membuat semua orang saling berpandangan, Nyonya Catherine melotot pada suaminya. Sedangkan Tuan Adinata meringis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Main kuda-kudaan." Dengan senyum jenaka tanpa rasa bersalah Tuan Adinata menjawab.
"AYAH!!!" Teriak Catherine dan Nyonya Caroline serentak.
Tuan Adinata segera menghilang menghindari lemparan bantal dari istrinya. Mia hanya mengerjapkan matanya bingung melihat Omanya yang emosi ketika mendengar kata 'kuda-kudaan'
Oma tidak suka main kuda-kudaan ternyata, batin Mia.
Beberapa part lagi menuju ending.
Please rate, vote dan likenya yach!!
Tinggalkan jejakmu dengan komentar agar aku lebih baik lagi, enjoy!