My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 40



"Kakak Maya sudah pergi bersama Mia, meninggalkan aku sendiri di rumah. Entah kakak Maya dapat dari mana, terdapat foto-fotomu yang sedang bermesraan dengan wanita itu. Bahkan ada surat keterangan positif hamil disini... atas nama Siska." Catherine menghela nafas lewat mulut karena hidungnya mampet terlalu banyak menangis. "Apa kau benar-benar tidak tidur dengannya?" 


Maya pergi? Hanya itu yang aku tangkap dari semua yang Catherine katakan. Apa dia meninggalkan aku? Aku masih mencerna perkataan Catherine, jantungku bergemuruh tanganku pun terasa dingin. 


"Cari Kakakku sampai dapat! Sebelum kau menyesal karena telah menyakitinya!" Catherine menutup ponselnya secara sepihak. Dia sebenarnya ingin memaki tapi energinya sudah habis. 


Sedangkan aku masih setia mematung dengan tangan bergetar menjatuhkan ponselku karena tubuhku terlalu lemas hanya untuk sekedar mengepal. Dadaku sesak, aku kehilangan nafasku kehilangan udara meski oksigen melimpah disekitarku.


Maya... Maya... Maya... Jangan pergi, sungguh aku tidak mendua. Aku hanya mencintaimu...


Air mataku mengalir tanpa permisi, tubuhku luruh kelantai. Aku memukul-mukul lantai melampiaskan amarahku, amarahku pada diri sendiri karena dengan keji menyakiti Maya. Aku meraung memanggil namanya.


"Mayaaaaaaa!!!"


Tomi yang mendengar keributan langsung masuk ke dalam kamarku, dia terkejut melihat tanganku yang mengeluarkan darah disetiap buku-buku jariku. 


"Tuan, ada apa?" Aku emosi ketika melihat Tomi dan menarik kerah bajunya dengan kasar. "Kau bilang Maya tidak akan tau!!! Kau bilang-" Suaraku meninggi dengan mata memerah aku menatapnya tajam, Tomi terdiam dengan wajah pucat. "AKHH... BRENGSEK!!" Aku melepas cengkeramanku padanya dengan sedikit mendorong kasar. 


Dengan lunglai aku mendekati sofa dan duduk di sana. "Maya tau... tapi semua itu tidak benar... tidak benar..." Tomi yang melihatku begitu terpuruk hanya bisa mengucapkan kata-kata maaf.


"Maafkan saya Tuan, maaf..." Tomi menunduk dengan rasa penyesalannya.


🌷🌷🌷


Bandung


"Mommy, kenapa tante Catherine tidak kita ajak berlibur?" Maya membawa Mia dengan alasan berlibur, kemarin sebelum pulang kerumah Maya mampir ke sekolah Mia untuk mengurus administrasi kepindahannya.


Akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan, Maya tidak pergi kerumah mendiang orang tuanya. Tapi melainkan kerumah pamannya yang mengurus perusahaan teh keluarga. 


"Terima kasih ya Pak sudah mengantar kami dengan selamat," Maya memberikan 20 lembar uang berwarna merah. Maya menggunakan jasa taksi online dari Jakarta ke Bandung. Supir itu pun terkejut dengan banyaknya uang yang diberikan. "Ini terlalu banyak Nona, tarifnya hanya 1/2 dari uang yang Nona berikan," 


Maya tersenyum simpul. "Tidak apa-apa Pak, tolong diterima." Supir itu berterima kasih berkali-kali pada Maya hingga akhirnya meninggalkan Maya dan Mia di depan sebuah rumah mewah nan asri, banyak pepohonan disekitarnya.


"Rumah siapa ini Mommy?" Mia bertanya dengan riang sambil melirik beberapa mainan yang ada di taman.


"Rumah Kakek Bagas," Maya mengajak Mia ke teras rumah dan memencet bel di samping pintu utama.


"Kakek Bagas?" Mia mengerutkan keningnya membuat Maya terkekeh.


"Iya, Kakek Bagas itu adik dari Ayah Mommy," Maya menjelaskan sambil mengusap rambut Mia dengan lembut.


"Oo gt..." Mia seolah mengerti tapi masih mengerutkan keningnya seolah berfikir dan itu sungguh lucu dimata Maya.


Beberapa detik kemudian pintu terbuka, seorang wanita berusia 50th keluar dari rumah dengan raut wajah terkejut sekaligus senang.


"Ya ampun, Maya!!" Seru Bibi Indah istri dari Paman Bagas. Bibi Indah langsung memeluk dan menciumi wajah Maya 


"Mimpi apa bibi semalam kamu ada disini sayang, sudah lama sekali kamu tidak kesini," Masih setia memeluk Maya.


"Maafkan Maya Bi, karena sudah lama tidak menengok Bibi dan Paman. Mungkin kedepannya Maya akan tinggal lama di sini," Perkataan Maya membuat Bibi Indah melerai pelukannya. "Ada apa Maya?" Bibi indah menatap Maya penuh selidik.