My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 27



Maya yang sedang menangis tersentak mendengar suara Mia yang mencarinya, ia rapikan foto-foto itu kedalam amplop dan menaruhnya di laci nakas tempat tidur. Kemudian beranjak dari sisi ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya.


Ia harus terlihat baik-baik saja, Maya tidak mau membuat Mia dan Catherine khawatir. Setelah Maya merasa lebih baik, ia segera menuruni tangga menghampiri Mia. 


“Kalian masuk lewat mana? Maaf ya Mommy ketiduran jadi tidak dengar Mia dan Tante Cath mengetuk pintu.” Maya beralasan.


“Kami tidak mengetuk pintu Mommy, Mia dan Tante lewat taman belakang.” Jelas Mia lalu memeluk Maya “Mommy sakit? Mia anter kerumah sakit ya.” Ajak Mia memelas.


Maya yang mendapat perhatian dari Mia tersenyum penuh haru, mata nya memanas mengingat foto barusan “Mommy cuma sedikit tidak enak badan, istirahat sebentar juga sembuh.” Ujar Maya menenangkan Mia sambil mengelus-elus rambut anaknya.


Catherine pun menghampiri Mia yang sedang memeluk Maya dan menempelkan punggung tangannya ke kening Maya.


“Kakak sakit? Aku bisa antar Kakak ke Rumah Sakit!” Catherine berkata dengan khawatir.


“Tidak usah, Kakak cuma butuh tidur. Ok.” Maya sekali lagi meyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa.


Catherine menghela nafas lelah. “Baiklah, sekarang kakak tidur saja.” 


Maya tersenyum tipis dan mengangguk. “Mia sama Tante dulu ya, Mommy tidur sebentar.” ucap Maya pada Mia.


“Iya Mommy.” Mia berseru dengan semangat lalu berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton TV sedangkan Catherine memperhatikan Maya yang terlihat menaiki tangga menuju kamarnya. 


🌷🌷🌷


Kediaman Danu Permana 


Seorang pria paruh baya sedang menerima telepon, ujung bibirnya naik membentuk lengkungan hingga matanya menyipit.


“Kerja bagus, dia pasti tidak menyangka suami tercinta ternyata tukang selingkuh. Besok bayaranmu aku transfer!” 


Klik 


🌷🌷🌷


Adinata Group 


“Tuan, saya sudah menyelidikin PT. Angkasa. Ternyata perusahaan itu hampir colapse, semua itu karena penggelapan uang yang dilakukan oleh direkturnya sendiri. Penggunaan uang secara pribadi diatas batas wajar hingga kredit bank yang macet adalah akar masalah. Disamping itu saya juga menemukan terdapat skandal yang dilakukan Pak Danu.” Jelas Tomi panjang lebar.


Aku mengeryit, aku menurunkan kaki kanan yang tadinya di atas kaki kiri kemudian berdiri dari duduk. “Tuan Danu Permana mempunyai skandal? Skandal apa?” Ujarku tertarik.


“Skandal prostitusi, dia memiliki banyak wanita simpanan yang hampir semuanya wanita malam.” Jawab Tomi.


“Pantas dia tidak segan-segan menjebak ku dengan cara licik, lingkup hidupnya menggambarkan bagaimana kepribadiannya.” Aku menggeram kesal sambil meremas pulpen yang sedang ku pegang.


Tomi yang melihat amarah sang Tuan hanya bergidik ngeri, selang beberapa detik kemudian Aku pun menyeringai.


“Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kita menggunakan cara serupa untuk menjeratnya.” Ucapku sambil tersenyum licik berdiri menghadap kaca besar.


“Maksud tuan?” Tomi bertanya-tanya.


“Cari semua bukti penggelapan yang Pak Danu lakukan dan cari info siapa saja yg dijadikan simpanan olehnya! Aku akan buat perhitungan dengannya” Jelas ku berapi-api.


Tomi baru mengerti maksud dari perkataan ku, dengan sigap Tomi pun mengiyakan perintah Tuannya.


“Siap tuan, kalau begitu saya undur diri.” Tomi segera pamit untuk melaksanakan tugasnya. 


Sedangkan Aku masih setia menerawang menghadap kaca besar menampilkan gedung-gedung pencakar langit diseberang sana. 


Sebaiknya aku pulang sekarang, aku merindukan istriku yang manis.


Aku pun segera meraih jas dan tas kerja kemudian keluar ruangan, sambil bersenandung aku menaiki lift. Tidak sabar ingin memeluk Maya dan melepas lelah sehabis kerja seharian. Saat sampai di loby aku hanya menganggukkan kepala membalas hormat para pegawai, tak ingin membuang waktu aku pun segera memasuki mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang menuju rumah.