My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 38



Kediaman Jack Adinata


Catherine sedang menonton TV dengan Mia yang tidak henti mengunyah cemilan. Perhatiannya teralih dengan langkah kaki yang terdengar menuju tangga. Catherine menghampiri.


"Kak Maya dari mana? Tumben lama?" 


Maya menoleh sambil tersenyum. "Iya maaf ya lama, kamu sudah makan?" 


"Sudah, Kakak belum menjawab pertanyaanku. Kakak dari mana?" Catherine menatap Maya dengan tatapan menyelidik, Maya terkekeh melihat hal itu.


"Sekali-sekali boleh donk kakak jalan-jalan, lagi pengen refreshing adja kok Cath," Maya merangkul lengan Catherine. "Malam ini Kakak dan Mia tidur di kamarmu ya!" Maya berkata dengan sedikit manja membuat Catherine geli.


"Gak seperti biasanya kak. Oke lah, mana bisa aku menolak permintaan Kakakku tersayang," Catherine memeluk pinggang Maya sambil tersenyum riang.


"Yey kita pajamas party donk!" Mia ikut menyahut ketika mendengar kata-kata ibunya.


Merekapun bersenda gurau bersama, Maya hanya bisa tersenyum pedih melihat adik iparnya yang benar-benar ia sayangi. 


"Maafkan Kakak Cath!" 


🌷🌷🌷


Ddrrtt... Drrrtt... 


Pria paruh baya yang sedang membaca berkas terusik dengan suara ponselnya. Ia segera meraih dan melihat siapa yang memanggilnya selarut ini


"Nona Maya?" Detik selanjutnya panggilanpun diangkat. "Ya Nona Maya, ada yang bisa saya bantu?" Pak Johan bertanya pada Maya diseberang sana, matanya terbelalak ketika mendengar maksud Maya.


"Apa Nona yakin? Ada apa sebenarnya? Mungkin saya bisa memberikan masukan dari masalah Nona!"


"..…........."


"Baiklah bila itu yang Nona inginkan, saya akan mengurusnya," Panggilan pun terputus. 


Pak Johan adalah pengacara keluarga Maya, Maya sebenarnya adalah anak dari pengusaha teh di tanah air. Hanya saja perusahaan keluarganya di pegang oleh pamannya, karena Maya memilih menjadi ibu rumah tangga saat menikah dengan Jack. 


🌷🌷🌷


Aku masih sibuk berkutat dengan berkas, bahkan aku melewatkan makan malam. Sejenak aku terdiam dan teringat pada Maya, jika Maya ada disini dia pasti sedang disuapi makan olehnya. Aku sungguh rindu dengan istri manisku.


"Maya... Aku merindukanmu sayang," Gumamku.


tok tok tok 


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. "Yes, come in!" 


Detik kemudian Tomi memasuki ruangan dengan membawa nampan yang terdapat 2 cangkir kopi diatasnya.


"Tuan sebaiknya istirahat dahulu, saya buatkan kopi untuk Tuan." Tomi menaruh kopi di meja tamu. Aku kemudian menghampiri sambil merenggangkan ototnya.


"Ada kabar dari rumah?" Aku bertanya pada Tomi karena ponselnya selama di Seattle di pegang oleh Tomi.


"Ada dari Pak Hasan pada pukul 3 dini hari, perkiraan pukul 2 siang disana," 


Aku menghela nafas kasar, perbedaan waktu yang sangat jauh membuat diriku sulit untuk berkomunikasi langsung dengan Maya di tanah air. Jelas aku tidak tau ada panggilan ketika aku sendiri tidur terlelap. 


Tomi yang menyadari kekhawatiran yang di alami oleh Tuannya berusaha untuk menghibur. "Tuan tenang saja, semua pasti baik-baik saja,"


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata


Pukul 10 Catherine baru bangun tidur tidak seperti biasanya, dia kesiangan. Catherine mengedarkan pandangan sambil mengucek matanya kemudian menguap. "Kenapa Kakak Maya tidak membangunkan aku?" 


Catherine pun turun dari ranjangnya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, selang 30 menit Catherine pun telah tampil cantik hanya dengan kaos kebesaran dan celana jeans pendek melekat indah ditubuhnya. 


Catherine keluar kamar dan segera menuju dapur untuk mencari Maya tapi yang di maksud tidak ada, hanya ada Mbak Darmi. 


"Mbak... Kakak Maya mana?" Catherine bertanya sambil memakan roti panggang buatan Mbak Darmi.


"Dari Mbak Darmi keluar kamar, Nyonya Maya belum kelihatan Nona." Sahut Mbak Darmi. Ada nada khawatir di ucapannya.


"Aneh," Catherine meminum susu coklat dan bergegas bangkit untuk ke kamar Maya.