My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 42



"Apa kakakku sudah bisa dijenguk Dok?" Catherine bertanya langsung pada Dr.Kevin , sedangkan Dr. Kevin masih terpaku memandang wajah Catherine yang begitu mempesona. 


"Cantik sekali." Gumam Dr.Kevin. 


"Apa Dok?" Dr. Kevin tersentak dari lamunannya.


"Ah iya? Maaf tadi Nona bilang apa?" 


Catherine memutar bola matanya malas, "Saya bertanya, apa Kakak saya sudah bisa dijenguk?" Catherine mengucapkan dengan seksama agar Dokter yang lumayan tampan di depannya ini tidak bertanya lagi. 


Dr. Kevin jadi salah tingkah menyadari sikapnya yang terlihat konyol di depan keluarga terpandang seperti Adinata. "Te-tentu sudah bisa, saya sudah menempatkan Tuan Jack di ruang VVIP. Nona bisa langsung kesana dengan lift di pojok sana," Dr. Kevin berkata dengan gugup membuat Tuan dan Nyonya adinata terkekeh geli.


"Baiklah klo begitu, terima kasih Dok!" Catherine segera merangkul Ayah dan Ibunya dan membawa mereka ke arah lift. 


"Dasar bodoh." sambil memukul kepalanya sendiri setelah itu Dr. Kevin kembali ke ruangannya.


🌷🌷🌷


Bandung


Maya sedang menemani Mia bermain di taman, Bibi Indah menghampiri dengan membawa kue dan teh. 


"Maya, apa yang terjadi? Kamu seperti bukan dirimu... kamu seperti lampu yang redup, Nak." 


Maya menatap Bibi Indah, orang yang sudah dianggap orang tuanya sendiri. Sejenak ia tersenyum hingga air matanya mengalir membasahi pipinya. Maya terisak tanpa suara, Bibi Indah tersentak melihat itu dan segera memeluk Maya. "Semua akan baik-baik saja nak, jika kau belum bisa menceritakannya tidak apa-apa. Bibi akan selalu mendukungmu,"


Tangis Maya semakin pecah, Maya lelah menahan semuanya sendiri... tapi ia pun tidak ingin memberatkan orang lain dengan masalahnya. Selama ini ia selalu belajar menyelesaikan masalah sendiri. Seberat apapun itu...


🌷🌷🌷


Saat ini Tomi sedang mengintrogasi pak Hasan dan para bodyguard di taman belakang rumah, raut wajah tegang menghiasi wajah mereka. Tomi menatap tajam mereka satu persatu.


"Bagaimana bisa semua ini terjadi? Bahkan kalian tidak tau jika nyonya Maya pergi!!!"


"Maafkan kami... kami benar-benar lengah saat itu." Salah satu bodyguard mewakili untuk berbicara.


"Kalian sudah mengecek CCTV?"


"Sudah tuan, Nyonya Maya pergi pukul 4 pagi melalui taman belakang. Kebetulan saat itu yang berjaga di sana sedang ke kamar kecil," Pak Hasan menjelaskan.


"Lalu, ruangan CCTV siapa yang berjaga?" 


"Saya pak, maaf saat itu saya sedang di dapur membuat kopi." Pak Hasan menunduk penuh penyesalan. Tomi hanya bisa menghela nafas kasar mengetahui keteledoran anak buahnya. Kini dia harus mencari tau siapa yang telah mengirim paket pada Nyonya nya. 


"Sehari sebelum perginya Nyonya Maya, bapak menelpon tuan Jack. Ada apa?" Tomi mengingat panggilan tidak terjawab dari pak Hasan saat Tuannya masih di Seattle.


"Ah iya, hari itu saya mengantar Nyonya Maya ke sebuah Cafe... dan menyuruh saya untuk pulang lebih dulu. Beliau tidak ingin di tunggu maupun dijemput, dan sikapnya agak aneh. Sepanjang jalan nyonya terus melamun." Tomi mengeryitkan dahinya mendengar keterangan Pak Hasan. 


"Periksa CCTV di Cafe tersebut, dan berikan copiannya padaku hari ini juga!!" Tomi memerintahkan Pak Hasan dan para bodyguard.


"Baik Tuan!" Seru mereka serentak dan segera meluncur ke cafe yang dituju. 


Tomi masih terduduk di ruang keluarga dengan foto-fotoku dan sebuah amplop dari rumah sakit. 


"Jika kau adalah dalang semua ini, aku tidak akan tinggal diam." Batun Tomi.