
Kediaman Jack Adinata
Seusai aku siuman aku langsung kembali kerumah. Harapan akan keberadaan Maya yang menyambutku dirumah sirna sudah, tidak ada senyuman manis yang selalu menenangkan... Tidak ada lagi celoteh manja dari matahari kecilku, ini sungguh menyiksa padahal belum genap 2 hari Maya pergi. Aku sudah merana begini. "Pergi kemana kau sayang? Kembalilah... hukuman mu ini terlalu berat,"
Hampa ketika memasuki kamar, tempatku melepas rindu didalam dekapannya hingga terlelap. Aku meremas seprai ranjang ketika nyeri itu menghampiri dada seperti ditusuk belati. Aku menengadahkan pandanganku menahan air mata yang sedari tadi ku tahan.
Hingga sesuatu menarik perhatianku diatas nakas ranjang, sebuah amplop yang terdapat namaku disana. Aku mengambil dan membukanya, tulisan Maya terukir cantik menghias kertas itu.
"Belahan jiwaku terpisah hingga raga tidak lagi sempurna. Kau adalah raja dalam relungku, hingga akhirnya aku tau kini aku tidak cukup berarti lagi... Aku ingin membencimu dengan seluruh hidupku, tapi tidak bisa... Aku ingin mengutuk mu tapi lidah ini tidak sanggup bersuara... Aku ingin memaki mu tapi aku terlalu lemah... Lemah karena hati ini... Hati yang terlalu mencintamu... Jadi aku memilih untuk mendo'akanmu... Semoga kau bahagia... Karena dengan kebahagiaanmu aku bisa melepasmu... Selamat tinggal sayang...
Yang selalu merindumu... Maya"
Sudah tidak terbendung lagi... Aku sudah tidak perduli lagi berapa banyak air mataku yang menetes.
"Jangan melepasku... aku mohon... bahagiaku hanya padamu... Mayaaaa... Aaaaaakkkhhhhhh!!!!!" Aku memukul kaca meja rias hingga hancur, menimbulkan suara keras ke lantai bawah.
Suara teriakanku membuat Ayah, Ibu dan Catherine menghampiriku ke kamar, Catherine memekik ketika melihat darah segar mengalir deras dari tanganku.
"Kakak!!! Tanganmu berdarah,"
"Ya tuhan Jack apa yang kau lakukan??!!" Ibu meringis menghampiri dan memegang tanganku. "Jangan seperti ini Jack, Maya pasti sedih melihatmu melukai diri sendiri."
Ibu menengok pada Ayah. "Ayah jangan diam saja, cepat panggilkan dokter!!" Ayah yang masih terkesima dengan kejadian tadi langsung menelpon dokter. "Ah iya, iya sebentar!"
Ibu menuntunku untuk duduk ke sisi ranjang, mengusap wajahku yang basah karena air mata "Kau mencintainya kan?"
"Dengan seluruh hidupku bu, aku hanya mencintainya. Aku tidak pernah mendua, semua hanya salah paham. Semua itu tidak benar... bagaimana bisa aku menghianatinya jika aku saja tidak bisa hidup tanpanya," Ibu memelukku, mengusap-usap punggungku dengan lembut.
"Kalau begitu, jelaskan padanya. Perjuangkan dia, karena selama ini Maya terus berjuang bertahan untukmu," Ibu melerai pelukan, menangkupkan tangannya dipipiku.
"Terima kasih Bu, terima kasih karena menguatkan aku." Aku memeluk ibu dengan erat.
"Ya, jangan bersikap cengeng lagi! Kakak tidak mau kan, kalau Mia punya Papa baru." Mendengar itu membuatku emosi, tidak akan aku biarkan. Maya hanya milikku, dia hanya akan menjadi istri seorang Jack Adinata.
"Dalam mimpimu!!" Aku melempar bantal kearah Catherine hingga membuatnya kaget dan terdorong kebelakang.
🌷🌷🌷
Bandung
Setelah acara makan malam, Angga pun pamit undur diri. Paman Bagas meminta tolong Maya untuk mengantarnya ke depan rumah.
"Apakah aku boleh datang lagi lain kali?" Tanya Angga pada Maya saat mereka sudah sampai diteras rumah.
Maya menaikkan sebelah alisnya, bingung.
"Tentu saja boleh, karena Tuan Angga adalah tamu Paman Bagas."
"Aku datang bukan sebagai rekanan bisnis," Angga berdiri menghadap Maya, Maya masih menatap Angga bingung.
Angga mendekatkan wajahnya ketelinga Maya dan berbisik. "Aku datang sebagai teman, aku mau berteman denganmu,"
Maya terhenyak kaget dengan sikap Angga, ia segera memundurkan tubuhnya ke belakang beberapa langkah.
"Saya rasa, tidak perlu... lagi pula saya sudah menikah tidak baik jika terlalu dekat dengan pria yang bukan suami saya," Maya berucap dengan gugup sambil memalingkan wajahnya yang memerah kearah lain.
Angga tersenyum geli melihat tingkah Maya yang membuatnya gemas.
Ah... sayang sekali sudah ada yang punya.