
Aku berdiri di depan cermin, meniti penampilanku saat ini. Aku membayangkan Maya yang datang menyambutku, aku rindu senyumnya... aku rindu pelukannya... aku rindu harum manis tubuhnya... membuatku tidak sabar untuk bertemu.
"Maya... aku datang..."
Dengan langkah pasti aku segera pamit untuk pergi ke Bandung.
"Hati-hati dijalan, selesaikan masalah kalian." Ibu memelukku dan mengusap punggungku memberi rasa nyaman.
Aku membalas pelukan ibu. "Terima kasih ibu, do'akan aku agar Maya mau memaafkan anakmu ini,"
"Kamu pasti bisa," Ayah menepuk bahuku memberi semangat.
"Iya Ayah!" Aku menganggukkan kepala.
"Salam untuk Mia, semoga tidak ada yang mendekati kak Maya." Catherine tersenyum mengejek, aku membalasnya dengan senyum menawanku.
"Jangan kau ragukan pesonaku yang membuat kakakmu itu tidak dapat berpaling," Sambil mengerlingkan mataku Catherine langsung berekspresi datar.
Aku terkekeh kemudian melangkah ke mobil, aku meninggalkan rumah setelah melambaikan tangan pada Ayah,Ibu dan Catherine.
🌷🌷🌷
Club ***
Entah angin apa yang membuat siska mendatangi Club disiang hari bolong, dia menatap Club itu sebelum masuk sambil memegang secarik kertas.
"Lupakan urat malu mu Siska, karena selama ini kau tidak mempunyainya" Batin Siska pada diri sendiri.
Siska datang ke Club yang tempo hari ia datangi, saat ini ia ingin menemui seseorang yang mengantarnya pulang ke apartemen dengan selamat tanpa kehilangan apapun, entah ia ingin mengucapkan terima kasih atau apa.
"Saya... saya hanya ingin menemui seseorang, saya tidak tau namanya. Mungkin anda bisa mengetahuinya dari tulisannya," Ujar Siska sambil memberikan secarik kertas pada pelayan itu.
Mata pelayan itu terbelalak, ia ingat malam dimana Herman mengantar seorang tamu. Tamu yang hampir mengalami pencurian oleh rekan kerjanya. Ia tau jika tulisan itu adalah tulisan Herman. "Nona, mencari seseorang yang mengantar nona malam itu??"
"Kau tau?? Ya saya sangat mabuk hingga menyusahkan seseorang yang mungkin karyawan disini"
"Nona tidak ingat apapun pada waktu itu??" Pelayan itu bertanya kembali meyakinkan bahwa nona didepannya ini tidak datang untuk menuntut rekannya yang hampir mencuri barangnya.
"Ingat apa?? Apa ada suatu kejadian yang tidak saya ketahui??" Siska penasaran.
Pelayan tersebut langsung kikuk. " Ah tidak Nona, maksud saya Nona benar- benar tidak ingat siapa yang mengantar?" Pelayan itu mengalihkan pembicaraan.
"Saya sama sekali tidak ingat, karena itu saya kesini ingin tau," Siska mulai aneh melihat gelagat pelayan itu. "Jadi, apa anda mengenali tulisan ini?" Tulisan dari Herman tapi bagian yang mengatakan tentang berat tubuhnya Siska hapus terlebih dahulu.
"Saya tau... sepertinya ini tulisan Herman. Dia bartender disini," Pelayan itu menjelaskan.
"Ah syukurlah jika anda mengenalnya... hm apa dia ada disini sekarang??" Siska mengedarkan pandangan keseluruh ruangan Club.
"Sayangnya dia belum datang, biasanya dia datang pukul 5 sore hari Nona,"
Terlihat raut kecewa dari wajah Siska. " Ah sayang sekali, baiklah saya akan kembali lagi saat dia sudah datang." Siska tersenyum dan mengambil kembali kertas itu. "Kalau begitu saya pamit undur diri,"
Pelayan itu hanyak mengangguk sekaligus terpana dengan kecantikan Siska.
"Mas Herman lagi hoki anter bidadari," Gumam pelayan itu.