
Bandung
Bibi Indah sedang menelpon suaminya Paman Bagas, Bibi Indah ingin menceritakan rekanan suaminya yang setiap hari datang ke rumah seolah tidak punya kerjaan.
"Ayah, kenapa rekan bisnis ayah setiap hari datang ke rumah kita? Seperti tidak punya pekerjaan saja. Setiap datang alasannya ingin main dengan Mia, tapi ibu tau dia sedang berusaha mendekati Maya,"
Paman Bagas terkekeh diseberang sana. "Biarkan saja, siapa tau jodoh. Toh Maya akan berpisah dengan Jack... Tuan Erlangga tidak kerja pun uangnya akan terus mengalir karena dia satu-satunya pewaris perusahaan tembakau terbesar di tanah air,"
Bibi Indah melebarkan matanya. "Di... Dia pewaris Sastroadji Group??"
"Ya, memang tidak sebesar Adinata Group... tapi cukup diperhitungkan. Lagipula bukan itu yang Maya butuhkan, Maya tidak butuh materi, usaha keluarga kita cukup untuknya. Maya hanya butuh orang yang benar-benar bertanggung jawab dan setia." Paman memberikan penekanan pada akhir kalimatnya.
Bibi mengerti keinginan suaminya yang menganggap Maya pengganti anaknya yang telah meninggal. Paman Bagas sangat menyayangi Maya, karena itu ia hanya memikirkan kebahagiaan Maya dibanding apapun.
Bibi Indah hanya bisa menghela nafas. "Tapi bagaimana pun masalah Maya belum selesai, jangan membuat Maya sama seperti Jack yang main di belakang. Maya bukan wanita seperti itu!" Bibi Indah tidak mau sampai Maya disalahkan dari semua ini, karena yang berkhianat adalah Jack.
"Baiklah, nanti Ayah coba bicara dengan Tuan Erlangga agar tidak terlalu sering ke rumah untuk menjaga Maya dari pandangan negatif orang lain,"
Bibi Indah tersenyum senang. "Ibu senang mendengarnya, terima kasih Ayah,"
Telepon pun terputus, Bibi Indah menatap Maya yang sedang menyiram tanaman sambil menemani Mia main ditaman dari lantai atas.
"Kasihan sekali kamu Nak..."
Bibi Maya pun melihat Angga yang menatap Maya lembut dari kejauhan.
Bibi Indah pun memilih keluar dari kamar, ia turun menuju ruang tamu untuk menutup pintu utama yang terbuka, namun saat Bibi Indah sampai di depan pintu tubuhnya membeku, Bibi Indah menangkap sosok pria yang siang malam ditangisi oleh keponakannya.
"Jack?!"
"Selamat siang menjelang sore Bi..." Aku hendak mendekat, terlihat di tanganku yang menenteng paper back dan rangkaian bunga.
Bibi Indah menatap sinis padaku. "Berhenti, jangan melangkah lagi!!" Aku terkejut dengan sambutan dingin dari Bibi Indah yang selama ini aku kenal sangat hangat.
"Mau apa lagi kamu kesini? Belum cukup kamu melukai keponakan saya!" Bibi Indah mengepalkan tangan menahan amarah, nada suaranya pun mulai meninggi. Aku terhenyak mendengar kata-kata yang keluar dari Bibi Indah.
"Maafkan Jack Bi, ini semua salah paham..." Aku berusaha mendekat perlahan sambil memohon. "Jack kesini untuk menjelaskan pada Maya bahwa semua itu tidak benar!!"
Maya yang mendengar suara Bibinya dengan seseorang pun terusik, Maya melihat dari jauh berniat menghampiri Bibi Indah setelah dia merapikan selang air. Angga yang berada tidak cukup jauh dari Maya akhirnya mengikuti dari belakang.
Samar-samar terdengar suara yang menurutnya familiar, suara yang selalu ia rindukan setiap malam. Ia menekan keinginan untuk menghubunginya karena berfikir jika orang itu pasti sudah bahagia sekarang. Dengan langkah pelan dan rasa penasaran Maya mendekat hingga tepat dibelakang Bibi Indah.
"Siapa yang datang bi?" Maya memegang tangan Bibi Indah, Bibi Indah terdiam dan membalik badan saat itu terjadi tatapan dua insan yang telah terpisah hampir 1 bulan itu bertemu. Maya menutup mulutnya, matanya mendadak memanas. Sedangkan aku tersenyum bahagia akhirnya aku menemukan istri manisku.
"Maya..."
"Jack..."
Aku hendak menarik Maya dalam pelukanku namun...