
"Daddy!!!" Mia langsung menghambur memelukku, matahariku. Aku membalas pelukan Mia erat.
Mia mendongakan kepala sambil tersenyum senang. "Daddy sudah pulang dari dinasnya??" Aku mengerutkan keningku menatap Mia.
Dinas?
Aku pun menatap Maya yang menundukkan kepalanya, aku tersenyum simpul Maya selalu menjaga aibku di depan Mia. Bahkan disaat dia terluka, dia terus menenangkan Mia dengan alasan yang masuk akal. Tiba-tiba aku merasakan ngilu di dada mengingat itu semua.
Aku berjongkok mensejajarkan diri dengan Mia. "Ya, Daddy baru pulang! Dan Daddy mau jemput kalian pulang kerumah," Aku berkata dengan lembut.
Bibi Indah menyipitkan matanya kesal.
Enak saja!!
"Siapa yang mengijinkan kamu membawa Maya dan Mia??" Bibi Indah menginterupsi.
Mia menatap neneknya bingung, kenapa Nenek Indah terlihat kesal pada Daddynya? Maya yang menangkap hal itu segera mengambil tindakan.
"Ah, Bibi... Sebaiknya kita bicarakan di dalam." Maya mengusap lengan Bibi Indah dan beralih menatap Mia. "Mia main dulu ya di taman... nanti main lagi sama Daddy."
Mia menatap Maya dan menatapku, aku segera menganggukkan kepala. "Mia main sendiri dulu ya, ini Daddy bawain coklat kesukaan Mia," aku menyodorkan paperbag yang disambut binar bahagia oleh Mia.
"Wah, coklatnya sama dengan yang diberi Om ganteng. Makasih ya Daddy," Mia pun melenggang pergi ke Taman.
Om ganteng? Siapa? batinku.
Hening sesaat ketika Mia sudah tidak ada, aku menatap Maya yang masih tidak mau melihatku. Sedangkan Bibi Indah masih dengan mode kesalnya.
Angga yang melihat semua kejadian tadi semakin yakin bahwa ada yang tidak baik-baik saja dengan hubungan Maya dengan suaminya meski tidak tau alasan sebenarnya. Angga memilih pamit undur diri mengingat akan ada urusan keluarga yang tidak ada hubungan dengan dirinya.
"Ehem!"
Sontak Maya, Bibi Indah dan aku menoleh pada pria yang baru aku lihat.
"Nyonya Indah, Maya saya mohon pamit. Ada urusan penting di kantor."
"Iya Tuan Erlangga, terima kasih karena selalu menghibur Mia agar tidak bosan," Bibi indah seolah ingin membuatku cemburu dengan kedekatan pria ini dengan Mia anakku.
Dan itu berhasil, aku benar-benar merasa terusik dengan keberadaan pria cukup tampan itu di sekeliling keluargaku.
"Tidak masalah nyonya, saya menyukai Mia. Mia anak yang manis," Angga berucap sambil menatap dalam ke arah Maya.
Brengsek!!! Aku tau tatapan itu, aku ingin mencungkil matanya saat ini juga.
"Baiklah, sampai jumpa," Angga berlalu sambil menyeringai melihatku.
Tatapan mengejek, aku membalas dengan tatapan membunuhku hingga ia tidak terlihat lagi.
Setelah pria yang tidak aku kenal itu pergi Bibi Indah kembali menatap sinis kepadaku, aku hanya bisa menghela nafas. Maya mendekati bibi Indah. "Bibi, bisa tinggalkan kami berdua?"
Bibi Indah menatap heran pada Maya, Maya mengerti perasaan Bibinya. "Biar Maya yang menyelesaikan ini, percaya sama Maya!" Maya menatap Bibi Indah dengan tatapan memohon, dan akhirnya Bibi Indah menyerah.
"Baiklah, lakukan sesuai kata hatimu Maya," Bibi indah menepuk-nepuk punggung Maya, sebelum pergi Bibi Indah menatapku. "Tolong hargai semua keputusan Maya, dan jangan buat kekacauan!"
Aku menganggukkan kepala "Baik Bi."
🌷🌷🌷
Canggung itulah keadaan saat ini. Maya duduk bersebrangan denganku, Maya seolah enggan berdekatan denganku dan itu menyakitkan. Aku menatapnya penuh kerinduan, sedangkan Maya hanya melihat kearah cangkir.
Apa cangkir itu lebih menarik dibanding aku?? Yang benar saja!
Maya akhirnya melihatku saat mendengar pergerakanku menaruh rangkaian bunga mawar putih kesukaannya.
"Aku bawakan bunga un-"
"Aku tidak suka bunga, lebih tepatnya sudah tidak suka lagi," Maya menyela sambil menunduk hingga akhirnya aku bungkam untuk sesaat. "Bukankah aku sudah mengirim surat perceraian, kau jadi bisa segera menikahi wanita itu. Biarkan hak asuh Mia padaku, setidaknya kau sudah memiliki calon anak dari dia. Sedangkan aku hanya seorang diri... sebatang kara," ucapan Maya membuatku sakit, marah dan kecewa dalam waktu bersamaan.