
“Maaf Tuan akan kelancangan saya, baik anda butuh bantuan apa Tuan?”
“Tolong kamu periksa CCTV di setiap ruangan VIP Club ***, cari rekaman kemarin malam pada kisaran pukul 23.00 s/d pagi hari. Aku butuh secepatnya!” Titahku tidak bisa diganggu gugat.
“Club *** , bukankah itu tempat Tuan mengadakan meeting dengan PT. Angkasa. Ada apa Tuan?” Tomi lagi-lagi bertanya membuat aku mau tak mau menggertakkan gigiku gemas.
“Sudah, laksanakan perintahku terlebih dahulu! Besok aku ceritakan kronologi apa yang terjadi tadi malam. Paham?” Nadaku dingin.
“Ah, i-iya Tuan. Maaf saya keceplosan.” Jawab Tomi sedikit tergagap.
“Satu lagi, selidiki tentang PT. Angkasa!” Tambahku.
“Baik tuan.” Tomi berkata dengan mantap.
Aku mematikan panggilanku dan segera keluar rumah untuk menyusul Maya, namun baru aku melangkahkan kaki keluar rumah aku dikejutkan dengan pemandangan yang bisa membuatku mati berdiri.
Bagaimana bisa dia disini? Batinku berkecamuk.
Siska berjalan beriringan dengan Maya dan Mia Disampingnya. Maya menangkap keberadaanku yang berdiri kaku di depan pintu.
“Daddy, sudah bangun?” Maya menghampiriku bersama Mia dan Siska mengekor dibelakangnya.
“Siska.” Panggilku pada dia yang seolah kaget akan keberadaanku. Maya menoleh pada Siska dan langsung tersenyum.
“Kami bertemu nona Siska dijalan, Mia bilang dia adalah teman Daddy yang tempo hari Daddy tolong. Aku mengajaknya kesini untuk makan siang bersama, tidak apa-apa kan?” Maya menjelaskan mengapa Siska ada disini.
Aku ingin mengumpat dan mengusirnya dari rumahku, namun itu hanya dalam benakku.
“Tentu saja tidak apa-apa.” Aku menarik Maya dan mengecup keningnya dengan mesra sambil melihat reaksi Siska yang langsung menundukkan kepalanya.
Maya Reflex mendorong aku menjauh darinya dengan wajah merah padam. “Daddy apa-apaan sih, ada temannya juga!”
“Tau neh Daddy Mia kan jadi yang malu.” Mia ikut protes.
“Tidak apa-apa Jack aku mengerti.” Susah payah Siska bersikap biasa saja menahan panas dihatinya.
Maya menarik tangan Siska memasuki rumah, aku memperhatikannya dari jauh.
“Ayo nona Siska! Sudah waktunya makan siang.”
“Panggil Siska saja.” Sanggahnya.
“Baiklah Siska silahkan dinikmati makanannya, semoga tidak mengecewakan ya.” Maya berkata dengan ramah dan menoleh kepadaku yang sejak tadi diam.
“Daddy, koq melamun. Sini ayo makan. Memangnya tidak lapar?” Maya Memanggilku dan menepuk-nepuk kursi yang biasa aku duduki ketika makan. Dengan senyum mengembang aku menghampirinya, menghapus keberadaan Siska yang saat ini duduk berhadapan dengan Maya.
Aku seolah mengabaikan kehadiran Siska yang membuat ku tiba-tiba kesal bila melihatnya. Ditambah pesan Tomi yang semakin membuat ku naik pitam, aku baru tau jika Siska adalah anak Pak Danu. Jadi mereka bersekongkol menjebak ku, aku yakin itu.
🌷🌷🌷
Saat Siska pamit dari rumahku aku segera mengajaknya untuk bertemu, menyelesaikan masalah yang belum 1 hari terjadi. Dia menyuruh ku datang ke apartemennya dan memberikan alamatnya melalui pesan.
“Sayang, aku pergi sebentar. Ada masalah kantor yang harus aku urus.” Lagi aku berbohong untuk kedua kali setelah tadi pagi aku bilang menginap di kantor.
Benar kata orang, sekali berbohong akan ada kebohongan berikutnya. Dan semua terjadi secara naluriah, semua kata dusta keluar begitu saja dengan mudah. Aku merutukinya, sambil terus meminta maaf pada Maya didalam hati.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang, tidak menunggu lama akupun sampai ke tempat tujuan. Jaraknya tidak begitu jauh dari kantor ku, aku melangkahkan kaki menuju kamar apartemen Siska.
Pintu apartemennya terbuka selang beberapa detik aku menekan bel, sosok Siska yang berantakan seperti habis menangis. Menyentil hati ku yang tiba-tiba merasa kasihan. Tapi aku berusaha menekannya, aku masih setia berdiri di depan pintu sampai Siska menyilahkan aku memasuki apartemennya.
Please rate, vote dan likenya yach...!!
Enjoy!