
Pak hasan dan bodyguard yang melihat Maya keluar rumah dalam keadaan rapi langsung menghampiri.
"Nyonya mau pergi? Biar saya antar!" Tawar Pak Hasan, Maya sempat terdiam sesaat. "Ya Pak, tolong antar saya!"
Maya pun pergi diantar Pak Hasan bersama 2 bodyguard ke tempat yang sebutkan dalam sms. Disepanjang jalan tidak ada yang bersuara, Pak Hasan diam-diam memperhatikan Maya dari kaca mobil.
"Ada apa dengan nyonya?"
30 menit kemudian sampailah mereka di Cafe yang dituju. Maya segera turun dari mobil, langkahnya terhenti sejenak sambil menghela nafas panjang ia berbalik dan menghadap Pak Hasan. "Bapak pulang saja, tidak perlu menunggu saya! Kalian juga ikut Pak Hasan pulang!" Maya meminta Pak Hasan dan bodyguard untuk pulang.
"Tapi Nyonya-"
"Saya tidak apa-apa, tolong ya Pak." Maya menyela sambil memberikan nada seolah memohon. Pak Hasan tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan Nyonya nya. "Baiklah Nyonya, jika ada apa-apa harap segera hubungi saya,"
Maya tersenyum dan mengangguk.
Setelah mobil pak Hasan hilang dari pandangannya, Maya memasuki Cafe. Ia mengedarkan pandangannya melihat ke dalam Cafe. Hanya ada seorang wanita yang sedang duduk di pojok ruangan tersebut.
Wajahnya tidak terlihat jelas karena ia seperti sedang menundukkan kepala. Dengan pelan Maya mendekati wanita tersebut, Maya berdiri tepat disamping meja wanita itu. Mata Maya membulat ketika wanita itu mendongakkan wajahnya sambil tersenyum.
"Kau datang juga."
"Siska."
🌷🌷🌷
Kini kedua wanita itu sedang duduk saling berhadapan. Tidak ada satupun kata yang terucap dari mereka hingga akhirnya salah satu dari mereka mengambil sesuatu dari tas dan menaruhnya di meja.
"Aku tidak akan berbasa-basi, lihatlah dan kita selesaikan ini secepatnya," Siska menaruh amplop putih di hadapan Maya.
"Maksudnya?"
Bagai tersambar petir Maya mendengar perkataan Siska yang jauh diluar nalarnya. Bayangan foto Jack dan Siska kembali membayanginya. Lidahnya kelu, darah seolah menghilang dari aliran darahnya membuat kulitnya menjadi pucat.
Dengan sekuat tenaga Maya menahan nyeri ngilu di dadanya, berusaha mengatur nafas untuk bersikap biasa "Aku percaya pada suamiku, mungkin ini hanya salah paham,"
Siska tersenyum sinis "Kau tau? Saat Jack tidak pulang kerumah malam itu dia dimana?" Siska mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Maya sambil berbisik. "Dia sedang dalam pelukanku, kami menghabiskan malam penuh gairah bersama,"
Maya memejamkan matanya, sungguh kepalanya menjadi mendadak pusing tubuhnya pun lemas. Ia meraih amplop yang ada di hadapannya, membuka dan membaca. Surat keterangan tentang kehamilan, disana tertulis positif. Luruh sudah... Hati yang sudah retak itu kini menjadi lebur... Tak berbentuk
Bagaimana bisa... Jack menghianatinya, membagi cinta, menusuknya dari belakang... Sakit sekali... Adakah yang bisa menghilangkan sakit ini?? Sesak yang membuatnya sulit bernafas.
Seolah kurang memberi luka dalam hati Maya, Siska menambahkan garam pada luka itu.
"Perlu kau tau, kami selalu bertemu di akhir pekan-"
"Apa mau mu?" Maya sudah tidak sanggup mendengar hal apapun yang terjadi antara mereka.
"Tinggalkan Jack, kau pasti mengerti mengapa aku memintamu meninggalkannya. Anakku butuh status yang jelas, kau adalah alasan kenapa Jack tidak menikahiku," Siska benar-benar membuang rasa malunya dan bersikap ****** dengan merebut suami orang secara terang-terangan.
"Aku akan meninggalkannya, semoga kalian bahagia," Maya segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Siska yang masih terkejut dengan ucapan Maya.
Semudah itu? Maya, kau benar-benar terlalu baik... Atau bodoh?
🌷🌷🌷
Maya terus berjalan dengan tidak tentu arah, mengikuti ke mana kakinya membawanya pergi. Taukah kalian rasa yang Maya kini rasakan? Rasanya sakit sekali hingga ingin mati. Maya ingin mati saat ini juga.
Tubuhnya ambruk, Maya terduduk di trotoar jalan sambil menangis. Dia sudah tidak memperdulikan orang sekitar yang memandangnya heran.
Tuhan... Apakah ini akhirnya...? Aku sudah berusaha bertahan... maafkan aku... Maafkan aku yang akhirnya hanya bisa menyerah ... karena tak sanggup dengan rasa sakit ini... Terlalu sakit...