
“Tapi apa harus berpura-pura ingin menikah? Sungguh ini benar jebakan? Bukan akal-akalan kakak ku Jack saja yang memang kegatalan?“ Catherine masih meragukan cerita Tomi.
“Nona tau sendiri Tuan cinta mati dengan nyonya Maya, mana mungkin bisa berpaling.” Bela Tomi.
“Bisa saja, lelaki pikirannya tidak jauh dari sel*ngkangan!” Sarkas Catherine.
“Tidak semua begitu nona, apa nona pernah mengalaminya hingga berfikir semua lelaki sama?” Tomi penasaran Catherine yang dulu lembut kini menjadi dingin.
“Aku mengingatmu, kita berkenalan saat ulang tahun perusahaan. Aku berbohong saat di Bandara padamu saat itu.” Catherine beranjak berdiri dan menaruh ponsel Jack ke meja kerjanya. “Aku hanya tidak mau dekat dengan kalian para pria bermulut manis tapi suka menusuk di belakang.” Catherine pun segera berlalu meninggalkan ruangan Jack, meninggalkan Tomi yang masih terpaku dengan semua perkataan Catherine.
🌷🌷🌷
Cafe ***
“Aku ingin mempercepat pernikahan kita! Karena itu kamu harus memeriksakan diri ke rumah sakit, cek kesehatan sebelum menikah.” Ucapku tanpa basa basi.
“Terserah kau saja Jack, semakin cepat semakin baik. Kapan kita Kerumah sakit?” Tawar Siska.
“Pekan depan, nanti aku jemput!” Aku tersenyum palsu. Aku harus bersabar hingga hari itu tiba, mengungkap yang sebenarnya.
“Kau tau Jack, aku sangat bahagia bisa hidup bersama mu,” Siska menyandarkan kepalanya di dada bidangku, aku hanya diam Siska pun terusik dengan sikapku yang dingin.
“Jack! Kau belum pernah menciumku.” Siska mengusap bibirku dan menatap dalam “Apa kau hanya pura-pura menerimaku?”
Pertanyaan itu sontak membuatku terkejut, jangan sekarang. Tujuanku belum tercapai, jangan sampai Siska tau bahwa aku bersandiwara.
“Aku tidak pernah bermain-main dengan pilihanku.” Sanggahku.
“Kalau begitu cium aku!” Desak Siska.
Aku menghembuskan nafas kasar sambil bergumam “Maafkan aku Maya.” Aku pun mendekatkan wajah kearah Siska mengecup bibir Siska sekilas namun Siska menahannya. Siska melingkarkan tangannya ke leherku kemudian Siska memangut bibirku, Aku berusaha melepaskan lingkaran tangan Siska dan melepaskan ciuman. “Jangan disini Siska, ini tempat umum!” Aku menggeram.
Dengan senyum jahil Siska mengusap rahang ku. “Itu baru ciuman!” Siska kemudian memelukku. Tanpa mereka berdua sadari ada seseorang yang diam-diam mengambil gambar dari kejadian-kejadian tadi.
🌷🌷🌷
Seusai makan siang aku segera kembali ke kantor, saat aku memasuki loby karyawan resepsionis mendekati ku.
“Tuan! Tadi saat tuan pertemuan dengan klien diluar, adik anda datang kesini.” Langkah kakiku terhenti ketika mendengar kata karyawan itu.
“Maksudmu Catherine?” Tanyaku meyakinkan sekali lagi.
“Iya Tuan, Nona Catherine tadi datang ke kantor.” Tegas Anna.
“Apa yang dia lakukan disini?” Tanyaku kembali.
“Kalau masalah itu saya tidak tau Tuan, saya hanya menunjukkan lift menuju ruangan Tuan padanya.” Jelas Anna.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih.” Ucap ku ramah pada karyawan itu dan membuat wajahnya memerah. Aku segera melangkahkan kaki menuju lift khusus ruangan ku.
“Duh ampun, hari ini dapet durian runtuh dikasih senyuman sama malaikat bumi.” Gumam Anna.
Ting
Lift pun terbuka dan saat aku keluar lift Tomi mendekati ku sedikit terburu-buru dan dengan wajah panik.
“Tuan, maaf dengan sangat terpaksa saya menceritakan semuanya pada Nona Catherine.” Ucap Tomi gugup.
Aku segera memperhatikan keadaan sekitar dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. “Kita bicarakan di ruanganku saja!” Ajakku pada Tomi yang masih terlihat panik.
Saat kami telah berada di dalam ruanganku aku segera memberikan pertanyaan pada Tomi “Apa yang terjadi? Ada perlu apa Catherine sampai datang ke kantor?” Ucapku saat sudah duduk di kursi kebesaran ku menatap Tomi yang berdiri di depan mejaku. Terlihat tomi mengambil ponsel dari saku jasnya dan menaruhnya di mejaku itu.
Ponselku bagaimana bisa ada pada Tomi?
“Nona Catherine mengantar ponsel Tuan yang tertinggal dirumah.” Jelas Tomi.
Please rate, vote dan likenya yach!!!
Enjoy!