My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 20



“Bahwa aku...” Aku menelan saliva kasar. “Aku bersedia menikahimu, aku akan bertanggung jawab karena aku sudah merenggut masa depanmu.” Pancingku.


Siska tidak menyangka dengan kenyataan manis yang ia dengar barusan, Jack mau menikahinya.


“Kau mau menikahiku Jack? Sungguh? Kau memang yang pertama untukku Jack!” Siska meyakinkan sekali lagi.


“Ya, tapi sebagai istri kedua.” Aku menambahkan.


Siska terdiam sesaat kemudian tersenyum tipis, ya... apapun itu yang terpenting dia dapat menikah dengan Jack. 


“Tidak masalah, aku sudah sangat senang kau mau menikahi ku Jack!” Siska meraih tanganku diatas meja menggenggamnya erat, ia tersenyum bahagia dengan tatapan memuja. Aku hanya bisa terdiam, terdiam mengikuti permainan Siska. 


🌷🌷🌷


Apartemen Siska 


“Terima kasih sudah mengantarku, kau mau mampir dulu?” Tawar Siska mencoba peruntungannya untuk berduaan kembali denganku, sayangnya aku sama sekali tidak menginginkan itu.


“Mungkin lain kali, adikku pulang hari ini jadi aku harus menyambutnya.” Aku beralasan.


“Oh begitu, baiklah hati-hati dijalan ya!” Siska berkata dengan manis dan kemudian keluar dari mobil sedangkan aku hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis. sambil melambaikan tangan siska terus memperhatikan mobilku yang berlalu pergi. 


“Ya Tuhan, aku tidak menyangka semua rencana berhasil tanpa cela.” Siska bersorak kegirangan. “Aku harus memberitahu Ayah!” 


Siska bergegas merogoh ponsel dalam tasnya dan menghubungi Pak Danu. 


Drrtt...drrtt...drrtt....klik


“Ayah... Ayah, Jack mau menikahiku!” Siska berseru.


“Calm Down honey, ceritakan secara perlahan!” Pak Danu mengingatkan. 


Siska pun menceritakan semua yang terjadi dari awal pertemuannya di cafe dan Pak Danu tersenyum sinis diseberang sana. 


“Ya tidak apa-apa kau menjadi istri kedua, karena selanjutnya kita bisa menyingkirkan istri pertamanya.” Otak jahat Pak Danu berputar memikirkan rencana selanjutnya.


“Maksud Ayah? aku tidak keberatan menjadi istri ke-dua. Jangan menambah dosa lagi Ayah, kita sudah menjebak Jack!” Siska agak geram pada ayahnya yang selalu merasa tidak puas akan hal apapun.


“Kau pikir apa pengaruhmu sebagai istri kedua? Kau lupa tujuan utama mengapa kau menikah?” 


“Tidak bisakah kali ini pengecualian? aku akan hidup dengan bahagia. Apakah itu tidak berarti untuk Ayah?” 


“Kau tidak pernah perduli padaku Ayah, kau hanya mementingkan dirimu saja!” Batin Siska.


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata 


“Daddy pulang!!” Aku berseru lantang.


“Daddy...!” Mia berlari dan langsung memeluk ku.


“Matahari Daddy sudah mandi belum?” Tanyaku sambil menciumi pipi Mia.


“Cium aja sendiri, wangi tidak?” Mia menantang dengan wajah lucu di mataku.


“Kakak baru pulang? Kemana saja? Hari libur kerja juga? Mencurigakan!” Catherine berjalan mendekatiku dan menarik Mia dari pelukanku.


“Hei, kau bukan istriku! Maya saja tidak seperti kamu, suami pulang tuh jangan diberikan interogasi beruntun yang menyudutkan. Pantas kau tidak menikah juga!" Sarkasku.


“Kau!” Catherine Tersulut emosi, Jack sangat berbeda bila berhadapan dengan keluarganya sendiri. Dia tidak pernah akur dengan Catherine, seperti anjing dan kucing.


“Sttss... sudah ayo Catherine kita makan malam!” Maya melerai dan menarik Catherine ke meja makan. Kemudian dia menatapku dan tersenyum manis “Daddy mandi dulu ya, lalu makan malam.” 


Aku tersenyum senang dan menganggukkan kepala kemudian beranjak menaiki tangga kearah kamar.


“Kakak, bagaimana bisa kau menikah dengan makhluk seperti dia? Kau mau aku carikan suami baru?” Catherine mengeluh.


“AKU MENDENGARMU CATH!!!” aku berteriak dari kamar.


“Dasar bucin!” Sarkas Catherine. Maya dan Mia hanya terkekeh melihat tingkah adik dan kakak satu ini. 


“Tante, kapan aku diajak jalan-jalan?” Mia menagih janji.


“Hm, Mia maunya kapan? Tante bisa kapan saja!" 


“Karena kamu pengangguran!” Sahutku yang baru saja duduk di meja makan. 


Mata Catherine memicing tajam. “Sindir terus, aku ambil perusahaan kakak baru tau rasa!”


“Dengan senang hati!” Aku tersenyum jenaka membuat Catherine ingin melempar piring ke wajahku.