My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 17



“Dasar anak nakal! Sudah lama kamu tidak datang ke rumah. Kamu tau tidak? Ibu tuh kangen sama Maya apalagi sama Mia, telepon saja tidak pernah. Mau jadi anak durhaka kamu?” Ibu mengomel saat telepon aku angkat, bahkan aku blm berbicara apapun.


“Maaf bu, akhir-akhir ini memang Jack sedang sibuk. Bukannya kami sudah berkunjung ke rumah Ibu.” Aku membela diri.


“Sudah berkunjung? Itu 2 bulan lalu Jack! Ya ampun, sesibuk apa seh kamu? Lama-lama Ibu kirim Catherine ke kantor kamu biar dia gantiin kamu!” Ancam Ibu.


Justru itu yang aku harapkan sayangnya Catherine pasti tak akan mau, dia lebih memilih menjadi aktris teater ketimbang pengusaha. Catherine seorang pecinta seni sejati. Dia pun pandai melukis, lukisannya sudah sering ada dipameran bergengsi di Paris.


“Ide bagus Bu! Aku dengan senang hati menyerahkan perusahaan ini pada Catherine.” Aku menjawab dengan semangat.


“Kamu itu, bikin Ibu makin kesal.”


“Baiklah Bu, aku sungguh minta maaf aku belum bisa menjenguk Ibu dan Ayah saat ini.” Aku berusaha menenangkan Ibu.


Terdengar helaan nafas Ibu diseberang sana. “Ibu mau kasih tau kamu kalo Catherine besok pulang, kamu bisa jemput dia kan? Katanya selama di Jakarta, dia mau tinggal di rumah kamu.” 


“Oh bagus klo gitu, jadi Catherine bisa Jack suruh antar jemput Mia selama dia di Jakarta.” 


“Kamu ini bener-bener! Adiknya jauh-jauh pulang dari negeri orang malah mau dijadikan supir. Kok Maya sabar ya hidup sama kamu? Ibu jadi kasihan sama Maya.” 


“Jangan gitu donk Bu, Maya segala-galanya buat Jack!” 


“Iya deh yang bucin.” Aku melongo mendengar jawaban Ibu yang hampir sama dengan Mia, Nenek dan Cucu yang sehati.


Apa Ibu juga nonton mermaid?


“Ada lagi Bu? Karena sebentar lagi aku ada meeting.” Kataku halus ingin segera menutup telepon.


“JACK!!!” Aku menjauhkan telingaku dari ponselku akibat teriakan Ibu, selang beberapa detik telepon pun diputus secara sepihak oleh Ibu. 


Bukan apa-apa, Ibu jika sudah mulai berbicara akan sulit untuk diakhiri. Jadi dengan terpaksa aku mengakhiri dengan sedikit tidak sopan.


Catherine pulang besok, di waktu yang sama aku ada janji dengan Siska. Aku pun melirik Tomi yang sedari tadi melihatku. 


“Tomi, besok tolong kamu jemput adikku Catherine di Bandara. Dan langsung antar ke rumah ku!”


“Awas, jangan macam-macam kamu!” Ancam ku.


“Hehe, ya Tuan.” Tomi meringis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata 


Maya sedang asik mencuci piring saat aku sampai dirumah, aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan Mia yang tertangkap oleh ku sudah tertidur pulas di sofa ruang keluarga. Aku tersenyum kecil melihat kebiasaannya yang sama dengan Ibunya.


Dengan pelan aku melangkah mendekati Maya yang tidak menyadari keberadaanku, hingga dia bergenjit kaget saat aku melingkarkan tangan kekar ku diperutnya.


“Ya ampun Daddy! Bikin kaget adja.” Maya menengok memastikan siapa yang memeluknya.


Aku terkekeh melihat ekspresi kagetnya, aku menyingkap rambutnya kesamping lalu menyelusup kan kepala ku kesela lekukan lehernya menghirup aroma favorit ku. 


“Rindu Mommy.” Bisikku pelan sambil menghembuskan nafasku yang hangat kesepanjang kulit lehernya.


Maya kegelian dan memutar tubuh menghadapku. “Daddy mandi dulu, habis itu makan.” 


Aku menyeringai mendekatkan wajahku ke wajah Maya hingga hidung kami saling bersentuhan “Daddy maunya makan Mommy.” 


Mata Maya membulat dengan pipinya yang merah merona, membuatku semakin gemas. Aku segera meninggalkannya yang masih mematung karena godaanku, aku berjalan kearah Mia dan menggendongnya. Sebelum aku naik ke lantai atas aku kembali menatap Maya yang juga menatapku.


“Siap-siap begadang ya Mommy.” Aku mengerlingkan mataku dan menaiki tangga menuju kamar Mia. 


Sedangkan Maya merinding ngeri sambil bergumam.


"Habislah aku"


Please rate, vote dan likenya yach...!!!


Enjoy!!