My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 39



"Kak.. kak Maya." Panggil Catherine sepanjang langkahnya menaiki tangga. Catherine mengetuk kamar Maya namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. Catherine pun akhirnya memasuki kamar.


Kosong, tidak ada Maya disana. Catherine mencari ke dalam kamar mandi dan hasilnya nihil, Catherine mulai panik ia langsung berlari ke kamar Mia.


Hasilnya sama, tidak ada siapa-siapa disana. Catherine tidak kehilangan akal dan segera menghubungi ponsel Maya. Nomornya tidak aktif!


Ada apa ini? 


Catherine segera melesak keluar rumah dan memanggil Pak Hasan.


"Bapak... Bapak lihat Kak Maya keluar rumah tidak?" Catherine berkata dengan tersengal-sengal karena habis berlari.


"Tidak Nona... Bapak dan para bodyguard tidak melihat Nyonya Maya keluar rumah dari tadi," Jelas pak Hasan.


"Tapi Kakak Maya dan Mia tidak ada di dalam rumah... ponselnya pun tidak bisa dihubungi..." Suara Catherine bergetar dengan mata memerah. "Kalian benar-benar tidak melihatnya?? Lalu kemana mereka?!" Catherine histeris.


Bapak Hasan berusaha menenangkan Catherine. "Kami akan mencarinya, Nona tenang saja. Sebaiknya Nona kembali ke dalam, siapa tahu Nyonya menghubungi Nona." Catherine akhirnya kembali ke dalam rumah. 


"Cari Nyonya disepanjang jalan menuju komplek, sisir dengan teliti, saya akan mencari ke sekolah Nona Mia," Pak Hasan memberikan instruksi yang segera di laksanakan oleh para bodyguard. "Baik pak!"


Mbak Darmi melihat Catherine yang terlihat kacau menghampiri dan bertanya. "Nyonya sudah ketemu Nona?" Catherine hanya menggelengkan kepalanya dan langsung kembali ke kamar Maya meninggalkan Mbak Darmi dengan kecemasannya. 


"Kakak dimana? Kenapa pergi tidak bilang?" Catherine duduk di pinggir ranjang  sambil menunduk, matanya menangkap sesuatu diatas nakas tempat tidur. 2 buah amplop yang bertuliskan nama nya dan nama Jack di masing-masing amplop. Catherine membuka amplop yang bertuliskan namanya.


"Dear Catherineku... Maafkan Kakak pergi tidak pamit padamu dahulu. Karena jika Kakak pamit, Kakak takut tidak bisa meninggalkan mu. Kamu sampai kapanpun adalah adikku Cath, jangan berfikir macam-macam. Saat ini Kakak hanya butuh waktu... Saat itu tiba Kakak pasti akan segera menghubungi mu... Salam sayang dari Kakakmu.


Maya." 


Air mata yang sedari tadi Catherine tahan akhirnya jatuh juga, Maya meninggalkannya dan membawa Mia.


Hati Catherine penuh dengan tanda tanya, rasa penasaran menyelimutinya ketika melihat amplop yang bertuliskan nama Jack, adakah alasannya disana? 


Tapi matanya malah terpaku pada laci nakas yang sedikit terbuka, Catherine membuka dan melihat isi dari laci tersebut. Ia mengambil dengan tangan gemetar, terdapat foto yang mengintip dibalik amplop coklat disana dan sebuah amplop bertuliskan nama sebuah rumah sakit. Tangis Catherine semakin pecah, kini ia tau alasan sebenarnya mengapa Maya pergi. 


"Selama ini kau menahannya kak... kau terus bersikap baik-baik saja... padahal aku tau sakitnya seperti apa..."


Catherine memeluk surat dari Maya sambil menangis pilu.


🌷🌷🌷


Seattle AS


Pukul 22.00 saat itu saat ponselku berdering, kini aku sudah di dalam hotel tempat aku menginap. Ini hari ke empat aku ada di Seattle, nama Catherine tertera di panggilan itu.


"Halo Cath!" 


"......" Catherine hanya terdiam mendengar kakanya memanggil. Aku yang tidak mendengar balasan dari seberang sana mengecek kembali ponselnya apa masih tersambung. Tapi masih tersambung, kemudian memanggil Catherine kembali.


"Cath, kau mende-"


"Pulanglah, cepat pulang Kak!" suara Catherine bergetar aku mengangkat kedua alis heran. "Ada apa sebenarnya Cath?" Aku sedang duduk di pantry karena ketika Catherine menelponku aku sedang meminum air. 


Aku berjalan menuju ruang TV, masih keheningan yang didengarnya. "Cath, apa terjadi sesuatu?"


"Apa kau menikmati sandiwara mu Jack? Karena yang aku lihat disini kau menikmati ciuman dengan wanita sialan itu!" Sarkas Catherine.


"Ap- apa maksud mu Cath?" Ciuman... Wanita sialan yang dimaksud Catherine pasti Siska, tapi bagaimana bisa Catherine tau aku pernah mencium Siska? Aku mulai panik.