
"Ya ada apa?" Sahutku pada Tomi setelah mengangkat panggilannya.
"Maaf tuan, anda ada perjalanan dinas hari ini. Saya lupa mengabarkannya kemarin."
Kepalaku mendadak pening, aku mengurut pangkal hidungku. Mungkin karena akhir-akhir ini aku sering menahan diri, ah... kenapa ada perjalanan dinas sekarang disaat aku ingin meminta penjelasan pada Maya akan sikapnya yang aneh akhir-akhir ini.
"Kemana dan berapa lama?" Tidak ingin berbasa basi pada Tomi yang bertele-tele.
"Seattle tuan, selama 1 minggu."
"Amerika? Tidak bisakah kamu yang pergi menggantikanku Tomi?" Aku berusaha bernegosiasi.
"Tidak bisa tuan, para direksi mengharapkan kehadiran anda selaku CEO." Ucapan Tomi memupus harapanku, aku menyugar rambut kebelakang.
"Jam berapa penerbanganku?"
"Jam 2 tuan, itupun dengan jet pribadi anda mengingat waktu kita yang sempit."
Aku menggeram, yang benar saja. 1 jam lagi penerbanganku, aku belum pulang kerumah untuk sekedar pamit pada Maya.
"Siap-siap gajimu aku potong bulan ini!" Ancamku sebelum panggilan aku tutup.
Tomi menegang saat mendengar gajinya akan dipotong bulan ini. "Kenapa gajiku di potong tuan?!" Dia hanya bisa berbicara saat panggilan sudah ditutup secara sepihak oleh tuannya.
Kini yang aku pikirkan adalah menghubungi Maya dan pamit padanya melalui telepon, aku merindukannya jika saja ia tau.
Drrtt... Drrt... Drrtt...
Ponsel Maya berdering ada panggilan dari suaminya disana, sejenak maya menatapnya. Membiarkan 2 panggilan tidak terjawab hingga panggilan ketiga maya mengangkatnya.
"Aku tadi sedang di kamar mandi." Bohong Maya padahal sedari tadi dia menatap ponselnya.
Aku bernafas lega mendengar jawaban maya "Oh, aku kira ada apa. Mommy membuat Daddy khawatir."
Sambil menunduk Maya menghela nafas pelan berharap sesak dihatinya bisa hilang, ia berusaha menahan diri agar bisa terlihat biasa saja. Padahal hatinya remuk, mengingat foto Jack dengan Siska ditambah tadi pagi dia mendengar percakapan Jack dengan Tomi.
Jack bukan pergi untuk bekerja, tapi pergi bersama Siska. Maya masih berusaha untuk mempercayai Jack, berharap semua hanya salah paham. Tapi semakin kesini semakin sulit rasanya untuk berdamai dengan hatinya.
Maya terdiam cukup lama tanpa berkata apa-apa hingga aku kembali memanggilnya. "Mommy, kau mendengarku?"
Maya tersentak dari lamunannya "Ah ya, maaf Mommy sedikit melamun tadi, Mommy mendengar Daddy dengan jelas!"
Apa yang kamu lamunkan? Tapi pertanyaan itu hanya diucapkan dalam hati, tidak secara langsung. Aku menyadari sikap Maya yang aneh mungkin karena waktu bersama kami berkurang. Kuharap dia tidak memikirkan hal aneh tentangku.
"Maaf... Sepertinya Daddy tidak pulang untuk seminggu kedepan. Ada jadwal dinas ke Seattle dan tidak bisa diwakilkan. Daddy minta maaf karena tadi pagi sudah membentak Mommy, jangan berpikir macam-macam. Ok!"
Maya meremas ujung dress rumahannya ketika mendengar suaminya yang tidak bisa pulang selama seminggu, apakah Jack bersama Siska selama seminggu nanti?
Segala macam pikiran buruk kini memenuhi kepalanya, dengan bibir bergetar maya berusaha tegar "Aku belum menyiapkan barang-barang Daddy untuk dinas kali ini."
"Tidak perlu, penerbanganku 1jam lagi. Karena itu daddy pamit pada Mommy lewat telepon, Tomi yang akan mengurus keperluan daddy nanti." Jelasku pada Maya agar dia tidak perlu khawatir tentang keperluanku.
"Dengar, semua sudah baik-baik saja. Mommy hanya perlu tau kalau Daddy sangat mencintai Mommy! Sudah ya teleponnya Daddy tutup, Daddy harus ke Bandara dulu. Bye Mommy!"
Tak terbendung lagi, bulir bulir kristal itupun akhirnya turun membasahi pipi Maya. Sesakit apapun cobaan yang harus dia lalui saat ini tidak bisa merubah kenyataan bahwa hatinya hanya untuk Jack. Ia sangat mencintai pria itu... Suaminya.
"Ya, aku juga sangat mencintaimu." Maya berucap ketika panggilannya sudah terputus.