My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 68



"Saya baru tau ada sisi unik pada Tuan Adinata." Tomi takjub dengan apa yang ia lihat saat ini. Catherine terkekeh melihat wajah melongo Tomi.


"Ayah bisa lebih parah dari itu, kurasa jahilnya Mia menurun dari kakeknya. Aku sempat malu mempunyai Ayah sepertinya,"


"Benarkah?"


"Ya, kadang Ayah tidak tahu tempat," ucap Catherine sambil mengunyah cemilan. Tomi baru menyadari ia sesantai ini berbicara dengan Catherine. Hatinya menghangat, timbul pengharapan lebih dari ini.


Tatapan Tomi jatuh pada bibir seksi Catherine, sungguh menggoda. Bibir yang tidak berhenti mengunyah yang sesekali menjilat sisa cemilan yang tertinggal mengalihkan semua perhatian Tomi.


"Pasti manis sekali," gumam Tomi.


"Apa? Apanya yang manis?" Catherine mendengar gumaman Tomi membuat Tomi terkesiap.


"Ah, itu cemilannya pasti manis sekali," jawab Tomi salah tingkah. Ia menundukkan kepalanya menutupi wajahnya yang memerah hingga telinga. Tomi merutuki apa yang sempat terlintas di benaknya.


Catherine menatap bingung pada cemilannya.


Kripik kentang, manis? mungkin rasa baru. Aku akan mencobanya lain kali, Batin Cath.


Catherine kembali melahap kripik kentang kesukaannya.


🌷🌷🌷


Aku memeluk erat tubuh Maya sesudah percintaan kami yang panjang, rasanya tidak pernah cukup untukku bila sedang bersama Maya. Aku ingin selalu disisinya, bermanja-manja dengannya, terus memeluknya seperti ini... sungguh nyaman. Aku tidak mau kerja, aku mau di ranjang seharian bersama Maya.


Hari sudah senja saat ku buka gorden kamar. Terlihat langit hampir menghitam sempurna, matahari yang masih sedikit mengintip memberikan pemandangan indah. Mungkin Tomi saat ini sudah pulang, aku akan mengabarinya esok hari. Aku kembali menaiki ranjang, menelusupkan lenganku diantara pinggang ramping Maya dan merengkuh mimpi bersama.


Keadaan mood ku tidak berubah, harusnya aku bangun pagi dengan suasana hati yang cerah ceria namun tidak. Aku merasa kesal, ingin marah-marah tapi mereda jika berada dipelukan Maya.


Keesokan harinya, Maya lebih dulu bangun dan melihatku masih tertidur pulas. "Daddy... Ayo bangun. Sudah waktunya ke kantor, jangan tiduran terus!"


Maya mencoba melepaskan pelukan ku. Aku tidak bergeming, aku masih setia mengeratkan pelukan. Maya tidak habis pikir dengan tingkah aneh ku. Maya tidak kehabisan akal, tiba-tiba ia menciumku memancing ku untuk membalas. Pelukanku merenggang, Maya langsung bangkit pergi meninggalkan aku yang masih bergairah.


"Sayang... kok pergi... tanggung neh!" Aku memelas.


Maya tidak menghiraukan aku. Mood ku kembali buruk, aku menggulung tubuhku dengan selimut dan menutup kepala ku dengan bantal. Aku benar-benar kesal.


Maya menuruni tangga menuju dapur, disana ada Nyonya Caroline sedang membuat teh.


"Ibu... maaf aku kesiangan, Jack tingkahnya aneh." keluh Maya.


"Sejak kemarin emosinya naik turun, ngambek ga jelas... kaya anak kecil Bu. Maunya dipeluk terus, Jack belum pernah seperti ini sebelumnya. Sampai sekarang pun ia tidak mau beranjak dari ranjang."


Nyonya Caroline mengeryitkan keningnya, aneh... Ada apa dengan anaknya itu. Ia memilih menghampiri aku ke kamar.


"Jack, kamu apa-apaan... bangun!!" Nyonya Caroline menarik selimut.


"Apa seh Bu, jangan ganggu aku!!" Gerutu ku.


Ibu tidak menghiraukan gerutuan ku, ibu menarik tanganku untuk bangkit dari ranjang. "Bangun! Sudah siang, kamu kenapa seh? Maya sampai mengeluh menghadapi sikap mu ini! Kamu mau Maya pergi lagi karena tidak tahan??"


Aku terhenyak mendengar kata Maya akan pergi, aku beranjak dari ranjang dan berlutut memeluk kaki Ibu.


"Jangan Bu, jangan biarkan Maya pergi lagi Bu... aku tidak tau kenapa aku begini... aku juga bingung," Aku menangis, rasanya sedih sekali. Ibu kaget melihatku menangis.


"Ya ampun... Ada yang tidak beres!" Ibu berseru menanggil Maya, Maya datang dengan terpogoh-pogoh.


"Daddy... kenapa menangis?" Maya memekik, aku segera menghambur memeluk dirinya.


"Jangan pergi... aku mohon... jangan pergi!" aku merengek.


"Iya, Mommy tidak akan pergi, Mommy akan terus disini!" Maya menepuk-nepuk punggungku untuk menenangkan.


Setelah aku tenang tidak lama aku tertidur. Maya memandangku khawatir, Ibu menarik Maya untuk keluar kamar.


"Ikut Ibu kerumah sakit"


"Ke rumah sakit? Ibu sakit?"


"Tidak, Ibu hanya ingin memastikan sesuatu."


Maya hanya pasrah mengikuti keinginan Ibu mertuanya.


Beberapa part lagi menuju ending.


Please rate, vote dan likenya yach!!


Tinggalkan jejakmu dengan komentar agar aku lebih baik lagi, enjoy!