
“Tapi... tapi masalahnya adalah tidak akan berpengaruh bila sejak awal nona Siska sudah tidak perawan.” Setelah mengangkat ku tinggi ke awan Tomi langsung menghempas ku ke dasar neraka. Perkataan Tomi yang terakhir seolah memupus harapan akan solusi masalah ini.
“Kamu bukan memberi solusi, tapi memperkeruh!” Hardikku pada Tomi sontak membuatnya berdenjit.
“Sabar tuan, saya punya ide!” Tomi menyeringai mendekatkan diri dan membisikkan sesuatu padaku. Aku langsung membelalakkan mata, idenya cukup extreme. Tapi patut dicoba, dan ini menentukan langkahku selanjutnya.
🌷🌷🌷
Di sekolah
Siska terdiam sambil menatap Maya yang sedang menjemput anaknya dibalik kemudi mobil. Siska memperhatikan dari jauh, meneliti Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki seraya membanding-bandingkan dengan dirinya.
Maya memang manis meski kalah cantik dengan dirinya, namun Siska akui senyumannya membuat iri. Penampilan sederhana yang malah membuatnya anggun, Siska mengingat Jack yang berkata lebih menyukai penampilannya yang sederhana.
Ah pria itu, dengan sengaja ia jebak. Meski kenyataannya adalah mereka tidak melakukan apapun malam itu. Siska hanya memandanginya saat tertidur sambil mencuri kecupan kecil dibibir Jack. Siska sudah gila, gila karena dengan sadar mengikuti keinginan ayahnya. Ayahnya yang haus akan jabatan dan harta, tidak perduli usahanya merugikan orang lain atau tidak.
Semua karena Siska dibutakan oleh cintanya, entah itu benar-benar cinta atau obsesi semata. Sejak bertemu langsung dengan Maya Siska tau dia sudah kalah sebelum berperang. Kepribadian Maya yang sama baiknya dengan Jack membuat mereka serasi bagai botol yang menemukan tutupnya.
Tapi apa dia ingin menyerah? Tidak... semalaman berdua dengan Jack meski hanya menatapnya menumbuhkan rasa ingin memiliki. Pria rupawan itu, ingin ia miliki. Pria yang begitu sempurna dimata Siska.
“Aku tidak keberatan berbagi suami denganmu, Maya.” Siska bergumam sambil terus menatap Maya di kejauhan.
Drrt...drrtt
Ponsel Siska bergetar ada pesan masuk disana.
“Aku ingin membicarakan masalah kita lebih lanjut, bisakah kita bertemu akhir pekan ini?”
Mata Siska berbinar, setelah kemarin meratapi kepergian Jack yang membuatnya sakit hati. Kini Jack mengajaknya untuk bertemu, apa mungkin Jack mau menerima tawarannya untuk menikahinya?
Dengan secepat kilat Siska tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Siska segera membalas pesan Jack bahwa dia bersedia untuk bertemu. Seperti mimpi dia akan berkencan dengan Jack layaknya sepasang kekasih.
“OK, terserah kamu saja.”
Siska tersenyum bahagia Jack membalas tiap pesannya, seperti anak SMA yang baru mengenal cinta Siska uring-uringan.
“Aku... aku sebaiknya ke salon sekarang, untuk melakukan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku harus tampil secantik mungkin untuk Jack!” Siska bergumam sambil berkaca di kaca spion mobilnya.
Siska langsung menyalakan mobilnya dan berbalik arah menuju salon langganannya, ia terus bersenandung disepanjang jalan.
🌷🌷🌷
Adinata Group
“Kamu yakin ini berhasil Tomi?” Aku sedikit ragu, rencananya mengharuskan aku mendekati Siska.
“Ya mau bagaimana lagi tuan, tidak mungkin dia mau jika tuan langsung mengajaknya tes keperawanan. Baiknya tuan mendekatinya dulu, kemudian membujuknya memeriksakan diri ke rumah sakit. Bilang saja tes kesehatan untuk pengantin baru pada umumnya, tanpa ia ketahui bahwa tes itu adalah tes keperawanan. Saya sudah mengatur dokter dan jadwal pelaksanaannya, tuan hanya tinggal mengikuti saja” Jelas Tomi panjang lebar.
“Tapi ini sungguh sangat beresiko, bagaimana jika Maya tau? Dan dia salah paham, bahwa aku hanya sedang bersandiwara.” Sanggah ku.
“Hm, tenang saja tuan. Saya pastikan nyonya tidak akan tau!” Tomi berkata dengan mantap.
Drrt... drrt.. drrtt
Ponsel ku bergetar ada sebuah panggilan, aku meraihnya dan menatap siapa yang menelepon. Ibu, ada apa ibu menelpon ku?
Please rate, vote dan likenya yach...!!!
Enjoy!!