My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 56



Bandung


Maya akhirnya tertidur dipelukanku karena terlalu banyak menangis, aku mengusap pipinya lembut dan mengecup bibirnya sekilas.


"Akan ku pastikan, ini adalah yang terakhir kau menangisiku Maya..."


Bibi Indah menghampiriku dengan raut wajah yang ramah tidak seperti tadi. "Kamar Maya masih ditempat yang dulu jika kamu mau memindahkannya."


"Terima kasih Bi," aku tersenyum penuh haru karena Bibi terlihat sudah tidak marah padaku.


Aku pun beranjak dari sofa sambil menggendong Maya menuju kamar di lantai atas, Bibi Indah terus melihatku dari jauh.


"Semoga kamu tidak bersedih lagi, Nak..."


Setelah aku tidak terlihat dari pandangannya, Bibi Indah pergi ke taman untuk menghampiri Mia.


🌷🌷🌷


Aku merebahkan Maya di ranjang kamarnya, kamar yang Maya tempati sebelum menikah denganku. Wangi khas Maya menyeruak dari tiap sudut kamar, aku menghirup dalam seolah itu oksigen untukku.


Aku duduk di sisi ranjang sambil menatap rindu pada istri manisku.


"Jangan pernah pergi lagi sayang, aku bisa gila jika kau meninggalkanku," aku menggapai tangan Maya dan mengecupinya kemudian mencium keningnya lembut.


Maya tidur pulas tidak bergeming dengan ciumanku, aku tersenyum tipis dan meninggalkannya di kamar. Aku juga rindu matahariku, aku mencarinya di taman.


"Daddy... sini!" Mia berseru ketika melihatku mendekatinya, Bibi Indah menoleh dan kemudian berdiri hendak pergi.


"Bibi mau kemana? Disini saja... Kita bisa berbincang," aku berusaha menahan Bibi yang seperti menghindar dariku.


"Nanti saja bila Paman Bagas sudah pulang, Bibi mau menyiapkan makan malam dulu," tanpa menunggu lama Bibi segera meninggalkan aku dan Mia.


"Sini Daddy, duduk di sampingku," Mia menepuk kursi sebelahnya yang kosong.


Aku tersenyun dan mendaratkan bokong di kursi itu. "Bagaimana kabarmu, matahari Daddy?" Aku mengusap lembut rambutnya.


Mia melihatku dengan binar bahagia. "Kabarku bahagia akhirnya Daddy datang menjemput aku dan Mommy," Mia mengeluarkan coklat yang ia kumpulkan dari tas kecilnya. "Ayo kita makan coklatnya sama-sama Daddy!"


Melihat coklat yang banyak tiba-tiba aku teringat pria asing itu. Timbul perasaan panas dalam hatiku.


"Banyak sekali coklatnya, Daddy tidak memberi sebanyak itu," pancingku.


"Hm... Memang bukan dari Daddy semua," Mia berbicara sambil mengunyah coklat. "Enak sekali... ayo Daddy makan!" mulut Mia penuh dengan coklat hingga giginya berwarna coklat semua.


Aku gemas, akhirnya menggigit coklat yang ada di tangan Mia. "Ish Daddy, ambil sendiri donk... Ini punyaku!" Mia melotot.


"Kan tadi Mia suruh Daddy makan, ya sekarang Daddy makan," aku tersenyum jenaka.


"Lalu dari siapa coklat yang lainnya?" Aku masih penasaran pada pria asing itu. Sedekat apa mereka, karena Mia tidak akan menerima pemberian orang yang tidak dekat dengannya. Memikirkan itu membuat darahku mendidih.


"Hm... sebentar Daddy... ah Daddy aku kan sedang menikmati rasa coklat yang enak ini," Mia menggerutu.


"Tinggal jawab aja kok, nanti Daddy belikan lagi lebih banyak," Padahal coklat yang ada pada Mia masih banyak, ada 6 batang tapi mendengar Daddynya mau membelikan lagi membuat Mia tersenyum senang.


Asik!!!, bisa aku bagikan ke teman-teman nanti di sekolah. batin Mia.


"Aku minta 1 pack ya Daddy!!" Mia menawar sontak membuat mataku membola.


"Sebanyak itu. Untuk apa? Mia mau jualan?"


"Aduh, hampir Mia tersedak!... Ih Daddy aku mau bagikan ke teman-temanku," Mia hampir tertawa tadi mendengar Daddynya mengira Mia ingin berjualan.


"Tapi boleh juga tuh, jualan coklat!" Mia bergumam.


Aku sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Mia kembali bertanya. "Iya tenang saja, pabriknya kalau perlu Daddy beli buat kamu."


"Ga usah sama pabriknya Daddy, berat!!"


Aku tergelak, benar-benar menggemaskan anakku satu ini.


"Yang kasih coklat aku setiap hari Om ganteng," Mia nyengir memperlihatkan giginya yang terdapat banyak coklat.


"Datang setiap hari?!" Mia mengaggukkan kepala.


"Tidak selalu coklat seh, kadang marsmallow, pudding sama cookies," Mia kembali menyuap coklat. "Pokoknya yang aku suka... Om ganteng juga sering ngobrol sama Mommy sambil nemenin aku main."


Mataku menyipit, ekspresiku menggelap aku hanya bisa menahan emosiku yang meluap-luap. Pria itu punya maksud yang tidak baik, aku tau itu. Dia mendekati Mia mengambil hatinya sekaligus mau memikat Maya.


Kurang ajar!!!


Mia melihat raut muramku dan tersenyum jahil. "Daddy cemburu yaaa...??"


Aku menoleh pada Mia "Tentu saja, Daddy tidak suka ada pria asing yang mendekati kalian!!" Aku mengusap pipi Mia, "Karena kalian milik Daddy, hanya Daddy."


Mia tersenyum manis dan memelukku. "Tentu saja, Daddyku hanya Daddy Jack."


Terima kasih sudah membaca


Please rate, vote dan likenya!!!


Sertakan comentnya sebagai respon reader pada novel ini agar lebih baik lagi.


Enjoy**!!