
“Beruntungnya istri Jack, dengan orang lain saja dia hangat dan ramah. Apa lagi dengan istrinya, membayangkannya saja sudah bikin iri.”
“Jangan iri nona Siska, masih banyak pria lajang yang pasti langsung terpikat dengan Nona Siska dan mungkin lebih baik dari pada tuan Jack.” Tomi memberi semangat pada Siska agar tidak minder. Tanpa Tomi sadari perkataannya membuat sisi sombong Siska bangkit.
Ya, dia cantik. Menarik dan Sexy. Pria manapun pasti terpikat padanya. Tidak terkecuali Jack, Jack pasti akan jatuh dalam pelukannya. Tapi Jack sudah punya istri juga anak, apa kata dunia jika aku jadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain.
Sisi baik Siska sedang bertarung dengan sisi buruk Siska dalam hatinya.
Tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku wanita terpelajar, bukan gayaku merebut suami orang. Sepertinya mulai saat ini dia harus belajar melupakan Jack, mengubur perasaannya yang baru saja berkembang menjadi bunganya yang cantik. Ya... lupakan. Bersikaplah profesional, jangan memalukan diri sendiri. Tekad Siska dalam hati.
🌷🌷🌷
Kediaman Jack Adinata
“Daddy yakin tidak masuk kerja??” Maya meyakinkan kembali keputusan suaminya yang ingin meliburkan diri selama 2 hari.
“Iya ratuku.” Jack berucap setengah menggoda Maya setelah dia mengantar Mia ke sekolah.
“Apaan seh ratu-ratu. Emang zaman kerajaan.” cebik maya.
“Ayo cemberut lagi, aku lumat habis bibirnya mau?” Aku menyeringai membuat Maya bergidik ngeri.
“Daddy ih, bercanda melulu. Aku mau pergi ke supermarket.” jawab Maya kikuk dan berjalan menjauhi ku. Baru satu langkah aku segera menarik tangannya hingga tubuh maya berbalik dan menubruk tubuhku.
“Aku antar, hari ini hamba akan melayani ratu seharian.” Sambil menarik tubuhnya agar semakin merekat denganku.
“Sebelum itu, ada baiknya kita olah raga pagi ratuku.” Maya memekik kaget ketika aku menggendongnya bridal dan langsung membawanya ke kamar. Kesempatan langka tidak akan aku lewatkan. Karena jika biasanya aku saat ini dikantor berkutat dengan berkas maka dirumah di waktu yang sama aku berkutat membuat adik untuk Mia.
Aku mengusap-usap lembut perut rata Maya setelah menuntaskan misi yang tertunda karena kesibukanku. Aku pun ikut tertidur sambil memeluknya dari belakang. Sebelumnya aku sudah memasang alarm waktu menjemput Mia pulang sekolah.
🌷🌷🌷
Brak
Suara kap depan mobil ditutup, mobil Siska mogok dan dia sama sekali tidak mengerti masalah mesin mobil. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba meminta bantuan pada orang lain. Tapi jalanan itu sepi.
*K*enapa mogoknya di tempat sepi seh?
Siska agak merinding, meski waktu masih siang tetap saja menyeramkan. Mengingat sekarang banyak tindak kriminal dilakukan pada siang hari ditempat yang cukup sepi. Dan saat ini Siska berapa di jalan yang sangat sepi, bukan cukup sepi. Dia berusaha menelepon montir langganannya tetapi tidak kunjung diangkat.
“Ya Tuhan, angkat donk!!”
Tidak jauh Siska melihat sebuah motor menghampirinya. Terdapat 2 pria menuruni motor tersebut, Siska langsung merasakan bahaya mengancam. Dia mengeratkan genggamannya pada tas yang menggantung di kanan pundaknya.
Kalau itu begal bagaimana?? Apa aku serahkan saja tas ini. Dari pada dibunuh?? Semua pikiran buruk memenuhi kepalanya.
“Kenapa neng?? Kok sendirian?? Mobilnya mogok??” Salah satu pria itu bertanya. Entah pertanyaan tulus atau tidak yang jelas raut wajah mencurigakan bisa Siska lihat di kedua pria tersebut. Siska hanya diam tidak menjawab, memundurkan langkah perlahan. Apa dia kabur saja?
“Klo orang nanya itu dijawab neng... gak sopan! Cantik-cantik kok sombong.” Pria satunya lagi menyahut dengan nada yang cukup tinggi. Fix, 2 orang ini bukan orang baik. Terdengar dari kata-kata provokasinya seolah Siska yang memulai percakapan yang akhirnya menyinggung mereka. Siska sudah bersiap akan lari ketika salah satu pria itu mengeluarkan pisau dari jaketnya. Namun tiba-tiba...