My Perfect Life

My Perfect Life
MPL 49



Apartement Siska


Klik 


Pintu pun terbuka menggunakan kartu yang ada di tas Siska, memang tidak sopan mengambil tanpa seijin yang punya. Tapi bagi Herman asal dia tidak mencurinya itu tidak masalah. 


Herman merebahkan Siska di ranjangnya, dia mengusap tengkuknya pegal. 


"Cantik-cantik kok bisa patah hati? Bukannya pasti banyak yang menaruh hati padanya?" Herman hanya bisa bertanya-tanya sambil memandang wajah cantik Siska. Wanita sepertinya ternyata bisa patah hati. 


Herman mengambil secarik kertas dan pulpen yang selalu ia bawa, ia menuliskan sesuatu di kertas tersebut dan menaruhnya di atas nakas ranjang. 


Kemudian dia pergi meninggalkan Siska yang tertidur pulas. Sebelum menutup pintu, Herman masih sempat menatap kembali Siska dan menggeleng-gelengkan kepalanya. 


Jangan kembali lagi ke tempat laknat itu, karena belum tentu aku bisa menolongmu lagi. Bathin Herman.


🌷🌷🌷


Cahaya matahari menelusup gorden kamar tersebut, menerpa wajah cantik seorang wanita yang masih terlelap. Dengan pelan ia mengintip, menyipitkan matanya yang masih sulit terbuka karena kantuk. 


Tangannya meraba sekitar ranjang secara membabi buta, mencari sesuatu yang seolah sangat penting. Detik kemudian matanya terbuka dengan lebar, ia segera bangkit dan menengok kesana kemari. Ia bernafas lega ketika melihat tas tangannya masih dalam keadaan utuh beserta isinya. 


Sesuatu menarik perhatiannya, secarik kertas di atas nakas. Siska membaca tulisan yang ada di secarik kertas tersebut


Jangan mabuk lagi jika hanya bisa menyusahkan orang lain! Tubuhmu berat.


Mata Siska membesar sambil menutup mulutnya yang menganga takjub, dia diantar oleh seseorang dan orang itu mengeluhkan berat badannya.


Siska benar-benar malu.


🌷🌷🌷


Bandung


"Mia... Om datang neh!" Seru Angga yang baru saja datang ke rumah Paman Bagas.


"Coba tebak?" Angga tersenyum jenaka membuat Mia terkekeh geli.


"Coklat!" 


"Yup, jawaban benar." Angga segera memperlihatkan 3 batang coklat kesukaan Mia.


"Asikkk, Om hebat!Tau klo Mia lagi incar coklat itu," Mia baru melihat iklan coklat yang Angga bawa tadi pagi. Pucuk dicinta ulam pun tiba Angga benar-benar membuat Mia senang.


"Mia, jangan begitu... bilang apa dulu sama Om??" Maya mengingatkan.


"Eh iya, terima kasih ya Om." Mia berucap sambil membungkukkan badan di depan Angga.


Sikap Mia yang penurut membuat Angga semakin kagum pada Maya. Angga tersenyum dan memeluk Mia sambil mencium pipinya gemas. 


"Hahaha, geli Om." Mia menjauhkan wajah Angga darinya dan dengan wajah sendu Mia memeluk Maya.


"Aku kangen Daddy, kenapa Daddy belum jemput kita ya? Padahal udah lama lho kita liburan disini..." Maya membeku, tubuhnya menegang mendengar pertanyaan Mia.


Sikap Maya tidak luput dari perhatian Angga, menurutnya aneh. Semenjak dia menanyakan perihal cincin Maya tetap tidak memakainya kembali. Lalu suami yang Maya bilang pergi dinas tidak kunjung datang menjemput mereka atau sekedar menyusul. 


Adakah sesuatu yang terjadi antara Maya dan suaminya? Apakah aku harus senang bila memang begitu? 


Melihat raut wajah Maya yang nemucat dan tidak kunjung menjawab membuat Angga iba.


"Daddy Mia sedang banyak kerjaan, nanti bila Om bertemu di kantor. Om akan minta Daddy Mia segera kesini, jadi jangan sedih lagi ya!" Angga berucap lembut sambil mengelus rambut Mia.


Mia pun berbinar senang dan menganggukkan kepala "Iya Om, terima kasih," 


"Sama-sama, ya sudah Mia main dulu ya di taman! Om ada perlu sama Mommy sebentar,"


"Ok!" Mia pun langsung melesat pergi ke taman dengan membawa 3 batang coklat pemberian Angga.