
Seusai makan, Rena pun mengantar ibu nya ke ruang tengah. Ditemani Zeina di sampingnya berjalan beriringan.
"Kenapa enggak duluan Zen-?" tanya Rena melirik Zeina.
"Tidak apa apa, aku masih Agak tidak akrab dengan mereka. Kau tau kan, aku orang nya tertutup. Aku tidak bisa berbasa-basi dan tidak bisa jika tidakke inti nya-" ucap Zeina menjelaskan.
"Iya aku tau, tidak apa. Setidaknya kau bisa terbuka dengan aku dan Bryant-" ucap Rena tersenyum
"Wajar, kalian kan sahabat aku. Tanpa kalian mungkin aku tidak bisa sebahagia ini-" ucap Zeina balik tersenyum.
"Masa masa indah ketika kita baru berkenalan. Haha-" tawa Rena mengingat ketika dirinya dan Zeina saling bertengkar lalu dilerai oleh Bryant.
"Iya, sifat mu yang galak membuat ku kesal-" ucap Zeina tertawa juga
"Kau yang lebih mengesalkan-" ucap Zeina
"Kau-!" ucap Rena
"Kau Ren-! Hanya karena satu kesalahan saja Lo sampai marah marahin gue-" ucap Zeina
"Ya pas gue mau menghentikan perdebatannya Lo manggil gue dan kembali gelud. Yaudah gue mengeluarkan unek unek gue, Untung Lo cewek kalo cowok..baku hantam, pindah alam bisa jadi tuh-" ucap Rena
"Yee, Lo ajah lemah bisa bisa nya Lo gelud Ama cowok-" ucap Zeina tidak percaya
"Dih, kalo gak percaya yaudah-" ucap Rena.
"Gue emang enggak percaya kok, cih-" ucap Zeina
"Uhuk uhuk-" batuk ibu Rena tiba tiba.
"Ibu, ibu tidak apa apa. Aku membawa obat ibu, jika ibu mau aku akan menuangkan air ke gelas-" ucap Rena spontan mengkhawatirkan ibunya.
Ibunya menggeleng pelan, setidaknya ia menjawab dengan fisik dari pada tidak sama sekali.
"Baiklah, maaf Bu, aku tidak fokus dengan ibu karena sibuk dengan perdebatan-" ucap Rena melirik Zeina.
"Apa Lo, mau gue congkel kali ya-" ucap Zeina.
"Udah woi, kalian ini enggak berubah berubah. Masih ajah bertengkar-! Ayah Lo dah nungguin tuh Ren, di panggil malah enggak nyaut-" ucap bryant.
Rena menatap ayahnya dibelakang, terlihat ayah nya dan nenek kakek Vano tersenyum kepada dirinya. Rena pun membalas senyuman, berjalan di belakang kursi roda lalu mendorong nya. Sebelum jarak nya jauh, terlihat Rena menjulurkan lidahnya ke arah Zeina.
"Huu, sempat sempat nya mengejek-" ucap Zeina kesal.
"Udah Zen sabar, emang ada apa sih kok pada ribut ajah. Ngajak ngajak kenapa, hidup gue sengsara gegara enggak pernah bertengkar noh-" ucap Bryant
"Kepo Lo, udah sana menjauh. Jijik gue-" ucap Zeina mendorong tubuh Bryant lalu melangkah pergi
"Huu, sialan lo-" ucap Bryant melayangkan tangannya ke udara tepat di sebelah telinga nya.
"Bryyyaannn, sini loo-" teriak Rena melambaikan tangan dari sisi taman.
"Lah-? Tuh Kunti kok di situ, buseh gue di tinggal-! Woii, tungguin gue. Zeinaa-!" ucap Bryant berteriak sambil berlari alay.
"Gak mau, jauh jauh lo-" ucap Zeina agak berteriak lalu berlari juga tidak mau berdekatan dengan Bryant.
Tanpa mereka sadari, Nean memandang kegiatan mereka dari atas. Ia mencengkram pembatas lantai.
"Tuan-"
"agh-" Kaget Nean langsung berbalik badan.
"M-Maaf tuan, apakah anda terkaget-" ucap Bi Jum
"Tidak apa apa, kenapa-?" tanya Nean
"Anda di panggil tuan di ruangannya-" ucap BI Jum
"Oh ya sudah, terima kasih bi-" ucap Nean melangkah pergi menuju ruangan kerja papa nya.
Ceklek. Nean berdiri didepan pintu ruangan kerja papa nya.
"Masuk-" ucap papanya melirik sekilas lalu mengedarkan pandangannya kembali ke laptop.
Nean menutup pintu, berjalan mendekat ke sofa lalu duduk disana. Sambil melirik papa nya.
"Kenapa pa-?" tanya Nean.
"Apa maksud dari perkataan mu tadi ketika di bawah-?" tanya papa nya.
"Papa tidak tau yang terjadi di rumah ketika papa dan mama di Texas bukan-?" ucap Nean menatap papa nya.
"Apa yang terjadi-? Apa yang terjadi katakan lah, jangan berdiam diri. Selagi papa masih mau mendengarkan alasan mu yang masuk akal, papa tidak akan menyalakan mu-" ucap papa nya menghentikan aktifitas kerja nya.
"Papa dan mama sepertinya membutuhkan pengawal baru untuk mengawasi rumah ini-" jelas Nean.
"Papa di Texas hanya untuk berlibur-! Dan ingin pergi dari masalah rumah ini, oleh karena itu papa tidak ingin bawahan papa menyelidiki semua apa yang terjadi. Sepulang Texas, Vano mengatakan ada yang ingin datang. Oleh karena itu papa tidak sempat menyelidiki semuanya-" ucap papa nya menjelaskan sambil mengerutkan keningnya. Menjelaskan juga membutuhkan tenaga extra, extra bernafas.
"Jadi papa minta tolong kamu untuk menjelaskan semuanya Nean-" ucap papa nya
"Hufft, papa banyak omong..." Ucap Nean menghela nafas sambil menunduk.
"Kejadian dulu..Ketika papa dan mama masih di Texas. Vano sempat menangis karena teman temannya, Teman temannya mengejek ketika Vano menolak ajakan mereka untuk datang ke rumah ini. Fakta yang menyakitkan hadir ketika teman temannya menyatakan bahwa ia memanfaatkan Vano hanya untuk bertemu dengan ku. Aku tau mereka masih anak anak, mencintai dan menyukai itu berbeda ayah. Oleh karena itu, aku ingin mereka fokus kepada pelajaran saja. Demi menghilangkan rasa sedih Vano, aku menyuruhnya untuk belajar privat di rumah. Dan hanya sekali sekali untuk datang di sekolah, tepat pada waktu tadi pagi Vano menginginkan belajar di sekolah. Teman temannya yang membully, kembali membully nya. Teman yang mengejek kembali mengejek nya, ejekan itu tidak berguna untuk Vano. Namun Bullyan itu terus di lakukan sehingga membuat Vano tidak bisa kabur dari teman teman nya, kemudian..Wanita tadi menyelamatkan Vano ketika Vano hendak membully nya-" ucap Nean menjelaskan.
"Vano mengundang nya bukan hanya menganggap mereka teman Nean, mereka itu penyelamat. Aku kira teman Vano itu seumuran, tapi ternyata teman temannya begitu besar haha-" ucap tuan Alvin tertawa.
"Ayah hentikan lah tertawaan mu, Ini sama sekali tidak lucu-!" ucap Nean kesal.
"Biarkan ayah mu tertawa sebentar Nean-" ucap ayahnya tertawa sampai terpingkal-pingkal
"Ayah gila-" ucap Nean berdiri.
"Kau mau kemana-?" tanya ayahnya dalam sekejap menghentikan tawaan nya.
"Turun-" ucap Nean
"Setelah mereka berdiskusi aku tetap ingin berbicara kepada kalian bertiga-" ucap ayahnya juga berdiri.
"Apa maksud ayah-?" tanya Nean.
Ayah nya menunjuk Rena dan nyonya Alvin yang berdiri didepan pintu ruang kerja nya. Nean pun mengedarkan pandangannya ke arah ibu dan wanita disebelah ibunya.