
"Nenek, dimana ibu dan ayah?" tanya Vano menuruni tangga. Ditangannya ada kue Pie yang sedang ia makan, ia sempat menemukan kue itu di atas meja. Yang nyatanya milik orang suruhan rumahnya yang tertinggal. Hampir di makan semut jika ia tak ambil tadi.
"Nenek juga tidak tahu Vano. Kita tunggu saja, ya?" ucap nya.
Vano mengangguk. Ia setuju saja, lagian ia ingin memotong kue dengan kedua orang tuanya. Dimeja juga ada ponsel, pasti seru untuk bermain hp sembari menunggu parent nya.
"Duduk disini dulu. Nenek mau buat cemilan buat mu," ucap nya.
"Oke, cepat ya nek. Vano takut sendirian, hehehe." Cengir nya.
"Iyaa," ucapnya dengan tersenyum. Ia melewati Vano yang sudah mengambil ponselnya dari meja.
Tepat ketika dirinya selesai menekan sandi ponselnya, ada pesan masuk. Ia membukanya dari nomor asing, sejenak ia memikirkan ucapan ayahnya untuk tidak menjawab nomor asing tanpa salam ataupun menunjukkan identitasnya. Namun nomor itu yang terus menghubungi nya membuatnya penasaran.
+62xxxx
Aku minta bantuan mu. Aku ada di sekitar lokasi mu.
Vano
Untuk apa kau kemari??
+62xxxx
Aku mohon datangi aku, jemput aku. Aku tersesat.
Vano
Oke
Vano menarik dalam nafasnya, ia berharap bahwa apa yang dikatakan dalam chat itu benar apa adanya. Ia menaruh kue nya di atas meja. Berjalan keluar menemui si supir yang masih terlihat duduk segar dengan bermain ponsel.
Klek
Suara pintu terbuka itu membuat si supir terperanjat. "Den? apa ada yang bisa saya bantu?" ucap nya dengan memiringkan posisi.
Baru saja Vano mangap mau bicara ada pesan lagi di ponselnya.
+62xxxx
Cepat! aku hanya berjarak 5 meter dari posisi mu. Aku dikejar seseorang.
Vano
Ia aku akan kesana sebentar lagi.
+62xxxx
Datanglah sendiri.
Sebenarnya Vano sempat kesal karena ia terus mendesaknya untuk menemuinya. Ia menatap si supir itu.
"Tidak papa deh pak, saya keluar dulu ya." ucap Vano kembali menutup pintu.
"Tapi den mau kemana??"
Klek
"Rahasiaa." ucap Vano kemudian menutup lagi pintu itu.
Si supir itu yang curiga mengawasi Vano yang berlari menjauh dari rumah. Sontak saja si supir langsung membuka pintu mobil dan mengikuti si tuan muda kecilnya.
****
"Kita mau kemana, tuan??" tanya Rena.
"Ikut saja," ucap Nean yang terus menarik tangan Rena.
Rena cemberut, dirinya harus menampakkan kaki di jalanan yang berlumpur. Bahkan ia hampir saja ketinggalan sepatunya karena nyangkut.
"Sudah, bagaimana? indah kan?" tanyanya dengan tersenyum.
Rena bingung dan kemudian dirinya menatap sekitar. Air murni yang jatuh dari tebing atas yang biasanya di sebut air terjun itu turun dengan derasnya membanjiri permukaan di bawah sana.
"Ini sangat indah tuan! bagaimana ini ada disini!??" ucap Rena yang membuat Nean terkekeh.
"Air terjun ini tersembunyi dari rumah kita,"
"Huh?" ucap Rena bingung.
"Maksud ku rumah keluarga ku, yaaa Air terjun ini ku temui ketika diriku tersesat. Waktu dulu aku tidak nyaman tinggal disini sebab kawasan hutan yang kalau malam mengerikan. Hari kedua setelah aku menginap aku kabur karena kedua orang tuaku memaksa ku tinggal disini. Dan aku menemui air terjun ini," ucap Nean.
"Haha kau sangat nakal, tuan." tawa Rena.
"Kau berani mengatai ku nakal?" ucap Nean menatap Rena dengan tajam.
"T-tidak." ucap Rena gugup
"Dulu aku tidak suka sekali kegelapan, karena isinya sangat mengerikan. Terlebih lagi seolah mata kita ditutup tanpa diperbolehkan untuk melihat benda yang ada di sekitar. Aku takut ada hewan yang mendekat bahkan membunuh ku. Itu lah sebabnya aku marah ketika ada kegelapan." ucap Nean.
"Haha kau sangat lucu, aku jadi terbayang bagaimana wajah mu ketika ketakutan." ucap Rena dengan berkacak pinggang.
Sontak saja Nean yang memalingkan mukanya tadi langsung menatap Rena tajam.
"Apakah kau menggoyangkan tubuh mu kemudian berlari menangis memanggil ibu mu? seperti ini?" ucap Rena yang mempraktekkan sebagaimana pria cengeng yang takut dalam kegelapan dan memanggil ibunya.
"Rena Fahira Maharani." ucap Nean.
"Hahaha, iya iya maaf.." ucap Rena berusaha menahan tawanya.
"Ck, kau menyebalkan." ucap Nean dengan berdecak.
"Aslinya tidak, tapi karena anda mau jadi suami saya saya berani." tawa Rena yang kembali pecah.
"Dosa loh kamu, meledek calon suami." ucap Nean yang seketika menghentikan tawa Rena.
"Saya minta maaf," ucap Rena.
"Hm." ucap Nean.
Canggung... tapi beberapa saat kemudian Rena kembali berbicara.
"Tapi sekarang kau tidak perlu takut, tuan. Karena kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri," ucap Rena.
Nean melirik seolah meremehkan, dilihatnya mata Rena yang tulus kepadanya.
"Oh ya?" ucap Nean menggodanya.
"Ia!" ucap Rena.
"Sudah sudah hentikan! jika kau mendekat nanti kau terjatuh." ucap Rena malah mundur menjauh dari Nean.
"Rena!" Nean menarik nafasnya dan mengejar gadis itu.
****
"Dimana dia? seharusnya tak jauh dari sini kan?" gumam Vano yang sudah lelah berlari.
"Den-" Si supir melototkan matanya ketika menatap seseorang yang membidiknya dengan anak panah.
"Den Vano!!! lari!!" Suara bariton itu membuat anak panah yang tidak jadi ia leset kan malah terlepas karena terkejut.
Tepat ketika Vano memutar tubuhnya secara slow motion ke belakang menatap si supir yang berlari ke arahnya.
Greeppp
Brugghh
"Aaakkkhhh..."
...
"Vano!??" Rena langsung melototkan matanya ketika mendengar suara teriakan Vano.