My Parent'S

My Parent'S
Chapter 34_Pagi-pagi buta



"Mom, mommy?" Panggil Vano mengadah pandangannya ke sana dan kemari. Ia menatap Rumah itu yang sepi. Seolah-olah dirinya saja yang tinggal.


"Mommy dimana? Nenek?" Vano membuka pintu, ia menatap ruangan neneknya yang telah sepi.


"Nenek dimana? mommy.. apa mereka meninggalkan aku?" Tanya Vano.


Pyaar!


Terdengar suara pecahan gelas dari dapur. Vano terkejut, lalu berjalan menuju dapur. Melangkahkan kakinya dengan perlahan.


"Mommy.." Panggil Vano.


Tidak ada sahutan, hanya saja orang itu terdiam di tempatnya yang sedang mengambil pecahan gelas di lantai. Vano berhenti di sampingnya.


"Mommy.. apakah itu kau?" tanya Vano.


Tidak ada sahutan, "Mom.." ujar Vano.


Perlahan, orang itu menoleh ke arah Vano membuatnya menelan salivanya.


"Tidak, mommy!!" Teriak Vano terbangun dari mimpi nya.


Seketika Rena menatap Vano yang bangun dari tidurnya. "Vano, kau baik?" tanya Rena mendekat.


Vano menoleh, ia langsung memeluk Rena dengan jantung yang berdegub kencang. "Sayang, kau kenapa? kau mimpi buruk mengenai mommy ya?" tanya Rena.


Vano mengangguk di dada Rena, membuat Rena hanya tersenyum. Menaruh dagunya di pucuk kepala Vano, dan mengusap punggungnya.


"Itu hanya mimpi, jangan di anggap serius. Dan tidak akan pernah terjadi, percalah kepada kakak." ujar Rena.


Vano menggeleng,"Jangan tinggalkan aku sendiri mom. Aku ingin tinggal dengan mu, dan juga Daddy." ujar Vano mulai berkaca-kaca.


Rena terdiam di tempatnya, ia menatap wajah Vano yang sudah basah akibat tangisan kecilnya.


"Masalah itu, jangan di pikirkan. Ayo kita tidur, oh ya. ibu tadi.. eh maksud ku, kakak tadi sudah membuatkan susu untuk mu. Kau mau minum susu sebelum tidurkan?" tanya Rena.


Vano mengangguk, membuat Rena tersenyum. Ia mengambil susu yang panas yang sengaja ia dinginkan di atas nakas. Lalu memberikannya ke Vano.


"Hati-hati, kakak membuatnya 10 menit yang lalu. Itu masih terlalu hangat untuk diri mu, biar aku yang meniupnya." ujar Rena. Vano menggeleng dan menjauhkan gelas susu miliknya dari Rena.


"Lidah mu akan terbakar Vano," ujar Rena.


Vano tetap menggeleng, ia menatap susu yang di buatkan oleh Rena.


"Ada apa? Kau tidak menyukainya?" tanya Rena.


"Bukan.. aku pertama kali minum susu,"


Uhuk, uhuk!


Seketika Rena langsung tersedak karena omongan Vano. Entah itu karena apa, ia langsung terbatuk dan membutuhkan air sekarang juga. Vano menyodorkan susu itu, seraya mengatakan. Minum susu ini.


Rena menggeleng, mencari gelas lainnya di samping nya. Dengan cepat, ia meminum gelas putih itu dengan perlahan.


"Ahh.. akhirnya lega." gumam Rena


Ia meletakan gelas itu terlebih dahulu, lalu menatap ke arah Vano yang terdiam


"Vano, bagaimana kau bisa pertama kali minum susu?" tanya Rena.


"Karena aku tidak tahu, kapan dan dimana.. aku terakhir minum susu. Dan aku rasa, ini aku pertama kali minum susu sebelum tidur. Terkadang, ayah memberikan air putih untuk imun tubuh ku." ujar Vano.


"Oh ya? Lalu, apa kau tidak mengompol?" tanya Rena.


"Mommy, bagaimana kau bisa tahu jika aku mengompol di pagi harinya. Itu lah yang aku maksud, entah bagaimana prosesnya celana ku bisa basah saat itu." ujar Vano.


Rena terdiam, namun otaknya bekerja semakin keras. Namun beberapa saat kemudian, ia hanya mengedikkan bahunya lalu hanya tersenyum kecut.


"Aku akan mencari tahu mengenai itu, sekarang tidur lah. Selesaikan dulu minuman mu," ujar Rena.


Vano pun mengangguk kecil, lalu meminum susu yang hampir dingin itu dengan cepat. Memberikan gelas kosong ke Rena dan mulai berbaring. Rena berselonjor lalu mengelus rambut Vano, ia mengecup kening Vano dengan sayang.


"Mommy, tinggal ah dengan Daddy.." pinta Vano.


"Vano kenapa kau belum tidur, tidur lah. Mommy.. akan menjaga mu malam ini, ya?" ujar Rena.


Vano memejamkan mata, perlahan-lahan Rena membaringkan tubuhnya di sebelahnya. Ia memeluk Vano, dan mulai terpejam.


***


Drrtt drrrtt..


Dengan cepat, Rena mengangkat telepon entah dari siapa pagi-pagi buta ini. Ia mengusap matanya dan menguap. Lalu bersandar di headboard kasur.


"Halo," ujar Rena.


"Halo Rena, apakah Vano bisa tidur dengan baik? Ia tidak rewel kan?" Tanya Nean.


Rena memejamkan matanya menguap, lalu melirik ke arah Vano. Ia mengelus rambut nya sayang.


"Rena?"


"Iya, dia sudah tidur." ujar Rena.


"Maafkan aku karena menelpon mu pagi-pagi buta seperti ini, aku benar-benar cemas akan dirinya. Kalau kau mengantuk, kau bisa tidur dengan baik." ujar Nean.


"Eng, iya.. terserah kepada mu." ujar Rena kembali membaringkan tubuhnya.


"Baiklah, selamat malam.." ujar Nean.


Rena hanya mengangguk, lalu meletakkan hape nya di nakas. Ia tidak mematikan teleponnya, karena ia pikir. Nean sudah mematikannya.


....


Pagi harinya, Rena telah selesai beribadah subuh. Ia menoleh ke kiri, lalu di lanjutkan ke kanan. Dan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Pertanda, ibadahnya sudah hampir berakhir.


Pyaar!


Rena terkejut, ia langsung beranjak dari posisinya. Melepas mukenah nya dan menoleh ke arah Vano. Sejenak ia diam di tempatnya.


"Siapa disana?" Lirih Rena.


Ia membuka pintu kamarnya, di luar kamarnya sangat gelap. Ia takut untuk keluar, tapi suara itu terus berdatangan membuat nya mau tidak mau harus siap siaga.


"Siapa disana!!" bentak Rena.


Ia mengambil kemoceng, lalu berjalan mendekat ke arah dapur.


Klak!


"Siap— Emmmmm!!!"


Rena meronta, ia di pojokan bersama seseorang di depannya.


"Ssttt, jangan berisik! Ini aku Nean,"


Rena membelalakkan matanya, untuk apa ia kemari terlalu pagi seperti ini? Apa lagi..


Rena langsung mendorong tubuh Nean dan menghela nafas sebanyak-banyaknya.


"Tangan mu bau sampah, apa kau tidak mandi?" tanya Rena.


Nean mencium tangannya sendiri, dan menghirup bau di tangannya.


"Aku sudah mandi.." ujar Nean.


Rena menghela nafas, ia pun menatap Nean dengan malas.


"Tuan Nean, jika kau bertindak seperti ini lagi. Aku akan melaporkan mu ke polisi, kenapa kau datang disini sangat pagi? Jika ayah ku tahu kau disini, ia pasti akan mengusir mu ke luar! Apa kau tidak bisa membayangkan, se-mengerikan bagaimana ayah ku itu hah? Untung aku yang ada disini, jika ayah ku.. kau akan di seret di penjara. Mengerti?!" ujar Rena dengan marah.


Ia meninggalkan Nean di dapur sendirian .Tercengo dengan ucapan Rena.


"Cerewet," gumam Nean memutar bola matanya malas.