
Hingga pagi hari...
Nean kembali dengan keadaan lesu, pakaian yang semula nya rapi dan akan pergi bersama teman temannya kali ini sudah berantakan. Mata panda yang di sebab kan kekurangan istirahat, sudah mulai terlihat di mata nya.
Orang tua nya yang tengah sarapan pun langsung tersedak ketika menatap penampilan Nean. Ibunya langsung menghampiri Nean dan memegang kedua pipinya. Menatap sekujur tubuhnya yang lusuh itu.
"Ada apa Nean? Kenapa kau begini..Apa yang terjadi, huh?" tanya nya dengan khawatir.
"Ya Nean, jika kau ada masalah kau bisa mengatakannya kepada kami." ucap ayahnya berdiri di samping istrinya.
"Vano tidak di temukan Bu...aku takut..anak buah ku juga tidak menemukan dimana dia.." ucap Nean dengan lemah dan ambruk di lantai. Kesalahannya karena mengabaikan anak itu.
"Anak buah mu tidak memberitahu mu dimana Vano sebenarnya?" tanya ibu nya berusaha tenang.
"Memberitahu apa! Semuanya tidak becus, hiks-!" tangis nya sambil memeluk lutut nya dan menunduk.
Mereka yang semula nya tenang pun langsung salah tingkah ketika anak nya tiba tiba lemah seperti ini.
"Nean, ia akan kembali. Kau tenang lah, jangan begini. Berdiri lah, lantai nya dingin nak." ucap ibunya berjongkok di depan anak nya.
"Vano Bu ... hiks hiks. Aku tidak bisa menjaga amanat nya, aku gagal ... " tangis nya dengan lemah.
"Kau tidak gagal, dia akan kembali. Percaya lah kepada ibu, jika Vano melihat mu seperti ini. Dia pasti akan sedih nak," ucap ibunya menenangkan.
"Nean! Berdiri lah, bersihkan tubuh mu dan istirahat lah." tegas papa nya sudah pusing melihat keadaan anak nya yang lusuh itu. Ia bahkan memijat keningnya, tak menyangka jika kehilangan satu manusia saja membuat Nean melemah.
"Vano Bu.. " ucap Nean curhat tetap melanjutkan tangis nya.
"Berdiri lah nak, Vano akan kembali. Biar ibu bantu," ucap ibu nya mengangkat lengan Nean. Nean pun berdiri lalu berjalan bergoyang dan lesu menuju kamar nya.
"Mama tidak menyangka pa, sikap Nean akan seperti ini." ucap nya menggelengkan kepala nya.
"Sudah lah ma, biar dia kapok dulu bagaimana rasanya kehilangan anak nya. Sama seperti kita, kehilangan calon menantu hiks hiks." tangis papa nya.
"Mulai deh.. "
******
"Vano-!!! Bangun lah, kakak sudah menyiapkan sarapan untuk mu!!" teriak Rena dari bawah sesekali melirik kamar nya sembari membawa lauk pauk di meja makan yang kecil itu.
"Kakak? Kakak siapa?" tanya Vano tiba tiba muncul di belakang tembok.
"Kemari lah, makan." ucap Rena memanggil nya
Vano pun berjalan ke arah nya, ia duduk di kursi makan. Menatap makanan yang ada di atas meja membuatnya bingung.
"Apa ini?" tanya Vano.
"Hanya ini yang bisa kakak masak, makan lah. Jangan di pilah - pilah, kakak akan pergi memanggil ibu kakak." ucap Rena melepaskan celemek yang ia pakai.
"Eng.. biar aku saja Bu, aku yang akan memanggil nenek." ucap Vano.
"Tidak usah, memang nya kau kuat? makan saja dengan baik di sini.. " ucap Rena mengacak rambut Vano
"Enggak bu, aku enggak mau. aku yang akan memanggil nya, ibu istirahat saja di sini ya.. " ucap Vano.
"Hem baiklah, tuh di sana. Kamar ibu kakak," ucap Rena menunjuk ruangan pojok.
Vano membuka pintu ruangan itu, ia melihat wanita yang tengah rebahan di ranjang.
"Nek, ayo makan. Ibu sudah menunggu, aku duluan ya." ucap Vano lalu kembali menutup pintu.
Wanita itu yang nyata nya ibu Rena memutar kepala nya menghadap ke pintu, ia menyipitkan mata nya ketika menatap anak itu. Ia menghela nafas, apa lagi ini? Nek siapa pula, ibu siapa pula?
Rena yang duduk berhadapan dengan kamar ibu nya pun menatap Vano yang berjalan sendirian.
"Dimana ibu kakak, Van?" tanya Rena
"Dia akan menyusul, aku sudah mengatakan kepada nya." ucap Vano lalu hendak berjalan ke ruang tengah, lebih baik menonton televisi dari pada makan makanan yang menurut nya aneh.
"Vano, kau mau kemana? Sarapan dulu, kemari!" ucap Rena.
"Huh," Vano membuang nafas nya kasar. Ia ingin menolak, namun melihat mata Rena yang besar membuatnya kembali duduk di samping Rena.
"Coba lah, itu enak kok.. ibu akan kembali memanggil ibu kakak." sembari mengacak rambut anak itu
"Ini apaa," teriak Vano tak suka.
Rena membuka pintu kamar ibunya, ia tersenyum ketika melihat ibunya yang melamun di atas ranjang
"Bu, Makan yuk, aku sudah memasak." ucap Rena menyiapkan kursi roda lalu membantu ibu nya untuk duduk di atas nya.
Rena pun mendorong kursi roda itu dengan perlahan, lalu berjalan menuju tempat makan begitu sudah menutup pintu kamar ibunya itu. Memperhentikan nya di depan Vano, Membuat Vano tercengang.
"Nenek sakit Bu?" tanya Vano.
Rena membalas nya dengan senyuman terbaik nya, "Dia, bocah kecil yang menjenguk mu tadi. Nama nya Vano, nanti aku jelaskan. Sekarang mari kita makan!!" seru Rena dengan gembira. Hanya ada 3 manusia itu di meja makan, ayah nya ke luar kota. Karena kemarin malam ayah nya mengatakan ke Rena kalo ia akan ke luar kota, Rena pun mengiyakan saja suruhan ayah nya untuk menjaga ibu nya.
"Vano kenapa kau tidak menyentuh makanan mu," ucap Rena, Vano hanya diam.
"Kakak kan sudah bilang, coba lah makanan ini. Kau tidak akan tau rasa nya sebelum merasakannya, ayo buka mulut mu." ucap Rena menyuapi Vano.
Vano terlihat tak membuka mulut, membuat Rena mengulangi perkataannya yang sama.
"Ayo buka, makan lah. Rasa nya enak, kau harus belajar makanan baru di sini. Ya?" ucap Rena masih tetap bertahan dengan posisi nya.
Tak kunjung membuka mulut membuat Rena kesal dan marah, ia membanting sendok itu di hadapan Vano membuat Vano langsung terkejut.
"Baiklah kalo kau tidak mau makan, tidak usah makan disini. Lebih baik kau pulang," ucap Rena emosi.
Ia pun menyiapkan makanan ibu nya, lalu membereskan makanan itu.
"Bu aku cuma.."
"Diam lah, bukan kah kau sudah terbiasa dengan makanan di rumah mu? Pulang lah, pergi saja untuk makan. Kau akan di siapkan makanan yang mewah dari pada ini," ucap Rena lalu membuang makanan itu dengan kesal.
"Ayo Bu, kita makan di kamar saja." ucap Rena lalu mendorong kursi roda ibunya.
Meninggalkan Vano yang hanya diam dengan berkaca kaca melihat Rena.
"Aku tidak bermaksud menyinggung ibu..aku hanya teringat dengan perkataan ayah.. tidak boleh memakan makanan yang belum aku makan tanpa sepengetahuannya... takut di racuni.. apakah aku salah.. hiks hiks," tangis Vano. Hati nya begitu getar saat ini, ia baru pertama kali nya di bentak oleh seseorang.
Ia mengingat perkataan teman teman nya yang mengatakan bahwa mereka tak suka dengan ibu mereka, kalo marah serem ucap nya. Vano tak menggubris, ia juga tak tau bagaimana rasanya di marahi. Namun, sekarang ia tau. Bagaimana di marahin seorang ibu, ia menyesal karena tak menuruti nya.