My Parent'S

My Parent'S
Chapter 11_Mau pulang



"Dimana semua nya, ma-?" tanya ayahnya ketika ia turun menatap seisi ruangan itu kosong. Namun para pelayan berkumpul di ruang makan untuk membereskan makan malam tadi.


"Mereka sudah pulang lebih dulu. Kata nya sih ada urusan mendadak, tidak bisa berlama lama di sini. Seusai kepulangan mereka Vano juga langsung ke kamar capek kata nya-" jelas mama nya.


"Syukurlah kalo mama sudah bisa mengurus semuanya. Lalu urusan mama dengan Rena ada apa-?" tanya papa nya sambil duduk.


"Urusan mama sama Rena juga perlu izin dari keluarga ini, dalam membantu biaya terapi ibu dari rena-" ucap nyonya Alvin sambil memegang paha Rena disebelahnya.


"Ehh, nyonya tidak perlu. Kami akan membiayai terapi ibu saya sendiri, saya sudah mendapatkan uang atas kinerja saya kemarin-" ucap Rena menolak


"Tidak perlu sungkan, anggap saja ini biaya atas aksi penyelamatan kamu terhadap anak dari Nean-" ucap nyonya Alvin.


"Tuan Nean itu-?" tanya Rena


"Aku-" ucap Nean tanpa memalingkan muka dari majalahnya.


...Ampun deh, gue enggak ngira kalo dia sudah punya anak. Usia nya kayak muda begitu, gue tarik omongan gue tadi. Ternyata dia udah tua wkwk. Tawa Rena cekikian dari dalam hati....


"Kamu pasti tidak menyangka kalo dia sudah punya anak, umurnya sudah hampir tua. 30 an haha-" tawa nyonya Alvin.


"Maaa-" ucap Nean menatap mama nya.


"Iya iya-" ucap nyonya Alvin perlahan lahan menghentikan tawanya. Nean menggeleng pelan lalu kembali membaca majalah di tangannya.


...Widih, nyonya besar bisa tau isi hati ku kwkw. Jodoh kali ya, itung itung kalo masuk keluarga kesini juga tidak apa. ih apaan sih, enggak boleh kayak gitu. Dosa tau gak renn. Gerutu Rena dalam hati...


"Asw-" ucap Rena spontan.


"Eh eh maksud ku tadi.. Aku spontan..Maafkan aku, aku.. Apa sih, aduhh. Yang penting maafkan aku, aku bersalah tolong jangan di masukan ke hati-" ucap Rena menyadari ucapan nya ketika dirinya di pandangi oleh keluarga tersebut


"Tidak apa apa, kami tau-" ucap tuan besar malah tertawa. Lucu, melihat Rena yang gugup dan merasa bersalah.


...Aduh gimana sih bibir ni, kebablasan kan gue. Gini gini malu sendiri, salah di tatap tajam sama tuan muda lagi. Lagian dia sendiri ngapain lempar majalah ke jidat gue, sialan banget tuh orang. Batin Rena menatap Nean dengan cemberut....


"Sudah malam, Nean. Kamu bisa mengantarkan Rena ke rumah nya kan-?" tanya nyonya Alvin sambil mengangguk kecil.


"Boleh-" ucap Nean tersenyum smirk.


"Baguslah, mama kira kau mau menolak. Rena akan di antar anak mama tidak apa apa kan-?" tanya nyonya Alvin.


"Eh-? Iya nyonya.. ashhh, maksud ku tidak usah.. Saya bisa pulang sendiri. Lagian terminal bus juga masih belum berhenti, saya bisa naik bus ke rumah-" ucap Rena menatap arloji nya.


"Sudah lah, tidak usah menolak. Anggap saja kau beruntung. Dah ma, pa-" ucap Nean berdiri dan mengandeng tangan Rena.


"Aduh.. Ah, tuan dan nyonya saya pulang dulu. d-"


"Ayo-!" ucap Nean menambah langkahan kaki nya


Tuan dan nyonya besar tertawa menatap Rena itu. Malahan mereka sangat terhibur atas kedatangan Rena di rumah. Mereka pikir Rena adalah wanita yang caper dan sombong. Namun itu hanya pandangan luar nya saja, dibalik wajah yang jutek itu malah membuat orang yang ada di dekat nya sangat terhibur.