My Parent'S

My Parent'S
Chapter 33_Membiarkan Vano tinggal



"Tidak bukan itu maksud ku, aku tidak menunjukkan bahwa sayur itu hanya berwarna hijau. I-Itu tidak benar," Ujar Nean mendekat ke arah pak Samsul.


"Kalian ini seperti anak kecil saja, jika sama-sama enak berikan saja kepada ibu mu. Asalkan kualitas nya aman?" Ujar pak Samsul.


"Iya juga, kenapa tidak kepikir oleh diri ku." Ujar Rena merutuki kebodohannya.


"Aku juga, bagaimana jika kita menyetujui ucapan nya?" Nean memberikan solusi kepada Rena. Rena mengangguk setuju.


"Oke lah, besok aku akan beli beberapa stok bubur rasa wortel dan bayam." Ujar Rena.


"Biar aku saja, aku akan belikan untuk mu." Ujar Nean.


"Tidak boleh aku tidak akan pernah merepotkan mu tuan." Ujar Rena menolak.


"Kau mendapatkan tawaran gratis malah menolak, gadis macam apa kau." Ujar Nean dengan tidak suka.


"Tuan Nean aku ingin menunjukkan diri ku sebagai wanita terhormat walaupun aku kalangan orang sederhana." Ujar Rena.


"Kau—"


"Sudah ayah pusing Rena, kau temani dia ya. Aku akan istirahat dulu, oh ya tuan Nean. Kau bisa pulang sekarang karena tidak pantas jika pria seperti mu menginap di rumah gadis seperti Rena." ujar pak Samsul lalu berlalu pergi meninggalkan.


"Baik pak," ujar Nean dengan senyuman paksa.


"Kau ingin pergi sekarang?" Tanya Rena meletakan mangkuk yang ia pegang.


"Iya, Vano a—" Nean menghentikan ucapannya ketika melihat Vano tidur di soga.


"Ada apa?" Rena menoleh ke arah Vano yang tertidur pulas dengan hape di atas perutnya.


"Vano tertidur, aku akan membawanya pulang." Ujar Nean mendekat ke arah Vano, tak peduli dengan Rena yang diam mengamati.


"Ehmmm.." Vano menggeliat ketika merasakan tangan kekar Nean menyentuhnya.


"Vano, ayo bangun nak! apakah kau tidak mau pulang? Sudah jam 5 sore Loh, Oma dan opa pasti menunggu dan mencari mu. Vano ayo bangun nak," Nean berusaha mengguncang Vano supaya bangun.


"Dad, aku mengantuk." Ujar Vano membuka matanya sembari menguap.


"Akhirnya kau bangun, ayo berpamitan dulu. Ayah akan menunggu mu di mobil," ujar Nean.


"Mommy," Rintih Vano berjalan ke arah Rena lalu memeluknya.


"Loh? Daddy menyuruh mu untuk berpamitan bukan berpelukan dan malah tidur di pelukannya. Vano..!!" Ujar Nean sedikit emosi.


"Tuan Nean, aku akan membangunkannya jangan kasar terhadap anak." Ujar Rena.


"Baiklah aku ingin lihat bagaimana kau bisa membangunkan anak pembangkang itu." Ujar Nean berkacak pinggang.


Rena mengangguk dan tersenyum sedikit memaksakan. Ia pun menunduk menatap Vano yang memeluk dirinya diiringi dengkuran pelan.


"Vano, Vano bangunlah nak. Daddy memanggil mu," ujar Rena mengusap kepala Vano dengan lembut


"Mommy aku tidak mau pulang, aku mau bersama mommy." Ujar Vano semakin mengeratkan pelukannya.


"Nak, Daddy mu membutuhkan mu dan ingin membawa mu pulang. Kau jangan bandel jadi anak Vano, ibu mu pasti akan bersedih kepada mu nanti jika kau menjadi pembangkang." ujar Rena.


"Ada, hanya saja ia menitipkan mu kepada Daddy mu. Ayo, pulang lah sudah hampir malam." Ujar Rena.


"Aku tidak mau berpisah dari mu, temani aku hari ini mommy.." ujar Vano merengek dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Vano ayo lah pulang nak, opa dan Oma pasti menunggu mu." Ujar Nean.


"Dad aku tidak mau pulang." ujar Vano dengan malas.


"Vano ayolah kasihan Daddy mu menunggu," ujar Rena.


"Mom," Vano menatap ke atas. Memperlihatkan Rena yang sedang mengerutkan dahinya menatap ke arahnya.


"Apa?"


"Besok kau harus datang ke kantor, aku ingin melihat mu." ujar Vano.


"Vano.."


"Dad please, berikan mommy kebebasan. Aku ingin melihat mommy besok," ujar Vano menatap ke arah daddynya.


"Vano, Rena besok masih cuti! Tangannya belum sembuh," ujar Nean sedikit kesal.


"Ayo lah dad, kalau begitu aku akan menginap disini? Bagaimana..." ujar Vano membalikkan badannya. Melepaskan tautan pelukannya dari tubuh Rena.


"Tidak, kau tidak boleh merepotkan nya Vano!" Ujar Nean sedikit membentak.


"Tapi.. aku tidak mau pergi dari mommy! Tidak akan pernah," ujar Vano bersembunyi di belakang Rena.


"Vano, hari ini sudah cukup merepotkannya jangan merepotkannya lagi! Daddy mohon, ayo pulang." Ujar Nean.


"Mommy.." ujar Vano merengek.


"Pak Nean jika anda tidak keberatan anda bisa menitipkan Vano kepada saya.." dengan penuh keraguan Rena mengatakannya. Seketika Nean menatap ke arah Rena dengan bingung dan kesal.


"Rena aku sudah sering merepotkan mu, aku mohon. Aku tidak ingin merepotkan mu lagi." ujar Nean dengan memelas.


"Tuan Nean, bagi saya vano adalah segalanya. Tidak akan merepotkan bagi saya jika vano menginap disini malam ini. Saya bisa mengajaknya berbelanja nanti malam, jadi anda tidak perlu repot-repot membelikan saya bubur." Ujar Rena meyakinkan Nean. Nean menghela nafas


"Baiklah hanya satu malam, lusa kau harus bekerja. Pekerjaan seakan-akan berat tanpa kehadiran sekertaris," ujar Nean yang hanya di jawab anggukan serta senyuman kecil dari Rena.


"Aku pulang, Vano kau jangan nakal disini!" Ujar Nean.


"Iya Daddy.." ujar Vano.


Nean mengangguk kecil lalu melangkah pergi meninggalkan rumah itu setelah berpamitan. Seketika Rena menatap ke arah Vano dengan tajam.


"Sayang, hari ini kakak bisa membujuk Daddy mu. Tapi tidak dengan lain kali, oke?" Ujar Rena berjongkok menyeimbangkan tubuhnya dan Vano.


"Iya mom," ujar Vano dengan lesu.


"Baiklah ke kamar lah jika kau mengantuk, mommy akan pergi menyiapkan makan malam." Ujar Rena.


"Iya baiklah," ujar Vano berlari ke arah kamar. Karena ia sudah pernah menginap, ia pun tahu dimana kamar Rena.