My Parent'S

My Parent'S
Chapter62_HariUlangTahun



DOARR


Vano terkejut dikala dirinya langsung dikagetkan oleh tubuh gemuk didepannya. Tiga orang didepan yang selalu membuat masalah dengannya itu terlihat tanpa berdosa didepannya. Ya alias wajahnya sangat sekali berbeda dari biasanya.


"Hay, nanti setelah pulang sekolah ikut aku ya?" ucap nya.


"Kemana?" tanya nya.


"Ikut aja, Kami ada surprise buat kamu." ucap nya.


Vano terlihat diam, ia tahu hari ini hari apa. Tapi, apakah ia harus menuruti ucapannya? Karena ia ingin pulang cepat ia menggeleng. Yang langsung saja membuat pria yang paling depan itu mengerut.


"Aku tidak bisa, jangan paksa." ucap Vano.


"Kamu kenapa sih jahat banget? kamu takut ya kita bakal ngapa-ngapain kamu?" ucap nya.


Vano mengangguk, memang benar. Tapi lebih tepatnya ia mau bersama calon mamanya.


"Aku harus pulang cepat karena ayah ku yang menyuruh," ucap Vano.


"Bohong!" ucapnya dengan membentak.


"Aku serius." ucap Vano


"Coba bilang kenapa harus pulang cepat? memang penting?" ucapnya.


"Memangnya siapa kamu berani menantang keluarga ku? apa kamu penting Dimata ku?" ucap Vano.


"Kamu!" ucapnya dengan melotot. Tapi tangannya seolah di tahan oleh temannya.


Menghempaskan nya.


"Baiklah. Kalau kamu harus pulang cepat, tapi besok kau harus datang." ucapnya.


"Oke," ucap Vano.


"Bagus, yuk cabut." ucapnya kepada teman-temannya.


Vano menarik nafas dalam-dalam menatap kepergian geng itu. Pria tinggi serta gemuk itu membuat Vano seraya semut bagi mereka. Kemudian Vano pun berjalan menuju kantin untuk membeli makanan. Dengan wajah datarnya dan auranya mengerikan sekali. Membuat orang di sekitarnya langsung menjauh setelah peka.


Bruk!


"auch..." eluh seorang gadis.


"Kamu tidak papa?" tanya Vano sembari berjongkok dengan memakan telur puyuhnya.


"Em.. tidak apa-apa." ucapnya kemudian berdiri.


"Ma-af." ucap Vano terpotong ketika gadis itu langsung melewatinya dengan berlari. Vano menggeleng, kemudian kembali berjalan ke kelasnya.


Pukul 11 siang barulah Vano diperbolehkan pulang. Sebelum dirinya menaiki mobil, terlihat sekali laki-laki yang tadi sempat menemuinya menatapnya dari pojokan. Tapi anehnya ia hanya seorang diri saja. Tanpa perduli walaupun masih heran ia menaiki mobil dan melesat meninggalkan sekolah.


"Mama ada di rumah, pak?" tanya Vano.


"Iya, den. Ini langsung ke sana?" tanyanya.


"Ia." ucap Vano mengangguk.


"Baik, den."ucapnya dengan menyetujui.


Sekitar pukul 1 siang baru Vano sampai ke daerah kemarin seraya ia di culik oleh supirnya sendiri. Ia menuruni mobil dan berlari menuju pintu utama. Dilihatnya kawasan yang damai nan sejuk didalam rumah itu. Namun tak ada orang satupun yang kelihatan.


"Iya, den. Tuan tadi menelepon saya dia ada urusan, tapi calon istrinya ada disini. Eh?" seketika saja wajah Vano terlihat tegang. Ada kebahagiaan dan kejutan di hari ini. Tapi ia hanya menyunggingkan senyum tipis kemudian ia berbisik kepada supirnya itu.


"Tapi den.."


"Tolong bantuannya pak. Ya?" ucap Vano.


"Hufft, baik." ucapnya.


"Terima kasih," ucap Vano dengan tersenyum lebar kemudian berlari ke arah timur dan bersembunyi.


Sedangkan si supir malah kebingungan harus apa sekarang. ketika ia ingin berbalik badan meninggalkan area rumah itu. Ia dikejutkan dengan langkah seseorang dari tangga yang cukup ramai. Ia tak percaya bahwa keluarga Alvin sudah siap dengan gaun dan pakaian kaos sederhana yang terkesan mewah di pakai untuk menyambut hari ulang tahun Vano.


Tangan Oma sudah memegang kue dengan senyum mengembang orang orang di belakang.


"Pak, apa bapak sudah mengantar Vano pulang?" tanya Rena.


"S-sudah non.." ucap nya gugup.


"Lalu dimana dia? Seharusnya dia disini kan?" tanya Rena sekali lagi.


"T-tuan..."


"Perhatian untuk sekeluarga ku yang terhormat. saya, Vano Alexander Alvin ana mengumumkan sesuatu kepada kalian. Yakni untuk menemukan saya yang tidak jauh dari lokasi anda. Atas perhatiannya terima kasih. Selamat bekerja keluarga ku, cepat yaaa." Ucap Vano dengan menggema.


Nyatanya didalam rumah itu terdapat microfont yang menghubungkan suara dari ruangan ke penjuru rumah. Seketika saja keluarga itu dibuat bengong.


"Aduh bocah cilik ini mau main-main," ucap tuan Alvin dengan gelengan kepala.


"Kalau begitu mari kita cari," ucap Rena dengan semangat 45.


"Baik, cepat temukan ya. Dengan menyebar setiap orang di area 4 mata angin. Okee?" ucap nyonya Alvin.


"Baik, aku ke timur." ucap Rena.


"Ke barat!" ucap Nean cepat


"Ya sudah ke selatan," ucap tuan Alvin.


"Baik, saya sisanya. Selamat bekerja," ucap nyonya Alvin membuat mereka langsung bergegas mencari dimana Vano.


Si supir menggeleng. Ia kembali ke mobilnya dan menunggu sembari bermain ponsel. Nanti malam, keluarga Alvin akan pulang. Tapi keluarga Rena sudah pulang semenjak kemarin malam. Karena ada urusan yang harus dilakukan oleh ayah Rena, dan ibunya pun memutuskan untuk ikut suaminya pergi.


Sela-sela bermain, didengarkannya kembali suara Vano yang menggema.


"Mohon perhatiannya para keluarga ku tercinta, kalian hanya bisa memiliki waktu 15 menit untuk menemukan ku. Tolong kebijakan nya ya. Selamat bermain, dan satu hal lagi. bagi yang menemui ku pertama kalinya akan mendapatkan hadiah kecupan dari ku. Bye-bye." ucap Vano.


"Sepertinya aku paham anak ini dimana," Rena.


"Apa-apaan anak itu, hadiah nya cuman kecupan?." ucap Nean.


"Vano tidak jauh dari ruangan microfont, kan!" ucap nyonya Alvin.


"Ruangan itu dekat dengan ku," ucap tuan Alvin.


Dengan tempat yang berbeda-beda dengan waktu yang sama. Mereka sibuk berjalan ke satu tujuan. Namun beda dengan Rena dan Nean. Yang beberapa saat lalu mereka pergi bersama ke suatu tempat yang tak jauy dari rumah.


Beberapa saat yang lalu...