
Dokter, Dokter!!" Teriak Vano saat telah sampai di rumah sakit.
Dengan tergesa - gesa, beberapa orang membawa brangkar menuju mobil Nean. Nean pun membuka pintu belakang, lalu membawa Rena menuju ruangan UGD. Ia berlari sambil memegangi brangkar, hingga ia lupa. Vano mengikuti nya dan hampir kehilangan jejak dirinya.
"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk."
Perkataan itu lolos membuat Nean sadar akan perilaku nya. Ia mengangguk linglung lalu mundur beberapa langkah dari ruangan UGD. Membiarkan suster itu menutup pintunya dan membiarkan para ahli medis bekerja.
"Ayah!!" teriak Vano berlari dari kejauhan.
Nean melirik ke arah Vano, lalu ia mendekati Vano dan berjongkok di depannya.
"Kau tidak apa apa nak?" tanya Nean.
"Ibu.. Ibu baik baik saja ayah?" tanya Vano.
Ia tak memperdulikan keringat di dahi nya, ia menatap ayahnya dengan khawatir.
"Ya nak, ib—"
Nean tak melanjutkan perkataannya, ia baru sadar akan perkataannya. Ia tak menyukai wanita itu tapi kenapa dia panik sendiri?
"Ayah.. katakan pada ku, bagaimana kondisi ibu?" tanya Vano lemas.
"Dia baik baik saja, ayo.. maaf ayah tadi meninggalkan mu.. " ucap Nean berdiri sambil menggandeng tangan anak nya itu.
"Ayah mengkhawatirkan ibu? Aku tak masalah jika aku di tinggalkan asalkan ayah lebih memprioritaskan ibu.. hehe." ucap Vano tersenyum menggoda.
"Vano, dia hanya karyawan ayah. Tentu saja ayah mengkhawatirkannya, ayah sudah mencari keadilan soal sekertaris ayah." ucap Nean menjelaskan sambil duduk di kursi tunggu
Ya, sekarang sekertaris. Tapi besok istri ku haha Tawa Vano di dalam hati sambil cekikian.
"Kau kenapa? Kau kesurupan?" tanya Nean agak bergidik setelah mengecek wajah Vano yang menyeramkan itu.
"Tak ayah, aku tak apa.. hanya kelelahan." ucap Vano memeluk ayahnya. Mencari tempat nyaman disana, Nean tiba tiba merasa heran. Tak biasanya Vano bermanja dengannya seperti ini.
"Hubungan ayah dan kamu hanya sebatas itu, tak ada lagi yang ayah bisa berikan selain penghargaan itu. Soal ibumu... Ayah tak tau keberadaannya." ucap Nean dengan pelan sambil mengelus rambutnya.
"Aku tak memperdulikan itu ayah, ibu sudah membuang ku bersama mu. Tak ada apapun lagi yang bisa di harapkan dari nya." ucap Vano tetap tenang.
"Dia orang yang cantik Vano, dia juga baik.. "
Karena dia adalah teman ku.. Aku akan menjaga mu hingga aku mati. Sambung Nean dari dalam hati.
"Ayah, jangan bahas ibu lagi..."
Karena aku akan semakin membenci nya ketika kau membahasnya.. Batin Vano
"Baiklah," ucap Nean lalu mengecup puncak kepala Vano.
"Tuan.. "
Andra berhenti di depan ruangan UGD, ia melihat Nean disana yang menatapnya sambil mengelus rambut Vano. Ia pun mendekat dan memberikan hormat.
"Paman, duduk lah.. " ucap Vano tegak sambil menepuk kursi di sebelahnya.
"Tuan muda saya.. "
"Duduk lah and, dia berada di UGD.. " ucap Nean menyuruhnya
"Saya tidak lelah tuan," ucap Andra
"Hem, baiklah terserah. Jika kau mau kau bisa duduk," ucap Nean
"Ya baiklah," ucap Andra berdiri di samping Nean.
"Paman, bagaimana keadaan Tante tua itu?" tanya Vano menatap Andra dengan membungkukkan badannya di paha Nean.
"Sudah saya urus tuan muda kecil, anda tak perlu mengkhawatirkan mereka lagi. Sudah ada di rumah baru mereka," ucap Andra tersenyum lembut kepada tuan mudanya.
•Di dalam bayangan Andra
"Lepaskan aku!!! Aku tidak bersalah!! Kenapa kalian memenjarakan aku!! Ini tak adil, lepaskan aku!!" Teriak violet di dalam penjara dengan sekawanan pria busuk itu.
"Diam!" bentak polisi yang menjaga disana mengagetkan violet.
"Tidak, aku mohon.. Lepaskan aku.." ucap violet.
"Hai cantik,"
"Ih, apaan sih! Menjauh gak!" ucap violet bergidik ketika pria itu menyentuh tubuhnya.
"Tidak!! Kamu gila ya!! Po— Tolong!!! Siapapun tolong aku!!" teriak violet. Ia tak melihat penjaga disana, kemungkinan mereka pergi mengurus sesuatu.
"Ayo lah cantik.. sudah 1 abad aku disini.. adik ku mau di manjakan.. "
"Tidak!!!!! Tolong!!" teriak violet.
_____________
Haha, apa yang terjadi dengan wanita itu? Biarlah dia terkena imbasnya.. Batin Andra lega. Tak ada "Mak lampir" lagi yang akan mengusik kehidupan tuan mudanya.
Sudah berulang kali ia menggelengkan kepala nya saat violet dan teman temannya memakai baju seksi. Membuat keributan di kantin, tidak mau menjalankan hukuman, menyuruh orang seenaknya, kali ini? Di pecat adalah hukuman yang paling adil untuk mereka bertiga.
Ceklek
Dokter keluar di ikuti beberapa suster di belakangnya, suster meninggalkan tempat itu. Yang tersisa hanya ada dokter tersebut dan Nean yang berbincang - bincang.
"Bagaimana dok? Apa dia baik baik saja?.. " tanya Nean agak khawatir terhadap karyawannya.
"Keadaan pasien sudah membaik. Tulang di tangan sebelah kanannya memang agak retak, ia harus menginap disini selama beberapa hari. Untuk memulihkan tangannya. Soal tubuh, dia sehat walafiat. Istri anda memang sangat kuat tuan, dia berhasil selamat dari kondisi ini.." dokter begitu kagum akan tubuh Rena yang kuat, pasalnya. Ketika dokter melakukan penelitian mengenai tulang nya, Rena tak sadarkan diri tanpa obat bius.
Bahkan, setiap dokter menggoyangkan tubuh yang perlu ia periksa. Rena benar benar tak bergerak atau merintih kesakitan, ia hanya diam.
"I-istri?.. " ucap Nean membeku. Seraya ada yang retak di tubuhnya..
Sedangkan Vano dan Andra sama sama menahan tawanya, menertawai Nean yang tidak mau menikah dengan Rena. Tapi ujung ujung nya, beberapa orang menganggap Rena dan Nean sudah menikah.
"Saya permisi tuan, pasien akan segera di pindahkan ke ruang inap. Mohon segera melakukan pendaftaran rawat inap," ucap nya lalu berlalu.
"Ayo ayah, kita lihat kondisi ibu.. " ucap Vano menarik tangan Nean hingga memasuki ruangan Rena.
Terlihat Rena di sana dengan infus di tangannya, hanya berdiam diri di atas brangkar. Wajahnya tak sepucat awal Nean membawanya ke rumah sakit. Bibir merah muda, pipi yang merona, kulit yang terkena sinar matahari. Membuatnya nampak bak bidadari disana.
Drett
Ponsel Andra bergetar, ia mengecek nama disana. Tertera nama 'Nyonya alvin' di layar hapenya.
"Tuan, nyonya menelpon.. " bisik Andra
"Ada apa ibu menelpon.. " ucap Nean mengerutkan keningnya.
"Tidak tau tuan, saya pergi angkat terlebih dahulu." ucap Andra.
"Ya pergi lah, katakan aku baik baik saja." ucap Nean.
"Ya." Andra pun pergi dari ruangan itu.
Vano mengajak ayahnya untuk mendekat, ia melepaskannya begitu Vano ingin menyentuh wajah Rena. Tiba tiba Rena memalingkan muka sedikit, di sertai jemari yang bergerak. Rena pun membuka mata nya, menatap langit langit dengan samar.
Ada wajah anak kecil dan pria yang menatapnya dengan datar. Ia kembali menutup mata saat ia masih lemah, tak ada tenaga yang ia kumpulkan.
"Ibu.. Apa kau baik baik saja?" tanya Vano
"Ehm.. " Daheman Rena pelan dan lemah.
"Ibu.. sadarlah jika kau baik.. " ucap Vano dengan pelan dan sedih.
"Hmm.. aku baik baik saja Vano.. " ucap Rena dengan pelan dan melirik ke arah Vano.
"Syukurlah.. " ucap Vano dan Nean bersamaan.
Rena melirik pria itu, ternyata dia adalah Nean. Ia kembali mengingat perbuatan violet kepadanya, samar samar suara laki laki terdengar membentak disana. Karena terkejut, ia langsung pingsan seketika.
"Aku.. "
"Permisi, pasien harus di pindahkan ke ruangan inap. Ruangan ini akan di gunakan setelah ini.. mohon pengertiannya.. " suster datang disana. Untuk meminta izin supaya brangkar Rena di pindahkan.
Rena kembali menatap Nean sebelum dirinya menjauh dari dirinya.
"Ayah ayo ikut ibu.. " ucap Vano menarik tangan ayahnya.
"Dia bukan ibu mu vano, kau tidak pulang semalam. Kau berhutang penjelasan kepada ku, ayo pulang!" ucap Nean menarik tangan Vano.
"Ayah.. Tapi ibu bagaimana..!" ucap Vano khawatir.
"Dia akan di temani keluarganya.." ucap Nean
"Ayah tapi.. "