
"Eh maaf, apakah kau tidak papa?" tanya Nean ketika mendengar suara Rena yang kesakitan.
"Tangan ku sakit.. " ucapnya menahan air mata.
"Maafkan aku, aku bersalah.."
"Vano!!! Ibu mu kesakitan, bisakah kau membuka pintunya??" Teriak Nean kembali.
Brak Bram Brak
Nean berulang kali mencoba menjebol pintu itu. Bahkan, suasananya sama sekali tak mendukung. Rena menghela nafas setelah merasa Vano keluar dari kamar itu. Meninggalkan mereka berdua di dalam kamar mandi.
"Tuan, sudah lah. Lagi pula kau akan kehilangan energi. Pintu itu tak akan bisa terbuka kau mendobraknya." Jelas Rena.
"Tau dari mana kau?" Tanya Nean dengan lirikan mautnya.
"Aku tinggal disini sudah hampir 1 Minggu, bagaimana aku tidak tau?" Tanya Rena menghela nafas.
"Akhhh, anak itu. Jika kita bertemu, lihat saja apa yang akan aku lakukan!" Ujar Nean.
"Lalu kita harus apa disini?" Tanya Rena.
"Kenapa tanya pada ku? Pikirkan saja sendiri!" Ujar nya dengan emosi.
"Kamar mandi ini besar, kau membawa handphone?" Tanya Rena.
"Jika aku membawanya, kau mau apa? Menelpon Vano lalu meminta tolong begitu? Jangan bodoh! Itu tak akan terjadi, ku rasa ini semua adalah ide ibu ku." Jelas Nean.
"Haih, kenapa aku harus terikat dengan mu." Ucap Rena memalingkan mukanya.
"Aku juga tidak tau, jangan bertanya pada ku." โ "Lalu? Aku ingin mandi, tubuh ku terasa gerah! Jika kau tidak mengkondisikan mata mu. Ku congkel bola mata mu,"
"Kau berani kepada ku? Atasan mu?" Tanya Nean menatap tajam.
"Lalu apa? Kau mau melihat tubuh ku begitu?!" Ucap Rena.
"Jangan berharap berlebihan, aku tak Sudi melihat tubuh mu." ujarnya tersenyum miring.
"Kalau begitu jangan lihat, minggir!" Ucap Rena mendorong tubuh Nean membuatnya berjalan ke samping. Rena pun membuka pintu bathroom.
Nean yang malu pun memalingkan mukanya, ia tak mau melihat tubuh Rena dan membuat mata nya menjadi kotor.
Dug
"Akhh.." Rintih Rena.
Nean yang terkejut pun langsung membalikkan badannya. Belum 5 detik ia kembali membalikkan badannya ketika mengingat perkataan Rena tadi.
"Kau baik baik saja?" Tanya Nean.
"Kau jangan melingkari janji mu!" Ujar Rena memutar kepalanya menatap Nean. Ada perasaan lega di hatinya begitu Nean tak berbalik badan.
"Tidak! Ku rasa kau baik-baik saja." Ujar Nean
"Ya, aku baik-baik saja.." ujar Rena berusaha berdiri dari lantai.
Nean menghela nafas lega. Tak berapa lama kemudian..
Dug..Akhh
Sret..Aww
Plak..AAHHHHH
Begitu lah kira-kira suara dari belakang Nean, ia pun menghela nafas kesal lalu berbalik badan.
"Jangan menatap ku! Pintu ini transparan! Dasar mesum!!" Teriak Rena begitu menatap Nean yang menatapnya dengan kesal.
"Wanita bodoh! Bisakah kau berdiri dengan baik huh?" Tanya Nean sembari membantu Rena berdiri dengan handuk putih nya.
"Aku baik-baik saja, tak butuh bantuan mu."
"Sekali kau berbicara lagi, ku potong lidah mu." Ujar Nean dengan kesal.
"A-Aku.."
Nean menghembuskan nafasnya kasar menahan emosi di dalam hatinya. Ia pun menuntun Rena untuk duduk di kursi kecil dekat bath up.
"Ambilkan handuk kecil lagi dong, minta tolong.. "
Nean berdiri lalu membalikkan tubuhnya, Sret handuk itu pun ia ambil dan di lemparkan ke muka Rena.
"Terima kasih!!" Bentaknya.
"Ya!!"
Rena mengusap tengkuk lehernya lalu wajahnya. Mengusap usap rambutnya hingga ia melihat noda darah di handuk itu.
"..." Rena terdiam, ia melirik Nean yang menatap ke arah lain.
Ku rasa, aku tak sengaja menabrak pembatas bath up. Membuat kepala ku terbentur dan berdarah olehnya.. Batin Rena.
"Hei! Kau baik-baik saja?" Tanya Nean.
"I-Iya.. Bisakah kau mengecek, apakah pintunya sudah di buka? Aku ingin tidur, kepala ku pusing." Jelas Rena.
"Kau benar juga, baiklah tunggu disini!" Ujar Nean. Rena mengangguk menuruti, menatap Nean hang mendekat ke arah pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka, Rena tersenyum ketika Nean keluar dari sana.
"Hufft, kepala ku berdarah apa yang harus aku lakukan.. " Rena menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya.
Aneh juga, bagaimana keluar Nean sangat memaksa dirinya untuk berhubungan dengan bos nya sendiri? Gila, apakah Nean gay karena tak mau menyentuh wanita? Ketika mengangkat Rena saja ia memakai handuk untuk membantunya.
Rena berjalan menuju pintu dengan handuk yang ia lilitkan ke tubuhnya.
"Berhenti disana! Aku tidak mau kau malu karena tak memakai baju." Ujar Nean lalu melemparkan paper bag ke arahnya
"Apa ini? pakaian?" Tanya Rena.
"Jika kau sudah tau cepat lah berganti baju, aku akan mencari Vano." ucap Nean lalu keluar.
Rena diam dengan kesal, sikap Nean yang sangat ketus membuatnya harus di beri kesabaran yang luar biasa.
"Jika itu suami ku! aku akan menendang nya keluar dan tak memberikannya jatah selama 1 Minggu, biar saja. Rasakan penderitaan dari seorang istri, sialan sekali." Gerutu Rena.
Tanpa ia sadari, seseorang yang masih berdiri di sana mendengar gerutu-an Rena.
Jika kau istri ku, aku akan memanjakan adik ku di bawah. Tubuh mu membuat ku tak bisa berbohong. Hasrat, Jangan menggoda ku!!๐