
"Sebenarnya, lamaran yang dikatakan oleh ibuku itu benar apa adanya." Nean membuka suara disampingnya. Gadis itu hanya bisa diam mendengarkan. Tidak ada respon dari gadis itu ketika Nean menoleh.
"Umur saya ini sudah tua untuk menikah, saya tidak ingin terbuka dengan wanita lain Rena. Selain saya menyukai kamu, Vano juga menerima kamu sebagai ibunya." ucap Nean apa adanya.
"Lalu?" Rena berbicara pelan.
"Saya akan menunggu jawaban kamu, kapanpun itu. Sampai akhirnya kamu memberikan jawaban, disitulah titik dimana aku menentukan masa depan ku yang ketiga kalinya."ucap Nean.
Rena tersenyum, "Jika saya memberikan jawaban ini disini, saat ini juga, apa anda siap tuan Nean?" tanya Rena menoleh.
Mata mereka saling bertemu, Nean dengan tatapan terkejutnya kearah Rena. Kemudian Nean memutuskan kontak mata dan mengeraskan rahangnya pelan.
"Apapun jawaban kamu, akan saya terima." ucap Nean kepada Rena.
Rena lagi-lagi tersenyum. Ia menoleh ke depan, arah kolam renang di depannya. Beberapa menit yang lalu ia telah mengantarkan Vano ke sekolahannya. Dan tiba-tiba saja Ny.Alvin menyuruhnya kebelakang. Yang nyatanya ada Nean yang sedang menunggunya.
Rena menarik nafas dalam-dalam... "Waktu anda mengatakan ibu saya cacat, itu membuat darah saya mendidih dan tak ingin ada hubungannya lagi dengan anda tuan. Saya tau, pertemuan kita hanya sesingkat itu waktu itu. Dan saya tidak tahu jelas kenapa anda melakukannya. Saya tidak mau peduli,dan masih kecewa. Namun hingga hari itu, Vano. Bocah kecil itu terus saja menganggu hidup ku yang damai dengan berbagai cara. Sejak saya bekerja, saya benar benar tidak tahu bahwa anda merupakan CEO dari perusahaan tempat saya bekerja. Saya sempat berpikir bahwa saya bisa mengalihkan pikiran saya dengan bekerja,Namun gagal. Saya ternyata tidak bisa dan malah terus terusan melihat anda. Saya tidak bisa lepas bahkan seolah suasana dan hari itu semakin mendekatkan kita. Saya memang kecewa, namun itu sudah musnah." Rena menoleh kearah Nean dengan tersenyum hangat.
Kemudian menarik nafas lagi. "Saya menerima lamaran anda, tuan." ucap Rena dengan memalingkan mukanya.
Deg!
Jantung Nean berdebar, ia menoleh ke arah Rena. Ketika ia hendak berbicara ia menatap pergerakan bibir Rena yang terbuka.
"Sebab, saya mengagumi keluarga anda yang semuanya baik kepada saya. Saya sangat terharu ketika saya diterima dilingkungan anda. Saya kira saya tidak cocok kepada anda. Namun saya sadar, anda terkait dengan kriteria saya. Dan!" Rena menekan ucapannya.
"Sepertinya saya juga menyukai anda," ucap Rena kepada Nean.
Bibir Nean bergetar, "Kau menerima lamaran ini?" ucap Nean sekali lagi. Rena mengangguk, ia melirik.
Nean menggeleng. Ia tersenyum dan terharu, Rena menarik nafas dalam-dalam berusaha menghilangkan kecanggungan ini. Kemudian ia bangkit. "Saya akan pulang, tuan." ucap Rena.
Ketika Rena hendak melangkah betapa syok nya dia ketika tangannya ditarik dan dibawa kepelukannya. Ia menelan Saliva nya.
"T-tuan.." ucap Rena.
"Sstt.. jangan berbicara dulu, aku malu." ucap Nean kepada Rena.
Rena tertawa. "Anda akan menjadi suami saya, sekarang lepaskan dulu pelukannya kita belum resmi." ucap Rena.
"Aku tidak sabar menunggu hari H." ucap Nean
Deg!
"Maksud anda?"
"Hari H sudah ditentukan, dan waktunya sebulan kedepan." ucap Nean.
"Apa!?" ucap Rena.
"Bukan aku, tapi keluarga ku!" ucap Nean dengan spontan.
"Kenapa lama banget, seharusnya seminggu ke depan." Kesal Rena.
"UHUK UHUK!!" Nean langsung tersedak Saliva nya ketika mendengar ucapan Rena.