My Parent'S

My Parent'S
Chapter 26_Bermain di taman^^



"Jack, kenapa kau ada disini!" Ucap Nean menatap Jacky temannya.


"Yoi, gue tadi mau jenguk istri gue yang habis lahiran. Awalnya gue enggak mau berpikir negatif saat melihat lo ngintip disini. Ehh tapi dugaan gue bener, seorang CEO di salah satu perusahaan ngintip kamar seorang pasien." Jack terkekeh menatap Nean yang gugup.


"Salah, aku cuman mau masuk tapi ragu!" Ujar nya.


"Ragu kenapa?" Tanya Ibunya. Siapa lagi kalo bukan Ny.Alvin.


"I-itu.. " Jantung Nean berdetak kencang. Ia bahkan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan wanita yang ia tolak.


"Masuk lah, seorang tamu tidak boleh hanya berdiam diri di depan bukan?" Ujar Rena.


"Hem.." — "Daddy! Ayo masuk," Ujar Vano menggandeng tangan Nean hingga masuk ke dalam ruangan Rena.


"B-Bapak.. selamat siang.. " Nean menyapa kembali.


"Oh.. " Jawab pak samsul.


Apa cuman 'Oh' doang? Batin Nean.


"Tuan, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan anda yang sudah membawa saya kemari." Ujar Rena menatap Nean dengan sopan.


"Tidak perlu sungkan, saya hanya tidak ingin mencoreng nama baik perusahaan saya." Ujar Nean.


Rena hanya tersenyum tipis lalu bersandar untuk istirahat.


"Mommy! Bukan kah mommy ingin berjalan - jalan di taman? Ayo, aku juga ingin ikut!" Seru Vano.


"Vano, ada banyak tamu disini. Kakak tak bisa berjalan jalan sekarang sayang," Jelas Rena.


"Mommy.. " — "Rena sayang, jika kau ingin pergi ke taman pergi lah. Nean akan mengantar mu, sementara para orang tua bisa berbincang disini. Benarkan pak samsul?" Ujar Ny.Alvin.


"Apa?! Aku.. " Nean menunjuk dirinya sendiri.


"Kenapa kau tidak mau? Seingat ku, ketika aku nonton televisi seseorang yang tidak menyetujui ucapan mama nya ia pasti di cap sebagai anak pembangkang. Dan di bakar hidup - hidup, Mayatnya di buang ke lubang buaya. Ketika mayat itu menjari abu, abu nya di terbangkan kemana - mana. Kau mau?" Tanya Ny.Alvin mengintimidasi.


"Bagus, silahkan nak. Supaya pikiran mu jauh lebih jernih, pergi lah." Ujar Ny.Alvin.


Rena melirik kedua orang tua nya, ibunya mengangguk pelan. Sementara suaminya hanya diam menatap datar terhadap rena.


"Aku.. " — "Aku yakin, Presdir itu tak akan macam - macam dengan mu." Ujar Pak samsul memotong pembicaraan Rena.


"Ayo mommy!!" Rengek Vano manja.


"Iya vano,"


...


"Mommy! Aku ingin bermain disana, mommy duduk lah bersama daddy! Aku pergi dulu," Vano mendorong Rena agar duduk di kursi. Vano pun berlari ke arah tempat bermain. Banyak anak kecil seusia nya bermain disana, walaupun ada beberapa yang hanya menatap malas mereka.


"Em," gumam Rena pelan.


"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Nean melirik sekilas.


"T-Tidak.. aku tak mengatakan apa - apa. kenapa?" Tanya Rena.


"Tidak papa, mungkin hanya lalat yang berbisik kepada ku." Jelas Nean.


"Oh.. " Jawab Rena pelan.


Nean melirik ke arah gadis itu yang hanya diam. Sesekali gadis itu menguap sambil merentangkan tangannya. Ia bersandar dan mengawasi Vano sebelum mata nya benar - benar tertutup.


"Tidak ada topik yang seru saat bersama mu, tuan." Ucap Rena.


"Apa?" Nean melirik ke arah rena yang hanya menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.


Nean menatap ke sekitar tapi otaknya traveling kemana - mana. Ia menghela nafas ikut mengantuk juga. Tapi tidak, matanya tak boleh tertutup sebelum Vano selesai bermain.