
Rena turun dari mobil taksi, ia memberikan lembaran uang minim untuk membayar.
"Ambil saja kembaliannya pak, terima kasih." kata Rena dan berlalu meninggalkan pak supir.
Ia memasuki gedung perusahaan tempatnya berubah. Ketika masuk saja ia sudah mendapatkan lirikan misterius dari pak satpam. Ia melirik ke arah beberapa pegawai yang berbisik-bisik di belakang, depan maupun samping. Ia tahu itu, mungkin ia terlalu kejam memenjarakan ketiga gadis itu yang sudah memperlakukan nya seenak jidatnya. Ia harus berbicara kepada tuan Nean nanti.
Menuju resepsionis dan mendaftar bahwa hari ini ia masuk. Melirik pegawai baru yang ada di sana membuatnya mengerutkan kening.
"Maaf, pegawai resepsionis yang lama dimana ya?" kata Rena dengan sopan.
"Oh iya itu mbak, dia izin tidak masuk selama 1 Minggu. Jadi saya yang menggantikan," kata nya.
"Ohh kalo gitu bekerja yang baik ya, aku ke atas dulu." kata Rena dengan senyuman.
"Iya mbak," katanya dengan sopan.
Rena pun memencet tombol lift karyawan. Menunggu lift ke lantai dasar sembari menatap sekitar. Beberapa tempat sudah ada yang berubah, ia menghela nafas. Baru 5 hari perusahaan sudah berubah?
Ting
Pintu terbuka ketika ia masuk, tangannya di tarik di depan beberapa karyawan yang juga mau masuk. Ia di masukkan ke dalam lift CEO. Memencet tombol 32 dan berdiri di samping Rena yang memegangi dadanya. Ia melirik Nean dengan marah.
"Tuan, selamat pagi." tapi apa lah daya. Ia hanya sebatas karyawan, tak pantas untuk memarahi CEO.
"Pagi, kamu baik-baik saja kan?" dengan seringaian wajah polos.
Rena hanya mengangguk. "Saya baik-baik saja Presdir," kata Rena dengan memajukan kepala pelan.
Nean mengangguk, ia kembali menghadap ke depan. Rena yang agak risih berdekatan dengan Presdir pun. Memilih untuk mundur ke belakang. Membuka handphone nya dan memilah jadwal kesibukkan CEO.
"Untuk pagi ini, anda tidak ada jadwal yang begitu penting. Untuk nanti siang, anda hanya mengunjungi satu klien yang menunggu acara kehadiran anda. Untuk nanti sore hingga malam tidak ada acara." kata Rena.
Nean mengangguk mengerti. Keheningan yang ada di dalam lift membuat mereka saling menyindir di dalam hati. Tak ada yang mau berbicara gitu?
"Maaf Presdir, apakah saya boleh bertanya?" kata Rena.
"Resepsionis yang-"
"Iya aku cuti kan selama 1 Minggu, supaya mengetahui kesalahannya. Bahwa mengobrol di kantor tidak di perbolehkan," kata nya.
Rena cemberut kecil, ia sedikit kecewa dengan Presdir. Padahal itu juga hanya sekedar mengobrol kecil.
"Mentang-mentang horang kaya bisa mengatur rakyat kecil seenak jidatnya gitu kah." gerutu Rena.
"Kau berbicara sesuatu Rena?" katanya membalikkan badan.
"Oh tidak pak! Saya hanya sedikit.. rindu dengan teman-teman saya disini." kata Rena langsung mundur takut.
Ting
Nean mengangguk, "Kau punya teman juga." ejeknya lalu melangkahkan kakinya keluar.
"Ya punya lah pak, kau pikir aku batu ga punya teman." Gumam Rena.
Ia pun mengikuti Presdir hingga ke dapur. Membuatkan kopi dan mengantarnya di ruangannya.
"Kopi anda pak, saya permisi dulu." kata Rena.
"Ren, kalo tangan kamu masih sakit. Jangan banyak bergerak." katanya.
Rena sedikit menyunggingkan senyuman. "Iya pak terima kasih sudah memperhatikan saya.* kata Rena.
"Aku hanya tidak mau memperkerjakan karyawan yang teledor." kata Nean langsung membuka komputer.
"Saya keluar dulu, permisi." kata Rena lalu mundur. Membalikkan badan dan membuka pintu.
Setelah keluar Rena pun menendang pintu Presdir, ia terkejut ketika menimbulkan suara cukup keras. Mengintip di jendela, ia langsung kabur ketika Nean menatapnya dengan tajam.
Membuat sang Presdir menggelengkan kepalanya. Menatap komputernya dan mengerjakan tugas yang sengaja ia kumpulkan menjadi gunung.