
"Bagaimana kondisi mu, Zen?" Rena mendekati brankar Zeina. Zeina melirik dengan tersenyum kecil, ia menarik tangan sahabatnya supaya lebih dekat dengannya. Ia memeluknya.
"Aku takut.. dia jahat, Ren." Lirihnya.
Rena tersenyum hambar, diliriknya wajah Zeina yang memeluknya dengan menutup mata seolah penuh menghayati. Namun Rena dengan cepat segera menenangkan sahabatnya.
"Semua akan baik-baik saja,Zeina. Aku akan menjaga mu, kau tenang saja. Tidak akan ada yang berani menyakiti mu lagi." ucap Rena
"Rena," Zeina melepas pelukannya.
"Apa, Zen? kau membutuhkan sesuatu?" tanya Rena.
Zeina menggeleng, namun ia menatap ke perutnya. "Apakah dia akan membesar? aku tidak akan hamil kan, Ren?" tanya Zeina lirih.
Rena terkejut bahkan tanpa sadar menelan Saliva nya. "Kau melakukan hal itu hanya sekali kan, Zen? katakan!" ucap Rena mengguncang tubuh Zeina.
"Sesekali.. dalam se jam."
Deg!
Rena bahkan sampai terjatuh mendengar itu, ia tak menyangka sahabatnya bakal menjadi pelampiasan ***** om nya.
"Maafkan aku yang tidak bisa apa-apa, Ren. Dia terlalu kuat untuk ku lukai," Zeina mengeluarkan air mata menatap Rena.
Rena menggeleng, "Semua akan baik-baik saja Zeina. Percaya pada ku, kamu tidak akan melahirkan anak itu. Ikhlas kan keperawanan mu dan jangan sampai stress, asalkan kau sehat aku tenang.."ucap Rena memeluk Zeina dengan erat.
"Terima kasih, Ren. Aku tak menyangka bisa kabur darinya," ucap Zeina.
"Heem. Aku tahu," ucap Rena.
"Kau kenapa?" tanya Rena menatap Zeina yang perlahan mulai melemas.
Zeina menggeleng. "Kepala ku cuman pusing.."
"Kalau begitu istirahatlah, aku menjaga di luar, ya?" ucap Rena kepada Zeina.
Zeina berbaring, sedangkan Rena menunggu Zeina hingga hampir mengantuk. Kemudian ia turun dari ranjang Zeina, mengamati sekeliling dengan penuh teliti. Selesai, ia menoleh ke arah Zeina dan tersenyum kecil. Menutup pintu pelan tanpa mengganggunya.
"Mama!!" Ucap Vano dengan melambaikan tangannya.
Rena tersenyum, kemudian ia duduk di samping Nean. Lelaki itu menoleh kepada Rena.
"Ada apa? kau cemas seperti itu?" tanya Nean. Kemudian pria itu melirik ke kamar Zeina yang transparan.
"Apa ada yang menjanggal?" tanya nya lagi.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan soal keselamatan nya hari ini. Tapi," Rena menoleh ke arah Nean.
"Tapi apa?"
"Akan sangat berbahaya apabila Zeina hamil," ucap Rena dengan menunduk.
"Sstt.. jangan berteriak. Kau bisa di usir, tuan. Pelan kan suara mu," ucap Rena.
"Maaf, tapi bagaimana bisa dia hamil? apa jangan-jangan.."
Rena menoleh dan mengangguk. Dengan menarik nafas ia kembali menunduk.
"Kasihan nasib nya," ucap ibu Rena yang sedari tadi cuman diam mengamati.
Nean mengangguk. "Hal seperti ini memang sering terjadi di kalangan atas, Rena. Bersabarlah aku akan menemukan dan menghancurkan orang yang sudah merenggut pw nya." ucap Nean.
Rena mengangguk. Tanpa sadar ia menggenggam erat tangan Nean. "Kau harus berhasil, tuan Nean. Aku ingin lelaki itu penuh menderita, berapapun umurnya. Seseorang yang tidak menghargai orang lain pantas mati." ucap Rena.
"I-iya.." Rena menoleh dan menunduk. Kemudian ia melepaskan tangannya dan tersenyum kecut.
"Maaf, spontan." Menyengir. Nean mengangguk, tersenyum,kemudian menggelengkan kepalanya.
"Mama, apa kita akan pulang?" tanya Vano.
Rena tersenyum tapi tidak menjawab. Ibu Rena yang paham pun mengalihkan pandangan Vano dan mengajaknya ke suatu tempat. Membiarkan Rena dan Nean berdua disana.
"Ren.." Bryant menatap Rena yang sedang duduk menunggu kabar darinya.
"Bry? apa kau sudah mendapatkan kondisi, Zeina?" tanya Rena menghampiri Bryant.
"Ia.. ini formulir nya. Aku jelaskan sedikit ya, sambil mengamati." ucap Bryant yang di angguki Rena.
"Kondisi Zeina saat ini sedang mengalami kelelahan mental dan juga stress. Untuk saat ini, Zeina tidak berhak dikelilingi orang banyak demi kesembuhan mentalnya. Oleh karena itu, untuk mu Rena sering-seringlah menemani Zeina supaya tidak mengalami stress berat." ucap Bryant berharap kepada Rena.
"Aku akan pasti menjaganya. Kemudian, apa tidak ada informasi lain?" tanya Rena.
"Iya.. apa kau tidak mendapatkan informasi lain mengenai kondisi, Zeina?" tanya Nean bergantian.
"Maksudnya?" tanya bryant yang kurang paham.
Rena dan Nean saling melirik. "Kau tahu, Zeina sudah tidak pw. Apa ada kemungkinan?.."
"Jangan berbicara sembarangan, Rena. Aku tidak mendapatkan informasi semacam itu, jangan ber negatif pikiran." ucap Bryant dengan emosi.
"Maaf, aku gak bermaksud. Tapi syukurlah jika tak ada hal semacam itu," ucap Rena lega.
Nean mengangguk. "Lalu bagaimana dengan keamanannya? Kita kan bergilir menggantikan posisi masing-masing untuk menjaga Zeina. Apa pendapat mu, Bryant?" tanya Nean.
"Soal keamanan Zeina... Aku belum berpikir. Tapi pendapat ku dia di rawat di rumah saja," ucap Bryant.
"Rumah mu?" tebak Rena.
Bryant mengangguk. Rena menarik nafas dan tersenyum. "Oke lah," ucap Rena.
Bryant tersenyum dan enam mata itu melirik Zeina yang sedang tidur pulas di atas brankar dengan damai.