My Parent'S

My Parent'S
Chapter 29_Gak ada angin kok tertarik?



Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian pasien. Rena pun keluar dari kamar mandi, ia menatap Nean yang duduk di sofa dengan handphonenya.


"Tuan, anda tidak mencari keberadaan Vano?" Tanya Rena duduk di ranjangnya.


"Untuk apa? ia pasti berada di tempat yang aman sekarang. Bersama dengan Oma nya, yang tertawa lebar. Lihat saja, besok ia akan kembali dengan wajah sumringah. Mengira kita telah melakukan hal itu, bahkan menyentuh mu saja aku tidak Sudi." Ujar nya panjang kali lebar.


"Cih, menjijikkan." Gumam Rena.


"Menjijikkan? Untuk siapa kau melontarkan kalimat itu?" Tanya Nean menurunkan handphonenya.


"Untuk mu, biasanya para wanita lah yang menjual harga dirinya mahal. Tapi tidak, disini kau yang menjual harga diri mu jauh lebih mahal dari pada para wanita. Menjijikkan," ucap Rena.


"Heh, jaga bicara mu. Aku orang yang terpenting disini, jika reporter merekam pembicaraan mu. Penggemar ku lah yang akan membuat harga diri mu rendah, lalu para reporter akan mencari mu dan membuat seluar negeri heboh." Ucap Nean.


"Lihat saja nanti, aku bisa menyelesaikan semuanya. Termasuk drama yang di susun oleh ibu mu,"


"Maksud mu? kau ingin bermain juga?" Tanya Nean.


"Why not? Ini mudah. Kita hanya perlu drama acting kau telah melecehkan ku lalu aku akan menghilang dari Indonesia dengan keluarga ku." ucap Rena


"Kau bilang apa?! Lalu? Apa keuntungannya untuk ku?" Tanya Nean mengerutkan keningnya kesal.


"Keuntungannya adalah.. Kau tidak akan melihat ku lagi, dan kau akan senang karena itu iya kan? Lalu yang kedua orang tua mu tak akan memaksakan kehendaknya kepada ku. yang ketiga...Vano akan mencari ibu yang jauh lebih baik dari pada aku! sangat mudah bukan? keuntungan ku juga hampir sama seperti mu." jelas Rena.


"Hah? Lalu, jika para wartawan tahu aku telah melecehkan wanita dan kau kabur. Para penggemar dan wartawan pasti menertawai ku. Apa kau tidak berpikir sampai kesana?" Tanya Nean.


Haishh, pria ini sulit sekali di jebak! Gumam Rena tak suka.


"Bukan sulit, kau yang tidak memikirkan matang-matang." Ujar Nean.


"Kau tahu dari mana isi otak ku hah!" Ucap Rena.


"Wajah mu, aku memiliki kemampuan membaca ekspresi seseorang. Kenapa? Kau keberatan?" Tanya Nean.


"Cih, lalu kau setuju atau tidak?!" Tanya Rena.


"Tentu saja tidak! Kau tidak akan menjawab ucapan ku tadi. Mau taruh dimana muka ku jika mereka menertawai ku?" Tanya Nean.


"Tuan Nean, itu tak akan mungkin! Singkirkan mereka itu semua. Kau kan kaya, kau bisa membungkam mulut mereka dengan ancaman dan uang bukan? Kau yang bodoh!" Ucap Rena menekankan kata-katanya.


"Benar, tapi.."


"Tuan Nean, aku mohon! Aku sudah muak dengan ini semua, aku tak mau menikah dengan mu yang sudah berkepala 3." Ucap Rena.


"Ya walaupun begitu, aku masih kuat dan tak lemah seperti diri mu." Ucap Nean.


"Apa maksud mu? Kau menilai ku dari sudut pandang mana hah!" Emosinya.


"Pikir saja sendiri." Ucap Nean.


"Tuan Nean yang terhormat, saya tidak lemah! Anda bisa saya kalahkan dengan karate saya, mau coba?" Tanya Rena.


"Bagaimana kalo di ranjang? Mau di coba?" Tanya Nean dengan spontan.


"Tuan Nean!!! Pikiran anda mesum sekali!!!" Teriak Rena melemparkan bantal-bantal bahkan seprei pun jatuh di lantai.


Tak ada barang lagi ia memukul Nean dengan tangannya, berulang kali Nean menghindar dengan tawaan yang menggelar disana. Hingga pada akhirnya, Vano dan Ny.Alvin TOS bersamaan.


Grep


"Aaaaakhh.." Teriak Rena ketika Nean menarik tangannya. Membuatnya duduk di pangkuan Nean.


"Kau mau apa hah? Lepaskan, jangan mengekang ku! Dasar pria mesum tingkat dewa!!" Teriak Rena.


Nean memandangi Rena dengan senyuman di bibirnya. Ia terus memandanginya, hingga ia merasakan gangguan terhadap aktifitasnya. Ia mengempit tangan Rena dengan satu tangannya. Sementara itu tangan satunya memegangi pinggul Rena agar semakin dekat.


"Dulu aku buta karena cinta, tapi tidak dengan sekarang. Kebutaan itu telah kau sembuhkan, bagaimana jika kita melakukan hal yang di inginkan anak kita?" Tanya Nean berbisik.


"A-Apa maksud mu.. geli ******!" Ucapnya.


Nean malah mengeratkan pelukannya. membuat dagunya ada di bahu Rena, ia menghi*ap pelan bahu Rena.


"Tuan, anda mau melakukan apa? jangan begini.. A-Aku belum siap." Ucap Rena.


"Aku menginginkannya kelinci berkulit harimau." Bisik Nean.


"Mana ada? Kelinci jauh sangat berbeda dari harimau." Gumam Rena.


"Ah sudah lah,"


Cup


Nean mencium Rena sekilas membuat Rena tertegun.


"Tuan, ada angin apa anda mencium saya?" Tanya Rena.


"Tidak ada, aku hanya menginginkan mu.." ucap Nean.


"Tuan, lepaskan saya.. tangan saya masih sakit.."


Seketika tangannya pun terlepas dari tangan Rena. Ia langsung berubah panik.


"Maaf, kau tidak papa?" Tanya Nean


"I-Iya.. aku baik-baik saja..Bisakah anda melepaskan saya?" Tanya Rena.


"Maafkan aku, sekali lagi aku minta maaf.."


"Iya, tidak apa-apa tuan."


Seketika suasana menjadi canggung, Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini sih? Aroma tubuhnya dengan tampang kegemasannya membuat ku tak bisa menahan diri_Nean


Haha, rasakan itu. Hufft untung saja aku tak menyerahkan tubuh ku kepadanya, tuhan.. terima kasih! aku harap kau telah memberikan kesialan yang justru menjadi keputusan yang terbaik untuk ku._Rena