
"Ayo dong, Ren! bentar lagi sampai!" ucap Bryant dengan tak sabaran menyelamatkan sahabatnya itu.,
"Kamu duluan aja, ada telepon dari Nean." ucap Rena dengan buru-buru mengambil ponselnya.
Bryant berhenti menoleh ke arah Rena. "Gak usah di angkat!"
"Siapa tau penting, Bry." ucap Rena menolak.
"Udah gak usah! kamu pasti udah izin dengan Nean itu kan?" ucap Bryant tak suka.
"Iya sih tapi-"
Bryant sudah keburu menarik tangannya dan menarik nya ke dalam rumah. Sebentar lagi polisi datang dengan beberapa kawan lainnya. Sementara itu Bryant dan Rena maju duluan memasuki rumah itu. Dengan kesempatan dalam kesempitan mereka berhasil masuk.
"Kita akan ngelakuin apa lagi nih? Kita udah masuk ke dalam area kolam," ucap Rena.
"Gak tahu, yang penting tunggu aja. Tujuan kita adalah memeriksa satu persatu kamar," ucap Bryant.
"Ya Allah bry, tingkah mu kayak bukan CEO." Rena menggeleng
"Bodo amat, ayo!!" ucap Bryant kembali menarik tangan Rena dengan kuat masuk ke dalam rumah. Mereka menaiki satu tangga tapi karena ada pelayan, Bryant menarik tangan Rena bersembunyi di bawah tangga.
"Njir! ada pelayan," ucap Bryant.
Rena menoleh dengan tatapan kejutnya, tapi tak berani menjawab.
"Ayo ren, cepet!" ucap Bryant menaiki tangga dengan berlari. Dibawah Rena juga dengan menunduk mengikuti Bryant.
"Tunduk!" Bryant mendorong kepala Rena supaya menunduk ke lantai.
"Sshh.. apaan sih bry, dorong-dorong kepala orang gitu" ucap Rena.
"Ada orang Ren, Lo mau ke tangkap?" ucap Bryant.
"Gak sih. Tapi dimana?" tanya Rena.
"Udah jangan ngebacod, kita masuk aja!" ucap Bryant.
"Nunduk nunduk Ren.. jangan dongak gitu ya Allah!!" Peringat Bryant.
"Iya sabar. kita ngecek kamar yang mana dulu?" ucap Rena.
"Ya yang ada pintunya." ucap Bryant.
"Anjir jawaban Lo gak jelas gitu." Sewotnya.
"Gak papa," ucap Bryant dengan maksud tertentu.
Rena pun membuka dengan perlahan satu persatu pintu hingga ke pintu akhir
"Jingan! semua di kunci," ucap Rena dengan kesal.
"Iya ya Allah jahat banget yang punya rumah, Udah susah-susah masuk gini juga." ucap Bryant.
"Sstt diam Lo, bry. Ada orang kesini," ucap Rena sembunyi di samping lemari pajangan.
Bryant ikut menoleh mengamati pria itu yang membawa nampan. Mata Rena melotot dengan indahnya menatap pria itu membuka kunci satu kamar.
"Kayak nya itu zeina, Lo yakin ini rumah penculiknya? salah, gw penggal pala Lo." ucap Rena.
"Demi tuhan, Ren. Iya!" ucap Bryant capek.
"Ya udah ayo," ucap Rena hendak berdiri.
"Eh Ren Lo mau kemana? kita tunggu kesempatan dalam kesempitan aja." ucap Bryant khawatir Rena kenapa-napa.
"Kita sogok tuh orang pake kartu Lo, pasti mau." ide konyol.
"Bego! gak gitu juga ini rumah orang kaya, bisa jadi itu asistennya. kita tunggu kesempatan aja renn." ucap Bryant
"Iya tapi sampai kapan? ada kamera lagi." ucap Rena melihat satu kamera ke arahnya.
"Mana? oh iya! gimana nih bentar lagi ketahuan." paniknya.
"Bego!" umpat Rena dengan kesal.
"Aaakkhhh!!"
"Anjin*, Zeina!" ucap Rena terkejut.
"Rena!!"
"Ayo Bryant nyawa zeina bahaya!" ucap Rena dengan berlari.
Brak!
Rena menatap seorang pria memasukkan paksa sendok sup ke dalam mulut Zeina yang tengah duduk. Mata keduanya menoleh ke arah Bryant dan Rena yang menelusup.
"Kalian!" berdiri.
Prang!
Melemparkan sendok dengan kesal. Semua rencana nya gagal.
"Zen, Lo gak papa? tenang aja kita berdua akan nyelamatin Lo!" ucap Rena.
Zsina tersenyum tipis, "Pak gak usah, mereka teman-teman saya."
Pria itu menoleh dengan menunduk, "Baik kali ini saya akan melepaskan mereka. Tapi.. konsekuensi nya akan kalian tanggung sendiri." ucap nya.
Zeina mengangguk, kemudian pria itu pergi dengan membawa nampan dan mangkuk.
"Siapa, tadi siapa?" tanya Rena duduk di samping Zeina.
"Ini rumah om ku, Ren. Aku-"
"Tunggu, kenapa badan Lo banyak memar!" ucap Rena dengan mata melotot.
"Gak papa, aku baik-baik aja." dengan tertawa renyah.
"Pasti sakit, kan?" tanya bryant.
Aku tidak mungkin mengatakan jika kalian telat menyelamatkan aku. Mereka sudah susah payah kemari..
Zeina hanya mampu tersenyum tipis saja. "Zen, kita keluar yuk? ayo.." paksa Rena
"Gak usah, Ren aku gak mau mengambil resiko. Kalian aja,"
"Zen, Lo gak hargai kami ??" ucap Rena dengan cemberut.
"Hargai, tapi aku gak mungkin kabur dari rumah om? ini urusan keluarga, Ren." ucap Zeina
"Urusan keluarga apa Lo sampai di pukuli gitu." tanya Rena.
"Udah takdir maybe?" ucap Zeina dengan nanar.
"Ck, aaaaaahhhh .... susah banget sih Lo kalau di omongin. Kalau kita udah bilang ayo keluar ya ayo! gak usah nolak," ucap Bryant menarik tangan Zeina.
"Gak usah bry, akh..saki-sakit bry." ucap Zeina.
"Bry jangan kasar gitu," ucap Rena
"Dia gak mau keluar, Ren. Dia kalau kenapa-napa gimana? Lo belum nikah," ucap Bryant.
Jleb!
Zeina langsung sesak didada, ia menangis dengan menunduk.
"Tuh kan! Lo sih kasar, udah di bilang jangan kasar kasar.." ucap Rena menepis tangan Bryant.
Zeina mundur, dia menggeleng dengan menangis. "Kalian keluar aja, gua gak bisa keluar dari sini. makasih udah berjuang, gua gak papa." Menarik nafas.
"Gak ada masa depan cerah lagi, Ren. Gua udah gak perawan!"
Jleb!
"L-lo.."
"Iya gua udah gak perawan.." ucap Zeina merosot kebawah.
"Enggak! ini gak mungkin,"
"Apa yang gak mungkin! kalian terlambat," Zeina terkekeh kepedihan.
"M-maafkan kami, Zen walaupun Lo enggak perawan tapi pasti ada yang mau nikah sama Lo! namanya takdir ya udah takdir gak dapat di rumah dalam keadaan apapun. Contohnya ya kayak gini, l-lo gak perawan.."
"Gak Ren gak! gue gak percaya akan ada hal gituan, gak papa sumpah! aku disini aja, gua gak mau kalian terluka. Keluar Ren, bry!" ucap Zeina dengan teriak.
"Gak bisa, Lo harus ikut dengan kami." Bryant mulai mendekat dan menggendong Zeina.
"Bry lepas! Lo apa-apaan sih Lo terluka nanti bry!!"
"Bagus bryant, jangan berhenti. Zeina kita akan keluar bersiap-siap lah," ucap Rena.
"Gak! gua gak bisa!!" Teriak Zeina.
Tanpa memperdulikan teriakan Zeina, Rena dan Bryant berlari keluar dari rumah itu. Menuju mobil dan melaju meninggalkan rumah mewah itu. Zeina menangis terisak-isak bahwa dirinya tak menyangka bisa keluar dengan aksi nekat kedua sahabatnya. Rena memeluk Zeina dari samping.
"Akan ada yang menikah sama Lo, Zeina. gak masalah, asal Lo hidup kita berdua senang. Setidaknya demi kami Lo akan tetap hidup, demi kami." ucap Rena dengan lirih.
Zeina menahan sesak di dada, ia tak menggubris ucapan Rena dan dirinya mulai melemah. Ia bersandar dengan menatap ke arah luar.
"Kita akan pergi dari negara ini," ucap Bryant.
"H-hah!?"
"Iya kita akan keluar dari negara ini, Ren. Gak aman lagi sebentar lagi, bagi kalian." ucap Bryant.
"Iya! ide bagus! dengan begini kita akan aman dan hidup sejahtera,"
"Urus paspor kita bertiga, Ren. di ponsel situ ada nomor *********. Tekan aja," ucap Bryant melemparkan ponselnya kepangkuan Rena.
"Oke."
Di perjalanan, Rena dan Bryant sibuk mengurus kepergian mereka dari negara Amerika. Sedangkan Zeina hanya bisa menutup mata sesekali ketika ia sedikit tak menerima ucapan Bryant. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Dan meyakinkan diri juga bahwa keputusan kedua sahabatnya akan bersinar.