
Disisi wanita muda itu. Ia tengah membuka matanya, samar ia menatap ruangan putih dan dia berada di lantai. Ia pun bangun mencoba duduk, namun perut nya terasa memar dan terluka. Ia memegang perutnya sembari berdiri karena itu adalah jalan satunya untuk bisa bangkit dari lantai yang dingin.
"Hhhahh... aku dimana." lirih Zeina merasakan perut nya kram.
Klek.
Zeina waspada, ia meringsut ke bawah sembari memegangi perutnya. Menatap seorang wanita tua berjalan kearahnya.
"Nona muda ini makanannya." ucap nya meletakkan nampan berisi makanan. Tidak mewah dan tidak sederhana. Ini cukup, dari makanan pembuka dan makanan penutup.
"S-siapa kamu, kenapa aku disini?" tanya Zeina dengan lirih.
"Maaf nona saya hanya menjalankan tugas. Makan lah makanan anda sebelum dokter tiba. Saya akan mengawasi anda disini," ucap nya mundur beberapa langkah kemudian menatap nya.
"Aku tidak mau makan, bi. sakit," lirih Zeina.
"Maaf nona, silahkan makan makanannya." ucap nya.
Zeina menggeleng dengan meringis, ia mulai merebahkan kembali tubuhnya di lantai. Merasakan tubuhnya yang tergoyahkan membuatnya lemas. Apa lagi perutnya yang terasa seperti di aduk-aduk.
Ceklek.
Bibi itu menoleh, ia menunduk hormat. Mengikuti satu dokter yang berjalan menuju Zeina. Melihat nampan berisi makanan yang masih utuh.
"Dia belum makan, bi?" ucap dokter itu. Bibi itu menunduk dengan wajah bersalahnya.
"Maafkan saya tuan, dia mengaku sakit dan tidak bisa makan." ucap bibi itu.
Pria itu mengangguk, menatap Zeina dengan wajah yang iba. Kemudian dia membalik tubuh Zeina, menatap dari atas ke bawah. Bibir putih memucat, tangan bergemetar serta diiringi rintihan manis Gadis itu.
Ia pun memeriksa denyut nadinya, sedikit terkejut. Kemudian ia mulai menaruh stetoskop di dadanya. Kemudian dia terlihat menghembuskan nafas dari mulutnya pelan. Beralih memeriksa perut nya, ia menyipit.
"Apa parah dok?" ucap Zeina dengan pelan.
Pria itu nampak tidak menjawab ucapan Zeina. Ia menaruh alatnya di koper. Menatap bibi disampingnya dengan iba. Ia menggelengkan kepalanya membuat wanita tua itu menarik dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Mari saya antar anda ke kamar nona." ucap nya.
"Aku kenapa dan dimana aku!" ucapnya dengan suara besar.
"Nona pelan kan suara anda, menurut lah." ucap bibi itu.
Zeina pun kembali meringis, ia terjatuh ditangan dokter pria itu. Ia mengisyaratkan untuk membawa Zeina dia saja. Mulai menggendong Zeina menuju kamar.
Setelah menaruh Zeina dengan pelan di kasur, ia menyeret selimut sampai ke dadanya. Kemudian keluar untuk berbicara dengan tuan rumah.
"Dimana tuan bi?" ucap nya.
"Tuan sedang tidak disini, ia sudah tidak ada semenjak subuh tadi tuan." ucap bibi itu.
Dokter itu mengangguk. "Aku akan menunggu di ruang tamu saja." ucapnya.
"Baik, saya akan membawakan anda cemilan dan minuman untuk anda." ucap bibi itu.
"Tidak usah repot-repot bi, aku hanya sebentar kok." Dokter itu menarik kopernya. Berjalan menuruni anak tangga dan duduk di sofa. Mengetik di nomor pria itu...
Kondisi Zeina sangat parah,kau memukulnya berapa kali? kemungkinan rahim nya tidak akan selamat karena pukulan di perutnya. Bodoh.
****
"Hais! Dimana Zeina pergi? coba lacak lagi," ucap Rena yang sudah dari tadi bertemu dengan Bryant. Kali ini ia berada di apartemen sahabatnya, menatap komputer Bryant yang sedang mencari keberadaan Zeina.
"Iya sabar ren, ini aku juga lagi berusaha. Memang melacak menurut kamu itu mudah?" ucap Bryant.
"Kan aku takut kalau Zeina kenapa-napa." Dengus Zeina dengan kesal.
"Iya tunggu sebentar dong," ucap Bryant.
"Dari tadi kamu ngomong itu doang. Basi tau," ucap Rena membalikkan badannya.
"Lihat, ini sudah tidak basi lagi! berhasil menemukan keberadaan Zeina."
"Apa! dimana?...."