My Parent'S

My Parent'S
Chapter64_SeorangGadis?



Vano terkejut dikala anak panah itu menancap di pasir, dadanya getar dengan hebat bahkan sekujur tubuhnya mengikuti dadanya dengan memandang si supir yang pingsan akibat syok mendalam. Kejadian tak diduga itu berhasil di tangkap oleh orang tua Vano.


Hal yang diketahui Rena ada seorang cewek yang menyadarinya kemudian dirinya kabur dengan sangat cepat.


"Ibu!!" Teriak Vano berlari ke arah Rena.


Rena pun berjalan ke depan dan menangkap tubuh Vano seraya memeluknya. Ia menangkup wajahnya. Memandanginya dengan cermat wajah ketakutan itu.


"Kau tidak papa? sudah sudah, semuanya berlalu?" ucap Rena memeluk Vano. Jika dikatakan dirinya takut, jelas saja ia takut. Bagaimana bisa Vano disini sendirian dan nyawanya hampir terancam


"Ibuu," Isak Vano yang tak menjawab ucapan Rena.


"Sshhtttt tenanglah," ucap Rena. Beberapa detik kemudian dirinya memandangi Nean yang sudah memapah lelaki yang pingsan itu.


"Ayo, kita pulang." ucap Nean.


Rena mengangguk. Ia menggendong Vano yang masih syok bahkan terisak-isak.


****


"Papaa!!!! Vano hilang papah!!!" Teriak nyonya Alvin frustasi ketika tidak ada Vano. bahkan sudah setengah jam ia mencari di seluruh sudut rumah sembari memanggil nama anak itu tapi tidak ada tanda tanda Vano ditemukan.


"Apa sih, mah? kok teriak-teriak, papah ini belum budek Loh." ucap nya datang.


"Vano i-" Matanya langsung menoleh ketika melihat bayangan yang datang dari sampingnya.


"Hah!" Ia terkejut ketika menatap Vano yang di gendong Rena dengan Nean yang menggotong seorang lelaki.


"Apa yang terjadi!?" ucap nyonya Alvin.


Rena menggeleng. Ia seraya mengkode untuk diam sebentar karena kejadian ini masih trauma dalam yang dimiliki oleh Vano. Anak kecil itu dibaringkan di atas tempat tidur. Ketika Rena bangkit Vano memegang tangannya dan menatapnya nanar.


"Sudah ya? jangan sedih lagi, mama ada disini." ucap Rena.


Vano berkaca-kaca. Ia bangkit dan memeluk Rena kembali, menangis disana hingga bahu Rena terasa basah. Namun ia seolah tak peduli dan mengelus punggung anak kecil itu.


"Ada apa ini, Nean? kenapa Vano bisa syok gitu?" ucap nyonya Alvin didepan pintu Vano.


"Kita keruang tamu,yuk. Biarkan Vano tidur," ucap Nean.


"Tapi-"


"Sudah ma, betul juga ucapan Nean. Sebaiknya kita tak menganggu supaya Vano bisa istirahat." ucap nya.


"Baiklah.." ucap nya kemudian berjalan mengikuti anaknya itu.


Setelah duduk, tak ada tanda-tanda bagi Nean untuk berbicara. Lelaki itu membuka kakinya dan menaruh tangan di atasnya. Dan merapatkan jemarinya sembari kepala ditundukkan kebawah. Sebagai seorang lelaki yang sudah mengurus Vano bertahun-tahun. Ia juga sedikit syok, kejadian ini tepat sekali didepannya. Mungkin, jika tanpa si supir menyelamatkan Vano ia tak akan Sudi menggotongnya.


"Nean," ucap tuan Alvin


"Ada anak kecil, pah. Anak kecil itu seumuran dengan Vano, dia juga tadi memegang alat panah. Mana mungkin seseorang menyelakai nya jika bukan dia? Itu aneh," ucap Nean menjelaskan secara pelan.


"Kamu jangan mengada-ada Nean, anak kecil itu tulangnya masih lembut jadi tidak mungkin dia di didik terlatih. Bisa-bisa anak kecil itu tulangnya akan patah," ucap tuan Alvin.


"Jika papah tak percaya coba tanya ke Rena, dia 80% melihatnya. Karena anak kecil itu lari ketika melihat kami, mungkin bisa saja dia hanya menguasai ilmu itu. Dan anak kecil itu pasti suruhan orang, atau musuh kita yang kita tidak tahu." ucap Nean.


"Nean, jika itu adalah kebenarannya papah akan ikut membantu untuk menangkap anak kecil itu berserta orang suruhannya." ucap tuan Alvin.


"Ia Nean, kau tidak perlu takut. Kami akan membantu mu, sekarang istirahatlah." ucap nyonya Alvin.


"Hmm.." ucap Nean. Tanpa basa-basi lagi dirinya berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu. Ia sempat berhenti didepan pintu. Yang nyatanya Rena juga keluar dari sana.


"Tuan Nean?" ucap Rena.


"Istirahatlah," ucap Nean singkat kemudian pergi dari sana.


Rena menghela nafas kemudian pergi ke kamarnya.