
"Kakak, kakak mau kemana-?" seorang bocah sedari tadi yang berlari mendekat ke Rena pun akhirnya menanyakan Rena.
"Kamu siapa dek-?" tanya Rena.
"Saya Vano, pria yang tadi kakak selamatkan waktu di jalanan-" ucap Vano.
Rena agak bengong, ia pun langsung manggut-manggut ketika mengingat Vano yang ada didepannya ini.
"Oh kamu pria tadi, kamu kok bisa nyusul kakak sampai di sini-?" tanya Rena
"Rian yang telah membawa ku sampai ke bandara, kak-" ucap Vano menunjuk pria yang berjalan mendekat.
"Selamat siang-" ucap nya agak menundukan badannya hormat
"Siang-" ucap Rena menjawab.
"Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya, tuan muda saya memaksa kami untuk menemui anda. Saya yang hanya bawahannya tidak bisa bertekad atau menolak keinginan tuan muda saya-" ucap Rian sambil menatap mereka semua satu persatu yang bengong menatap dirinya
"Ayo jelaskan Rian, tujuan kita ke sini-!" ucap Vano memaksa.
"Jika kalian berkenan untuk membagi waktu kepada kita, kalian bisa datang di alamat ini-" ucap Rian menyodorkan kartu nama di depan Rena.
"Maksud nya-?" tanya Rena
"Tuan.."
"Kakak, aku mengundang kalian makan malam di sekaligus mengobrol tentang pertimbangan. Aku akan mengenalkan kalian ke keluarga ku, kakak akan datang kan-?" tanya Vano
"Ah..ayah..Apa yang harus aku lakukan-?" tanya Rena menatap ayahnya. Ia tidak bisa berkata kata, apa ini rencana Tuhan untuk memperhentikannya pindah ke Singapura?
Ayahnya hanya mengedikan bahu nya seraya keputusan sekarang berada di tangannya. Rena pun melirik sahabatnya di sebelah kanannya, namun mereka segera menoleh ke arah lain. Anggap saja mereka juga bimbang dengan semua nya
"Saya.."
"Keuntungan anda juga akan anda ketahui setelah anda datang, segala sesuatu yang anda inginkan akan segera terwujud jika anda datang. Anda tidak perlu risau, dengan sedikit memaksa saya harap anda datang sesuai permintaan tuan muda-" ucap Rian.
"Kakak akan datang kan-?" tanya Vano.
"Baiklah baiklah, aku akan datang-" terpaksa ia harus mengatakan itu. Kepala nya sudah pusing sekarang.
"Makan malam akan kami tunggu sesuai jam di kartu tersebut. Kami permisi dulu, selamat siang-" ucap Rian lalu menggandeng Vano untuk pergi dari sana.
"Gue enggak ngerti apa yang harus gue lakukan-" ucap Rena.
"Yes-! gak jadi pindah ke Singapura-" seru Bryant
"Ya sudah, anggap saja ini keberuntungan. Lagi pula ayah juga memiliki kesalahan besar karena berpisah kepada kalian. Nanti nak Bryant dan nak Zeina akan datang atau tidak-?"tanya ayahnya.
"Iya, kami tidak bisa berjanji. hanya bisa mengusahakan-" ucap bryant.
"Baiklah kalo begitu, pesawat sudah lepas landas. sebaiknya kita kembali ke rumah masing-masing-" ucap ayahnya.
"Biar saya antar om-" ucap Bryant bersemangat.
"Terima kasih atas perhatiannya, tapi KITA sudah membawa MOBIL SENDIRI-" ucap Rena lalu pergi meninggalkan Bryant dan Zeina.
"Dih, di tolong enggak mau-" ucap bryant.
Zeina hanya menggelengkan kepalanya.
"Bry, Lo mau gak Nemani gue ke mall-?" tanya Zeina
"Ngapain-?" tanya Bryant menoleh ke Zeina.
"Belanja, persediaan rumah gue habis. Sekalian ada tumpangan mwehehehhee-" ucap Zeina.
"Berangkat ajah sendiri, gak Sudi gue-" ucap bryant menarik kopernya meninggalkan Zeina.
"Bry, Lo tega amat sih. Kalo gue di apa apain gimana-?" tanya Zeina.
"Ya itu urusan Lo, udah sana ah jangan ganggu mau istirahat gue-" ucap Bryant menghempaskan tangan Zeina sambil meletakkan koper nya di bagasi mobil.
Zeina menatap Bryant dengan sedu, ia pun memalingkan muka ketika Bryant menatap nya.
"Masuk Zen-!" ucap Bryant dari dalam mobil karena tidak tega menatap wajah melas Zeina.
"Beneran nih-?" tanya Zeina jaga jaga
"Masuk kagak-" kali ini Bryant menatap Zeina sambil menurunkan kaca mobilnya.
"Iya iya gue masuk-" ucap Zeina lalu memasukan koper nya ke kursi belakang. Setelah duduk di kursi depan, Bryant menancap gas nya.
Beberapa lama perjalanan, Zeina menatap sekitar. Kenapa tidak sesuai arahan yang ia inginkan?
"Kita mau kemana, bry-?" tanya Zeina
"Ke pasar-" ucap Bryant singkat.
"Lah, gue kan pengen ke mall bry. Ngapain kita ke pasar-?" tanya Zeina heran.
"Pelihara monyet-" ucap Bryant..