
Setelah melaksanakan resepsi pernikahan dengan Rena dan Nean sebagai pemula acara pernikahannya kelak dan tidak terkejut mengenai pernikahan mereka.
Nean dan Rena sedang beristirahat di ruang tamu dengan memakai dress yang dipilih Rena. Ia terlihat kelelahan dengan acara hari ini. Make up yang terasa berat dengan bawaan atas kepala yang berkilo-kilo mencapainya.
Tak disangka pilihan calon mertuanya itu sangat legendaris menurutnya. Sederhana namun mewah, hiasan dinding dengan setiap sudutnya hanya terdiri dari lampu warna-warni dengan bunga yang terlihat bagus. Juga bermacam-macam warna nya. Membuatnya terkesan lebih indah dan enak dipandang.
Sedangkan kedua orang tua Rena baru saja masuk ke dalam. Ia habis mengantarkan tamu penting yang datang dari luar negeri tadi. Namun wajah mereka tidak seperti biasanya dan sebahagia tadi. Mereka datang dengan raut wajah gelisah serta tegang.
Rena bisa melihatnya dengan jelas. Sedangkan Nean seraya memaklumi saja dan terlihat biasa saja walau tau hal itu. Sebab pasti mereka juga kelelahan.
"Kenapa, ma?" tanya Rena.
Mereka terlihat berdiri saja. Menyembunyikan orang dibelakangnya yang membuat Nean penasaran setelah menyadari keanehan orang tuanya.
"Siapa di belakang?" Ucap Nean.
Ia tidak suka surprise karena itu adalah hal mengejutkan. Karena itu ucapannya sangat dingin sebab ia tidak bisa menerima jika surprise nya bertentangan dengan apa yang ia inginkan dan harapkan.
"Flower." ucap mereka yang seketika membuat Nean berdiri dan terkejut. Menjatuhkan ponselnya yang sontak membuat Rena ikut berdiri.
Mereka pun menyampingkan badan mereka dan memperlihatkan gadis cantik dengan pakaian seksi dihadapan mereka.
"Flower? siapa?..."
Deg
Rena terkejut ketika menyadari sesuatu. Beberapa hari yang lalu ibunda Nean mengatakan bahwa akan ada tamu spesial yang datang dirumah. Dan soal tamunya jangan di beritahu Nean dan itu rahasia. Ia adalah seorang perempuan yang akan menjemput Vano. Jelas ia tahu siapa wanita didepannya. Wajahnya dan auranya sangat me*er*s hatinya.
Ia tak siap apabila Vano memilih wanita didepannya dibandingkan dengan mereka. Hari yang ditunggu Rena sampai setelah berharap bahwa wanita itu tidak datang.
"Kau kenapa kembali? apa ingin mengambil Vano? dia anak ku sekarang, dan Rena adalah ibunya." ujar Nean dingin kepada sahabatnya.
Flower terlihat tersenyum menatap sikap aneh Nean. Ia tahu, Nean pasti membencinya.
"I know, but aku sudah memilki keputusan mengenai itu, Nean. By the way, kamu bicara tidak seperti biasanya? aku datang tidak sesuai harapan mu ya?" ucap Flower.
"Sangat luar biasa." ujar Nean dengan menekan kata-katanya. Dari kata-katanya ia sedang menyindir flower yang datang tiba-tiba.
"Mommy..." Vano datang dengan kedua temannya dari lantai atas.
Deg
Prangg
Ia menatap wanita didepannya dan seketika dirinya menjatuhkan mainan yang sedang ia pegang. Wanita yang sama ketika ia melihat disuatu foto ditempat kamar Nean. Hanya saja tampilannya berubah dan wanita itu terlihat berambut pendek.
"Vano?"
Kenapa mereka ada 3, dimana anakku? Gumam Flower.
"Keluar Flo, saya tidak mau kamu berada disini!" ujar Nean.
"Tidak, sebelum mendapatkan Vano." ucap Flower yang langsung membuat Vano mundur. Kembali menaiki tangga.
"Flo, jangan egois dia sedang bahagia bersama kami dan ibu barunya! kau tidak berhak mengambil Vano dari ku dan Rena." ujar Nean takut bahwa flower melakukan apapun hanya untuk mengambil Vano.
Flower menatap ke arah Rena tajam. Kemudian dirinya mendekat.
"Selamat, karena telah menikahi pria egois nan keras kepala seperti Nean." ucap Flower.
Rena tersenyum. "Dia perfek Dimata saya. Itu berarti saya cocok dengannya." balas Rena dengan tenang.
"Oh ya? kau hanya melihat topeng nya, Rena. Kau tidak bisa melihat sifat aslinya." ucap Flower.
"Saya tahu itu. Setiap manusia juga memiliki sifat yang tidak cocok dengan orang sekitar. Tapi Nean bisa menahan amarahnya dan egoisnya dari ku." ujar Rena.
Flower terdiam. "Sekarang silahkan pergi dan kami akan melakukan tindakan tepat untuk siapa yang Vano pilih kedepannya." ujar Rena.
"Tidak! aku tidak bisa percaya kalian begitu saja. Aku akan tinggal disini." ucap Flower.
"Flower, jangan kelewatan batas. Kau bukan siapa-siapa bagi kami, kau tidak bisa tinggal disini." ujar Nean.
"Aku tidak peduli dan aku akan merebut hak asuh Vano dari mu." ucap Flower.
"Nean. Tenanglah, sebelumnya ayah dan flower pernah bercerita dan bertukar pendapat kedepannya. Dan ini juga keputusan yang paling tepat bagi kami dsn Kita semua. Lagian, flower bukankah orang yang baik?" ucap Tuan Alvin.
"Tapi, pa. Nean tidak setuju flower tinggal disini terlebih lagi ada Rena." ucap Nean frustasi.
"Nean, lagian hubungan kalian belum menikah sah kan? biarlah Flower tinggal disini selama 1 bulan." ucap Nya.
"Papah gila! seminggu lagi akan ada acara pernikahan kami berdua sedangkan Flo? Nean tidak setuju!" ucap Nean keras kepala.
"Nean. Jangan membantah ucapan papa, ini keputusan yang terbaik." ucap nya.
"Baiklah jika kalian mengizinkan flower tinggal disini. Nean yang akan pergi," ucap Nean.
"Flower, satu bulan. Bermainlah dengan tenang..." ucap Nean dengan menatap tajam ke arah sahabatnya.
"Nean..." panggil Rena.
Nean menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan dan menggandeng tangan Rena keluar dari sana.
"Mommy!!!" Teriak Vano berlari.
Rena berbalik badan menatap Vano yang berlari ke arahnya. Memeluknya dengan menangis.
"Kalian mau kemana? jangan kemana-mana hiks..." tangis Vano.
"Ada teman-teman mu sayang..." bisik Rena dengan maksud yang dipahami Vano.
"Jika ada apa-apa telpon mama ya?" ucap Rena dengan tersenyum.
Vano mengangguk. "Tapi kenapa mama tidak tinggal disini?" ucap Vano
"Karena mama harus tinggal dengan orang tua dulu. Karna belum sah dengan papa mu, okey? nanti sering-sering lah mengubungi mommy mu ini..." ucap Rena dengan pelan sepertinya gumaman.
Cup
Rena mencium kening Vano dan mengelusnya dengan lembut. Kemudian mereka pun keluar dari sana bersama-sama.