
"Apa kamu suka rumah ini, sayang?"
Sore hari, nyonya Alvin mengajak Rena tuk bebincang ke rooftop sembari duduk santai disana. Melirik matahari yang perlahan akan bersembunyi dan berganti bulan nantinya. Dengan secangkir teh ditangan mereka masing-masing.
"Ia." ucap Rena.
"Rumah ini bagus bukan? ini rumah dari nenek moyang keluarga kami. Ia tinggal disini sejak kecil, sekitar 100 tahun yang lalu mungkin." ucap nyonya Alvin.
"Benarkah sudah selama itu? tapi kenapa bangunan ini masih kokoh?" tanya Rena.
"Itu karena keluarga kami merawatnya dengan baik. Dahulu ada sebuah cerita yang ku dengar, ini tak panjang dan mungkin hanya versi singkatnya. Jadi, dulu rumah ini adalah bangunan kecil yang hanya memiliki tembok dari daun pisang."
"Semacam gubuk?" tanya Rena.
"Ia. Lebih tepatnya seperti itu, namun dulu nenek moyang kami mengumpulkan uang dari hasil kerjanya di pegunungan. Ia menabung sedikit demi sedikit tuk membangun lebih besar rumah. Namun uangnya sering kali hilang entah kemana dan membutuhkan waktu bertahun-tahun tuk membangun rumah sederhana yang mau dibuat dengan tembok. Luas nya hanya sekitar 25 meter saja, dan tingginya tak seberapa dari pohon kelapa. Hanya setengah lebih rendah, ya karena uangnya juga dibagi tuk membeli perabotan. Nenek moyang kami sering kali membuat guci dari tanah liat kemudian dibakar. Dulu tanah liat tak mudah kami dapatkan sebab tanah liat itu barang yang berharga. Nenek moyang kami juga membeli tanah liat itu walaupun tidak seberapa. Hingga pada akhirnya, sisa uang berhari-hari yang ia kumpulkan dihari selanjutnya ia gunakan untuk membeli tanah liat itu setiap hari. Hingga ia memiliki sebuah rumah tuk menampung sisa sisa tanah liat yang tidak terpakai dan diolah ulang, karena kecerdasannya itu ia menjadi seorang pemilik tanah liat terbesar di kota ini. Banyak sekali pengunjung untuk membeli tanah liat higienis nya dan ia dapat memiliki uang pada akhirnya membangun rumah ini. Dan jika di pikir pikir, hidupnya yang sudah tidak berangsur lama ia serahkan kepada seorang wanita kepercayaan nya selama ia membuka toko. Dan beberapa hari setelahnya ia meninggal dan wanita itu menempati rumah ini dan berkeluarga. Bertahun-tahun hidup disini membuat mereka memutuskan membuat sebuah perjanjian yang dimana kertas itu tertampang di depan rumah ini. Dan di teras. Tak sembarang orang yang boleh masuk kesini karena rumah ini pribadi." ucap nya sembari menyeruput tehnya.
"Lalu, Bu?" ucap Rena.
Nyonya Alvin tersenyum dan menaruh gelasnya. Ia melanjutkan ceritanya.
"Hingga saat ini, rumah ini dulu tak pernah ditempati oleh kakak suami ku hingga cat nya terkelupas diolah ulang oleh suami ku dan dibersihkan setiap seminggu dua kali. Dan setelah sebulan kemudian kami bisa berkunjung kesini dengan membawa mu serta Vano yang akan menempati rumah ini kelak." ucap nya.
"Jaga lah rumah ini seperti nyawa mu, nak. Jangan biarkan nama kami ternodai," Ucap nya
"Pasti,Bu." ucap Rena.
"Kalian berbicara apa? serius amat dari tadi," ucap Nean mendekat.
"Istri ku nangis!?" mata Nean melotot menatap Rena yang mengusap matanya
"Apa sih! enggak." elak Rena.
"Amasa? dari tadi ibu bicaraaaa Mulu, gak ada henti-hentinya sampai telinga ku panas." ucap Nean.
"Kamu ini suka banget menguping! Dari dulu gak pernah berubah," ucap nya dengan menjewer telinga Nean membuat lelaki itu merintih. Sedang Rena ia tertawa puas.
"Ya salah siapa kalian kayak nangis berjamaah sampai terdengar diluar." ucap Nean.
"Apa! bilang sekali lagi! mau ibu jewer, hah!" ucap nya dengan galak. Yang langsung mendapatkan pelototan dari Rena.
"Ampun!!" ucap Nean.