
Rena terus saja memperhatikan jalan didepannya. Ia juga sesekali melirik ke arah supir yang hanya diam dengan tenang dibangkunya. Beberapa kali pandangan mereka bertemu namun Rena memalingkan mukanya ke arah jalan.
Vano memainkan ponselnya dan tangannya mengetik ke arah pesan kontak dengan Daddy nya. Ia tidak ingin membuat Daddy nya khawatir.
Vams
..Dad, kita akan segera pulang lewat jalur singkat.
Otomatis pesan itu terkirim, sembari menunggu, dirinya bermain ponsel. Rena sudah berbicara panjang mengenai sekolahan Vano tadi.
Dan Vano juga mengatakan bahwa sekolah nya saat ini aman aman saja tanpa ada kendala. Rena menyandarkan punggungnya resah dan panik. Sampai saat ini sudah 2 jam perjalanan singkat lewat jalur tikus ini tak dapat sampai ke tujuan.
***
Sedangkan di sisi keluarga Nean, keluarga itu tengah menuju sebuah hotel tersembunyi yang sudah resmi menjadi milik keluarga Alvin untuk liburan. Dimana hotel itu adalah hotel mewah dibalik suram nya jalanan yang sepi dan jauh dari kerumunan orang.
Walaupun begitu, pemandangannya tetaplah bagus karena tepat di sungai jernih yang indah. Beberapa Minggu dua kali, seseorang menjalankan tugasnya tuk membersihkan rumah tersebut.
Waktu dulu, nenek moyang keluarga tersebut mengidap suatu penyakit yang di sebut Agorphobia. la takut didekati oleh seseorang yang asing didekatnya. Karena itu ia menjauh dan membangun rumah tersebut dan diturunkan di anak cucunya. Namun itu sudah bertahun-tahun silam dan keluarga Alvin yang ke-6. Yakni tuan dan nyonya Alvin serta Nean memperbagus rumah itu dan mengecat nya ulang.
Dan ini lah saat nya rumah itu akan ditunjukkan kepada menantu mereka. Rena yang saat ini sudah menjadi calon untuk Nean harus bersiap segala kejutan dari keluarga tersebut. Karena kekayaan dan tempat persembunyian mereka tak hanya itu.
Beberapa menit yang lalu, keluarga itu sudah menghubungi orang tua Rena tuk datang ke kediamannya. Karena ada berita baik yakni Rena sudah memutuskan bahwa dirinya sudah menerima Nean. Orang tua Rena pun langsung bergegas dan kedua orang tua itu yang akan menjadi besan segera datang kesana.
Sreettt
Mobil berhenti. Mereka dengan senang turun didepan pintu besar yang didepannya. Namun orang tua Nean tak jadi masuk dan hanya tersenyum kepada ibu dan ayah Rena didepan pintu. Mereka pun membalikkan badan kesamping. Dimana mobil lain berhenti disana juga. Orang tua Rena tersenyum tipis.
Vano dan ibunya pun turun dari sana. Mata Rena sedikit melebar menatap bangunan kokoh nan indah itu. Pagar berduri, mutiara dan tembok sederhana namun kuat itu dihiasi dengan pasir pantai. Rena terkagum, ia juga langsung menuju ibunya dan ayahnya tuk memeluk mereka.
Sedangkan Vano sudah dari tadi menuju ayahnya karena ketakutan.
"Ayah, ibu, kalian sejak kapan disini?" tanya Rena.
"Baru saja, nak." ucap ibunya.
"Ayah.."
"Iya, Ren. Kami baru saja sampai seperti dirimu, tenanglah." ucapnya dengan memukul pelan bahu Rena. Rena mengangguk.
"Tapi ini dimana? ini jauh dari perkotaan," ucap Rena dengan cemas.
"Kami tau. Kau akan tahu jika kamu masuk ke dalam," ucap Nyonya Alvin.
Rena akhirnya menyetujui ucapan keluarga Alvin itu. Tuan Alvin membuka pintu itu dengan sebuah card hitam. Dan pintu itu terbuka secara otomatis. Bau semerbak lavender langsung menyeruak ke hidung Rena dan keluarganya. Dengan membentuk bibir O Rena melangkah masuk dan melihat ke sekeliling.
Rumah mewah tapi dalamnya gaya dulu, dimana ada beberapa kursi goyang dengan sofa minimalis yang dibuat dari kain serat. Ada juga tembok yang berdiri menjulang ke atas berwarna coklat, semuanya coklat dan mewah.
Rena sempat melirik beberapa foto yang berderetan ketika ia masuk. Seorang wanita dari muda sampai tua hingga foto sebuah batu nisan menarik perhatiannya.
Ia berdiri dan memegang foto itu. Melihatnya dengan jeli bahkan ia sempat meneguk Saliva nya. Karena fokus ke foto bahkan dirinya tak sadar ada Nean dibelakangnya.
"Kau lihat apa?" tanyanya membuat Rena terperanjat. Ia pun membalikkan badan dan menatap Nean. Nean mengangkat alisnya dan melirik ke foto itu.
"Oh itu nenek ku, dia cantik kan?" ucap Nean.
"Iya, sangat cantik." ucap Rena dengan mengangguk.
"Dulu banyak sekali yang tinggal disini, dan setiap orang yang tinggal disini fotonya akan selalu dikenang disetiap meja, jadi tak heran banyak foto orang-orang. Karena ini adalah rumah dari anak dan cucu nenek ku. Bisa disebut rumah ini adalah rumah yang didesain khusus untuk menenangkan diri dari kesibukan." ucap Nean sembari menatap ke sekitar. Rena mengikut Nean dan juga melihat dari setiap sudut.
"Lalu?" tanya Rena yang masih penasaran.
"Dan, rumah ini juga akan ditinggali anak kita nanti." ucap Nean dengan tersenyum.
Rena menarik sudut bibirnya dan membelakangi Nean. Pria itu sedikit mengulas senyum, dan kembali bercerita.
"Banyak sekali orang-orang yang menyukai tempat ini karena mereka juga sama seperti nenek ku. Yang memiliki penyakit Agorphobia,sekecil dan sebesar apapun itu." ucap Nean.
"Dan ini juga akan dikenang sampai bangunan ini roboh dan tempat ini akan hilang jika banyak orang yang akan tinggal disini." ucap Nean.
Rena melirik dan pandangan mereka bertemu. "Karena itu, tempat ini disini juga untuk mengawasi hutan ini. Karena semuanya sepanjang pojokan dari Utara ke barat itu punya mendiang nenek ku," ucap Nean.
Rena geleng-geleng tak percaya akan kekayaan yang dialami Nean ini. Banyak sekali kekayaan mereka bahkan hutan ini juga yang kemungkinan 1.000.000 hektar milik keluarga Alvin.
"Rena, Nean! cepat kesini," Panggil nyonya Alvin.
"Ia Bu! ayo," ucap Nean kepada Rena dengan anggukan. Rena pun mengangguk singkat dan berjalan ke arah keluarga Nean yang sedang berbincang bincang. Bergabung kepada mereka dan meminum susu coklat.