
"Mommy?" panggil Vano dari belakang Rena. Awalnya ia ingin pergi ke toilet dengan alasan di temani mommy nya. Tapi melihat wajah Rena yang terdiam murung membuatnya mengurungkan niatnya untuk ke toilet.
"Mommy, mommy fine?!" kata Vano sedikit mengeraskan suaranya supaya Rena terpanggil dan tersadar.
Sadar akan Vano yang memanggilnya, Rena melirik ke arah Vano dengan diam, lalu mengangguk. Ia menghembuskan nafas perlahan dan mulai menjawab suara di sebrang telepon.
"Mohon maaf mbak, apa ada yang bisa saya bantu?" suara itu berhasil mencegah Rena mengatakan apa yang ia ingin katakan.
"Tidak ada, katakan saja kepada tuan Nean untuk segera menghubungi ku ketika ia tidak sibuk. Terima kasih," kata Rena lalu mematikan teleponnya.
Vano mengerutkan keningnya, mengapa Rena mau menghubungi Daddy nya.
"Mommy ada urusan dengan Daddy?" kata Vano dengan mata membulat.
"Haha itu.. iya masalah kecil. Kau tidak memesan makanan?" tanya Rena.
"No, aku mau ke kamar kecil." Berkacak pinggang seraya terburu-buru.
Rena mengangguk, ia melirik ke arah ibu Andin sekilas. Lalu melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Mengantarkan Vano hingga di depan toilet, ia mendapatkan telepon langsung dari Nean. berjalan sedikit jauh dari pintu kamar mandi, ia pun mengangkat telepon dari Daddy Vano.
"Halo," tanya Rena menjawab.
"Iya ini aku Nean maaf tadi aku ada rapat. Apa kau butuh sesuatu?"
"Ah iya itu.." mengigit bibir bawahnya dan bingung mau mengucapkan apa?
"Makanan kesukaan ku ya? kau ingin menanyakan itu?" kata Nean dengan senyuman tipis di ujung. Ia membaca pesan Rena sebelumnya.
"Ehm.. I-Iya Presdir," ujar Rena dengan malu-malu.
"Jangan memanggil ku seperti itu, dimana Vano? bukankah ia tahu makanan kesukaan ku?" kata Nean.
"Dia.."
"Mommy aku sudah selesai!" ujar Vano sembari mendekat.
Rena merutuki dirinya, "Iya sebentar." ujar Rena.
"Berikan teleponnya kepada Vano." kata nya.
Rena mengerutkan keningnya, "Untuk?"
"Berikan saja,"
Mau tidak mau Rena pun memberikannya ke Vano. Vano enggan menerimanya, ia sedang berpikir untuk apa mommy dan Daddy nya berbicara dari belakang?
Rena menyodorkan tangannya dengan cepat Vano pun mengambil handphone Rena.
"Ya dad?" ujar Vano menatap Rena dengan tatapan aneh.
"Ya Dad, i'm fine. Aku sangat senang berada di sisi mommy." ujar Vano dengan senyuman tipis. Ia menatap ke belakang Rena, ada gadis kecil itu yang sedang mengintip.
Ia berjalan meninggalkan Rena yang sibuk membayar biaya untuk masuk ke toilet. Ia mengikuti Vano dari belakang. Menatap Vano yang mendekat, Andina pun berlari kembali ke tempatnya.
"Lalu kau sedang ada dimana? Kenapa ramai sekali," kata Nean.
"Sorry, kita ada di mall. Makan malam dengan teman mommy, akan aku ceritakan ketika esok harinya." kata Vano.
"Ah iya baiklah kau pasti bahagia disana. Kau tidak tau makanan kesukaan Daddy Vano?"
"Aku tahu dad, makanan kesukaan Daddy pangsit mie kan?" kata Vano.
"Iya, lalu kenapa kau tidak memberitahunya?" kata Nean.
"Memberitahu siapa? apakah mommy menelpon Daddy untuk bertanya tentang hal itu?" kata Vano.
"Ya, tapi ya sudah lah. Biar aku sendiri yang memberitahukannya, berikan telponnya." kata Nean.
"Daddy, dah see you. Jangan lupa besok datang waktu malam hari saja!" kata Vano dengan senyuman mengembang dan mematikan teleponnya. Ia melirik ke arah Rena yang tersenyum kepada ibu Andin. Duduk di sebelahnya dan bersandar. Memikirkan ucapan daddynya tadi. Ia terkekeh kecil ketika mendengar protes dari Nean sebelum mematikan teleponnya.
"Untuk saat ini biarkan mommy makan bersama mereka dulu." kata Vano menatap Rena.
Rena melirik ke arah Vano, ia tersenyum begitu Vano menatapnya dengan tatapan bahagia.
"Aku kira hubungan kalian tak sedekat ini, tapi kenyataannya jauh ya. Kalian lebih dekat dan harmonis." kata ibu Andin dengan senyumannya. Ia mengaduk nasi goreng yang sudah di masak. Karena ketika menunggu Rena, mereka pasti terlambat untuk makan.
"Haha, kami sempat sedikit masalah di awal. Tapi hubungan kami sepertinya sudah baikkan," ujar Rena dengan kekehan kecil.
Ibu Andin hanya mengangguk,"Kalian tidak makan?" tanya Andina sembari menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Ibu Andin pun tersadar dan langsung menatap mereka berdua.
Vano melirik Rena sebelum akhirnya mengambil menu yang tersedia. Ia pun menatap menu makanan yang ada di daftar menu.
"Ku kira friend chicken bagus untuk di makan," kata Andina.
Sadar akan Andina yang memberikan kode supaya tak bingung memilih makanan. Vano hanya mengangguk, ia memberikan lembaran menu ke mommy nya.
"Stick daging saja, lemon tea sebagai minumannya. Kau mau minum apa Vano?" kata Rena.
"Jus strawberry," kata Vano dengan senyuman kecil.
Rena mengangguk, ia pun berdiri dan ke kasir untuk memesan sekaligus membayar. Setelah selesai Rena pun kembali duduk.
"Hari ini biar aku yang traktir makanan kalian," ujar Rena dengan senyumannya.
Ibu Andin dan Andina menoleh satu sama lain. Mereka terlihat gugup dan berterima kasih. melihat mereka yang lucu seperti itu membuat Rena dan Vano terkekeh kecil.