My Parent'S

My Parent'S
Chapter52_Perasaan...



"Baiklah masih ada tugas yang perlu aku urus, aku pergi dulu. Ya??" ucap Rena kepada Bryant.


Bryant mengangguk. Nean kemudian mendekat, "Aku akan membayar beberapa pengawal rahasia yang profesional untuk menjaga nya. Tenanglah, walaupun kau merasa sendiri tapi banyak orang yang mengamati kalian dalam diam." ucap Nean.


Bryant mengangguk. "Thanks."


"Baiklah, sampai jumpa." Rena melambaikan tangannya kepada Bryant dengan tersenyum semanis buah.


Akhirnya, Rena dengan ibunya serta Vano dengan daddy nya pergi meninggalkan rumah sakit. Rena memilih untuk pulang dengan sedikit paksakan dari Bryant karena wanita tidak boleh jalan terlalu sering.


"Vano masuk dulu ya," ucap Rena. Vano pun masuk kedalam mobil.


"Ayo bu,?" ucap Rena kepada ibunya.


"Enggak, Ren. Ibu masih harus jemput ayah mu," ucap nya.


"Tapi, Buk....."


"Tuan Nean, tolong jaga anak saya ya. Saya titip..." ucap nya.


"Baik," ucap Nean singkat dengan anggukan kepala.


"Huh...Baiklah kalau begitu,Bu. Ibu hati-hati ya, kalau ada apa-apa telfon Rena." ucap nya kemudian memeluk ibunya.


"Iyaa, kamu juga." ucapnya dengan mengelus kepala Rena.


Rena mengangguk,kemudian ia memasuki mobil. Sedikit membuka jendela dan melambaikan tangannya. Ibu Rena tersenyum sembari melambaikan tangannya menatap Rena dengan Vano yang melambaikan tangannya.


"Huh..." Menarik nafas dan menghembuskan nya cepat.


***


"Vano, jajan mu apakah habis? Yang tadi kita beli di supermarket??" tanya Rena menoleh ke belakang.


"Tidak, apa ibu mau?" tanya Vano.


"Iya, berikan pada ibu?" ucap Rena.


Vano pun mengambil kantong kresek berwarna putih itu kepada ibunya. Rena menerima dan membukanya. Mengambil sebotol air mineral dan meneguknya dengan perlahan tapi pasti. Setelahnya ia pun menaruh sisanya di dashboard.


"Ini, terima kasih ya Vano." ucap Rena.


"Sama-sama." jawab anak kecil itu tersenyum.


"Rena." ucap Nean.


"Iya?" tanya Rena dengan mendongak.


Nean tersenyum tipis menatap Rena yang sibuk dengan ponselnya. Jadi ketika Rena menoleh ke arahnya membuat wajahnya sangat lucu.


"Bagaimana kabar mu? apa kamu sudah lega, ketika bertemu dengan Sahabat mu?" tanya Nean.


"Ah.. iya." ucap Rena dengan canggung.


"Mulai hari ini bekerja lah, Rena. Kau sudah meninggalkan setumpuk tugas dimeja mu," ucap Nean.


"Maafkan saya tuan Nean... saya berjanji akan giat dalam bekerja." ucap Rena.


Nean berdahem kemudian membelokkan mobilnya ke arah rumahnya. Sedikit memarkirkan mobilnya di halaman depan.


"Turunlah," ucap Nean kepada Rena.


"Hah? o-oke." ucap Rena terkejut.


Rena pun membuka pintu mobil, turun dan langsung di tarik Vano untuk masuk ke dalam rumah besar Nean. Janjinya Nean ketika setelah pulang dari rumah sakit, Rena diminta untuk datang ke rumah sebentar. Jadi ragu, apa ini alasan ibunya tidak ikut?


"Vano, kau sudah datang, Hem? muuaachh." Oma mencium pipi Vano dengan sayang.


"Ehm.. Oma! Ada mama..." Dengan cemberut menatap Omanya.


"Hehe. Rena, bagaimana kabar mu?" tanya nya mendekat.


Rena memeluknya singkat dan tersenyum. "Saya baik-baik saja, nyonya."


"Kok nyonya? apa kamu lupa nama panggilan untuk ku HM?" tanya nya.


"Ah..maaf, ibu?" ucap Rena dengan canggung.


Kenapa situasi nya canggung terus, sih? ucap Rena dalam hati.


Ia tersenyum dengan sangat lebar. Kemudian ia menawarkan Rena untuk duduk. Berbincang-bincang mengenai kegiatan nya selama di Amerika bagaimana. Dengan keceplosan, sebuah rahasia yang dirahasiakan untuk Rena malah di bicarakan tanpa sadar. Hingga membuat Nean tersedak. Nean melirik dengan tatapan terkejut nya.


"Lalu apakah kamu sudah tahu bahwa Nean telah menyimpan hati untuk mu?" tanya nya.


"Ah?" Bingung Rena melirik Nean.


"B-bukan.." Nean menggelengkan tangannya.


"Iya! dia bilang pada kami di acara keluarga, ia ingin melamar mu ketika saatnya. dan itu sudah 2 bulan yang lalu?" ucap nya.


Rena tersenyum dengan sangat tenang. "Iya mommy, papa berjanji akan menjadikan mommy sebagai istri karena permintaan Vano." ucap Vano nimbrung.


"Vano," ucap Rena.


"Hufft.." ucap Nean dengan bernafas dengan kasar dan malas. Sedangkan Rena wanita itu masih bisa bersikap tenang walaupun perasaannya campur aduk saat ini.


"Ngomong dong kamu Nean! kok diam aja sih?" ucap ibunya sedikit menggoda.


"Iya, Bu, iya! saya ingin melamar kamu, tapi tidak untuk saat ini. Ngerti?" ucap Nean.


"Tuhkan!" ucap wanita tua itu dengan gembira. Ia melupakan sudah soal rahasianya ucapannya itu. Tanpa memperdulikan perasaan Nean, ia langsung memegang tangan Rena dengan kasih sayang 100%.


"Ia akan segera melamar kamu, Rena. Persiapkan lah diri mu dan pikirkan baik-baik. Aku tahu perasaan mu, jadi pikirkan lah kembali keputusan mu lagi ya?" ucap nya dengan lembut. Penuh perasaan.


"Ia.. tapi aku tidak bisa berjanji kalau aku akan bisa menerima lamaran tuan Nean." ucap Rena dengan ragu.


"Setidaknya pikirkan keputusan mu lagi, kami bersedia dengan jawaban mu asalkan kau terbuka, Rena" ucap nya.


Rena mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Vano menengok ke arah Nean yang hanya diam mengamati komputernya dengan serius seolah tak mendengarkan ucapan Rena dengan ibunya. Padahal dia mendengar semuanya, hanya pura-pura fokus saja.