My Parent'S

My Parent'S
Chapter44_Kehilangan Zeina



"Rena?" ucap Nean menatap Rena yang baru saja masuk ke ruangan khusus untuk mereka makan.


Rena menyunggingkan senyum. Ia mendekat ke Nean dan duduk di kursi.


"Maaf menunggu lama presdir, saya tadi sempat ada urusan. Terima kasih karena telah menunggu." ucap Rena sopan.


"Tidak masalah jika aku harus menunggu, tapi kenapa kau pergi tiba tiba begitu?" ucap Nean.


"Apa itu sangat penting?" tanya Nean.


Rena mengangguk. "Ya begitulah, wanita itu adalah rekan kerja lama ku. Baru saja bertemu setelah sekian lama, jadi kita berbincang sebentar." ucap Rena menekuk wajahnya datar.


"Apa itu menyakitkan untuk mu? tenang saja, ada aku disini." ucap Nean dengan tersenyum.


Rena tersenyum tipis. "terima kasih presdir, anda telah berada di samping saya." ucap Rena Pelan tapi masuk ke telinga Nean.


"Iya, bukan masalah besar." ucap Nean lagi-lagi tersenyum.


Rena bersyukur jika Nean terlihat sangat peka. Setelah makan siang, Rena memutuskan untuk kembali ke tempat kerja nya. Berusaha menghilangkan rasa yang berkecamuk di dalam pikiran dan hatinya itu.


Namun lagi-lagi dirinya harus pusing dan memegangi kepala nya.


“ bisa bisa aku stress jika membiarkan ini.” Rena menatap ke depan. Ingin menemui Nean, tapi takut menghadapi Presdir.


Memang, hubungannya dengan presdir dekat Tapi setiap orang memiliki privasi. Yaa anggap saja Rena tidak ingin masuk ke dalan kehidupan Presdir yang menurutnya sangat berat di jalani di posisi itu.


Rena mendengkur, dirinya telah tertidur akibat stress setelah meminum obat bius beberapa jam. Mau tidak mau Rena harus menjalani ini. Ia tidak mau gegar otak gegara stress karena ucapan wanita di balkon tersebut.


Malam harinya...


Samar samar Rena mendengar beberapa orang berbicara di depan pintu. Ia pun berusaha membuka matanya dan merintih.


“ Akhh.. ibu..” gumam Rena


Sosok wanita paruh baya menoleh kan pandangannya. Ia tersenyum kepada Rena yang sudah sadar.


“ Rena, kau sudah pulih?” tanyanya.


Rena hanya mengangguk kecil. Ia mendapati dirinya di kamar rumahnya. Ia sedikit mengerutkan keningnya. Bagaimana dia sampai disini. Pikirnya.


“ Tuan Nean datang dengan membawa mu di gendongan nya. Karena itu lah kau disini.” ujar ibunya yang tahu maksud Rena yang melamun.


Rena terkejut kemudian tersenyum. Ia mengangguk kepada ibunya.


“ Sekarang jam berapa Bu?” tanya Rena.


“ Pukul 8 malam.”


Plas!


Bagai di tampar dirinya terkejut. Ia pun merogoh tas yang berada di atas nakas sebelahnya. Kemudian dirinya menatap jam yang berada di handphone nya.


“ Tuan Nean sudah pulang?” Tanya Rena. Ibunya pun mengangguk. Karena ketika Rena bangun, bertepatan kepada Nean yang harus pulang karena ada sosok anak kecil menunggunya di rumah.


Ibunya mengangguk. “ Sudah ren, ngapain sih cemas gitu. Ibu ini peka dari pada kamu.” tuding ibunya.


Rena bernafas lega kemudian terkekeh. “ Terima kasih Bu,” ucap Rena.


Ibunya mengangguk. “ Ibu sudah buat makan malam. Segera lah makan dan tidur, besok kamu tidak di bolehkan bekerja jika perasaan mu tidak enak.” ujar nya.


Rena mengangguk. “ aku akan mandi dulu Bu, selepas itu aku makan.”


“ Iya, cepat ya! ibu akan memanaskan makanan itu dulu.” ucap ibunya berlalu keluar.


Rena menggelembungkan pipinya dan mengeluarkan angin. Ia turun dan menuju kamar mandi. Membuka satu persatu benang yang menempel di tubuhnya. Dan mulai mengguyur air ke tubuhnya.


...*****...


“ Ibu sudah makan?” mendudukkan dirinya di kursi menatap ibunya yang sedang berdiri di depannya.


“ Iya makan lah. Habiskan ya,” ucap ibunya lembut


Rena mengangguk. “ Bubur bayam?”


“ Tepat sasaran!” ucap ibunya tersenyum seketika membuat Rena terkekeh.


Ia pun makan, Rena memang tidak pilih-pilih soal makan. Ia hanya tidak suka jika ada orang yang mengatur makannya padahal orang itu tidak ada hubungan apa-apa.


Setelah selesai makan dan membersihkan piring kotor miliknya. Ia pun langsung pergi ke kamar dan berniat memperbaiki kesalahan kesalahan berkas yang ia kerjakan di perusahaan.


“ Rena?” ibunya memasuki kamar Rena ketika melihat anaknya itu sibuk dengan laptopnya.


“ Ada apa Bu?” tanya Rena hanya melirik sekilas menatap ibunya yang masuk ke dalam.


“ Apa kau sudah dapat kabar dari teman mu,” ucap ibunya pelan.


Rena pun langsung menghentikan jarinya. Ia melirik ke arah ibunya.


“ Teman? kabar apa Bu, katakan pada Rena! apa yang terjadi?” tanya Rena dengan menelan Saliva nya.


Ibunya pun membungkam mulutnya. Ia sebenarnya takut mengatakan ini. Tapi dengan beberapa keberaniannya ia pun mengatakan yang akan membuat Rena terkejut.


“ Teman mu, Zeina. Dia hilang di Amerika,”


deg!


Seketika saja Rena langsung merasakan seolah jantungnya tak berdetak. Ia menelan Saliva nya kemudian dirinya melorot.


“ Tidak mungkin, ibu katakan kalau ini tidak mungkin terjadi kan!” ucap Rena.


Ibunya hanya tersenyum kecut, dirinya sebenarnya juga sedih akibat informasi yang ia dapatkan dari sebuah surat yang di kirim Bryant dari Amerika sana. Ia sebenarnya sudah mendapatkan surat itu semenjak pagi. Namun mengetahui Rena yang masih lemah pun ia tidak tega.


“ Maafkan ibu Rena, sebenarnya ini berita sudah dari tadi pagi. Sebentar, ibu mengambil suratnya dulu!” ucap Ibunya.


Rena langsung seperti orang linglung. Ia tidak tahu harus seperti apa sekarang.