My Parent'S

My Parent'S
Chapter 12_Keputusan Ny.Alvin



"Tuan saya bisa sendiri, tolong anda lepaskan tangan saya-" ronta Rena hingga sampai di luar.


Nean pun melepaskan tangan Rena, lalu berbalik badan. Menatap Rena sambil menghela nafas..


"Sudah malam, tidak baik perempuan seperti mu pulang sendiri. Ini Jakarta, ibu kota. Banyak orang yang tinggal dan banyak yang berbahaya, seandainya jika kau bisa menjaga diri mu baik baik aku akan membiarkan mu-" ucap Nean Menasehati.


"Saya-"


"Masuk lah, aku tidak ingin keluarga mu menunggu mu lebih lama lagi-" ucap Nean berjalan hingga duduk di belakang setir


Hufft.. Rena pun memasuki mobil Nean dengan paksaan. Ketika dalam perjalanan, Rena terus menatap ke luar jendela.


"Dimana rumah mu-?" tanya Nean.


"Lurus hingga pojok, dekat pasar masuk gang sebelah kanan-" ucap Rena tanpa memalingkan muka dari jendela.


"Hem, baiklah-" ucap Nean.


Blup blup blup (Anggap saja suara perut)


"Kau lapar-?" tanya Nean melirik Rena.


"Ah itu.. Ya, aku biasa lapar ketika aku gelisah-" ucap Rena


"Kenapa-?" tanya Nean.


"Tidak apa, bukan urusan mu-" ucap Rena.


Ckittt


"Jika aku bertanya bisakah kau menjawab dengan hati yang lebar-? Tadinya aku ingin mengantar mu hingga rumah. Namun pikiran ku teralihkan, didepan ada halte bus. Kau bisa menaiki bus sendiri kan-?" ucap Nean menatap tajam Rena.


"Baiklah..Ter-"


"Turun-" ucap Nean memalingkan muka.


"Terima kasih atas semuanya, selamat malam-" ucap Rena lalu turun hingga menuju ke halte bus.


Begitu Rena keluar, Nean menancap gas dengan cepat sehingga langsung menghilang dari pandangan Rena.


Bus pun datang, setelah pintu dibuka dengan cepat Rena memasuki bus tersebut. Dengan pucat ia kembali menatap luar jendela, memikirkan betapa susahnya ia harus mengambil keputusan.


"Kenapa aku harus menerima ini semua-?" Ucap Rena menatap sendu jalanan nya.


FLASHBACK


"Rena, persiapkan diri mu..Minggu depan kami akan berbicara kepada orang tua mu mengenai pernikahan mu dengan Nean-" ucap nyonya Alvin membuat Rena membubarkan senyumannya perlahan.


"Nyonya, anda berbicara apa-? saya masih ingin bekerja. Candaan tentang pernikahan ini tidak bisa di buat main main-" ucap Rena didepan pintu keluar


"Oleh karena itu, kami mengatakan hal yang sebenarnya. Kami tidak main main dengan kalimat ini, sekali lagi kami bilang.. Minggu depan kami akan mengunjungi rumah mu-" ucap nyonya Alvin.


"Nyonya.."


"Kami tau, ... ini terlalu mendadak buat mu. Oleh karena itu, kami memberi mu waktu hingga 1 Minggu untuk memutuskan nya-" ucap nyonya Alvin.


"Kami tau Rena, kamu masih mengenal kami pertama kali. Tapi kami sudah menyelidiki semuanya tentang dirimu. Kamu anak yang baik dan bekerja keras, kami yakin.. cepat atau lambat kau bisa memperbaiki hubungan mu dengan Nean, anak kami-" ucap nyonya Alvin berbicara begitu terang terangan.


"Nyonya.."


"Kenapa-? Apa yang kalian bicarakan-?" tanya Nean yang baru datang sehabis mengambil kunci mobil.


"Pulang lah, Rena. Nean, ajak Rena pulang. Keluarga nya pasti sudah menunggu-" ucap nyonya Alvin. Begitu telah membicarakan sesuatu yang telah memasuki hati nya, ia pun langsung masuk tanpa berkata kata.


"Kenapa-? Ayo pergi-" ucap Nean menarik tangan Rena


*****


Setelah berjalan dari halte bus, ia pun membuka pintu rumah nya.


"Kenapa baru pulang-? Apakah ada masalah-?" tanya ayahnya berdiri menatap Rena dari depan pintu kamar Rena.


"Ah, tidak. Tidak ada apa apa-" ucap Rena menggelengkan kepala nya dengan cepat dan tersenyum menatap ayahnya.


"Baiklah, lepaskan sepatu mu dan segera masuk kamar untuk istirahat-" ucap ayahnya tersenyum


"Baik-" ucap Rena


Ayahnya pun memasuki kamar miliknya, menutup pintu dengan pelan. Rena menghela nafas lalu langsung masuk ke kamar tanpa melepaskan sepatu nya. Ia bukan wanita yang lemah akan masalahnya, ia akan berjuang demi apapun.


*****


Cuit cuit cuit


Burung burung bernyanyi di pagi hari seperti biasa. Rena membuka mata nya begitu matahari menyinari mata nya.


"Rena, apakah kau sudah bangun-?" ucap ayahnya mengetuk pintu dari luar.


"Ah iya ayah-!" teriak Rena dari dalam.


"Segera lah mandi, ganti pakaian mu. Ayah membawakan pekerjaan untuk mu, ok-?" ucap ayahnya setengah berteriak.


"Pekerjaan-? Ahh baikk-" ucap Rena langsung gembira melupakan masalah yang menyelimuti dirinya.


\\\\\\


"Pekerjaan apa ayah-?" tanya Rena setelah mandi dan bersiap siap.


"Pergi lah ke perusahaan ini, tadi pagi seseorang menelpon rumah kita dan mengatakan mereka ingin mengundang mu kesana-" ucap ayahnya menyerahkan formulir yang dikirim perusaan gasang tadi pagi


"CK, haishh. Kenapa di perusahaan-? Apa ayah tidak mengerti ketidaksukaan ku terhadap perusahaan-? Mereka banyak peraturan yang memusingkan kepala ku, apa ayah mengerti-?" ucap Rena.


"Dulu, ... bukan kah kau sangat ingin bekerja di perusahaan-? lalu setelah kau mendapatkan pekerjaan di perusahaan kenapa kau terlihat seperti marah-?" tanya ayahnya merasa heran.


"Aku.. aku akan menertimbangkanya kembali-" ucap Rena lalu beralih ke kamar