
Semilir angin yang membuat rambut Rena bertebaran, ia tengah berdiri sambil memegang pembatas balkon. Memainkan jemari nya menatap gedung gedung yang berdiri tegak ke atas itu. Nean berdahem, membuat Rena langsung menatap ke Nean yang berdiri di sebelahnya.
"Kau bilang, kau sudah tau soal pikiran ku dan apa yang ingin aku katakan. Katakan saja, apa yang ingin kau katakan?" tanya Nean membuat Rena melirik nya.
"Kau tidak Sudi menikah dengan ku bukan? apa alasan mu?" tanya Rena.
Ia benar benar tidak rela jika Nean salah paham kepada nya, ia juga tidak bisa membiarkan rencana nya akan berubah. Ia ingin ibunya sembuh dan membayar lunas hutang nyonya itu. (author lupa nama nya hehe)
"Kau, apa kau tidak berpikir? Kedudukan mu dan ekonomi mu saja jauh dari aku. Bagaimana aku bisa menikah i mu? dan juga, ibu mu juga cacat. Aku tidak mau .."
Plak
"Aku tidak menyuruh mu berkata bebas. Aku hanya ingin tau alasan mu saja, apa yang kau katakan cukup membuat hati ku sakit. Kita cukup disini," ucap Rena melepaskan konde yang ia pakai dan melemparkannya ke bawah.
"Kau.." Nean tak bisa berkata - kata saat wanita itu langsung pergi berlari menjauh dari dirinya.
Rena tak menyangka, Nean akan mengatakan ibu nya cacat seperti itu. Walaupun begitu, ia adalah ibunya. Apapun keadaannya, tak bisa di lepaskan gelar nya sebagai "ibu".
Orang tua Nean yang berharap cemas dibawah menatap Rena yang menuruni tangga sambil menutup mulutnya dengan cepat ia berlari menjauh dari diri mereka. Tanpa mengatakan satu kata pun kepada mereka
"Ada apa ini pa? kenapa dia menangis?" tanya mama nya dengan khawatir
"Papa enggak tau ma, sabar ma, sepertinya kita sudah memanjakan Nean." ucap papa nya menenangkan istrinya dengan memeluknya.
Nean pun turun dari tangga, ia tersenyum sumringah disana menatap mereka berdua. Ia langsung membubarkan senyumannya begitu melihat ibunya menangis.
"Pa? Mama kenapa?" tanya Nean berhenti di depan mereka.
"Papa yang seharusnya tanya, kau apakan gadis itu?" tanya papa nya berusaha menahan emosi nya.
"Apa salah nya? Aku hanya berkata tidak mau menikahi nya, ya gitu deh. Nangis dia, cengeng." ucap Nean seperti nya cuek.
"Kau pasti melakukan sesuatu kepada nya, apa yang kau perbuat Nean! Dia..papa enggak tau bagaimana lagi cara membuat mu mengerti dengan keadaan. Umur mu sudah tua Nean," ucap nya dengan khawatir dengan keadaan anak nya itu.
"Kalo sudah tua emang kenapa? Aku enggak mau menikah lagi setelah kejadian itu pa, sudah cukup memaksa ku!" ucap Nean lalu berlalu meninggalkan mereka.
"Nean!!!" teriak papa nya.
Nean tak menggubris, ia kembali ke kamar nya. Belum sempat ia masuk, Vano sudah berhenti di depannya.
"Pa, mana ibu?" tanya Vano dengan tangan gemeteran.
"Dia pulang, lihat kan? Dia tidak menepati janji nya kepada mu, bagaimana bisa dia menjadi ibu mu." ucap Nean dengan enteng nya lalu masuk ke dalam kamar nya. Meninggalkan Vano yang termenung di sana.
Nean turun dengan keadaan yang begitu rapi, ia melihat papa dan mama nya yang cemas di sana. Berulang kali ia melihat papa nya mengobrol dengan seseorang di telepon lalu tersenyum masam dan mematikan. Penasaran, ia pun langsung kebawah.
"Ada apa pa?" tanya Nean.
"Vano menghilang Nean, cepat kau cari dia! kemana saja kau hah!" emosi ayahnya menatap Nean yang berubah pucat
"Vano menghilang?!" ucap Nean mengerutkan keningnya kaget
"Ya! Cepat kau cari dia! Semoga saja Vano baik baik saja.." doa ayah nya.
Nean mengangguk, "Baiklah aku akan mencari nya. Kalian tunggu lah, aku tidak akan pulang sampai Vano ketemu." ucap Nean
"Ya pergi lah nak, hati - hati." ucap ibu nya. Nean berlari menuju mobil, ia melihat pak surga disana.
"Pak, berikan kunci mobil." ucap Nean menjulurkan tangannya ke pak surga.
"Ini tuan, anda mau kemana?" tanya pak surga yang belum tau akan Vano menghilang, dia baru saja sampai setelah mengantar tuan muda kecil nya.
"Cari Vano!" jawab nya dengan agak kesal lalu berlalu meninggalkan pak surga. Ia menancapkan gas dan segera meninggalkan pak surga yang terdiam disana.
"Tuan muda kecil kan ada di..Gawat, Tuan muda!!, tuan Vano ada di rumah nona Rena!!" teriak pak surga sambil berlari berusaha mengejar mobil Nean. Tapi sia sia, mobil itu sudah menjauh dari daerah rumah nya.
Sedangkan itu...
Rena tengah menyuapi Vano yang terlihat bahagia itu, mata nya yang masih membengkak akibat kejadian tadi membuatnya merasa lelah. Disaat ia ingin tidur setelah menjenguk kondisi ibunya, ia melihat Vano yang tengah di antar oleh pak surga di depan pintu rumah nya.
Hingga akhirnya Vano memeluk Rena dengan menangis.
"Vano, ayah mu bagaimana? Dia mengkhawatirkan mu nanti.." ucap Rena tanpa henti menyuapi Vano yang sibuk dengan gadget nya.
"Tidak, dia sudah berkata kasar terhadap mu. Aku ingin disini...menepati janji mu." ucap Vano tanpa melirik ke Rena. Ia mengingat dimana dirinya mengatakan janji tadi siang.
"Maaf, tapi ini sudah malam. Bagaimana jika orang rumah khawatir soal diri mu yang menghilang," ucap Rena
"Aku sudah kenyang Bu, aku ingin tidur." ucap Vano merenggangkan otot tangannya.
"Ya, baiklah." ucap Rena meletakan mangkuk itu. Ia pun menggandeng tangan Vano menuju kamar nya, menemani Vano hingga terlelap.
Ia pun menguap, lalu ikut tidur di samping Vano. Memeluk anak kecil itu dengan kasih sayang yang membuatnya nyaman. Tau Rena memeluk nya, Vano pun tambah dekat dengan Rena. Lalu dengan cepat ia terlelap ke alam mimpinya, dimana..mengistirahatkan organ organ nya dan mata nya.