
Di dalam kamar ibu nya Rena..
Ibu nya Rena terduduk di atas ranjang, di bantu bantal untuk di jadikan sandaran punggungnya. Rena menyuapkan ibunya dengan nasi yang seperti lontong dengan sayur sop hangat, serasa makan dengan bubur.
"Sudah Bu, ibu sudah kenyang?" tanya Rena tersenyum.
Ibu nya memberi kan senyuman tipis hasil usaha nya, Rena mengingat perkataan nyonya Alvin (Kali ini author udah mengingat nya hehe) yang sudah melunasi biaya terapi ibunya. Ia yang menolak akan menikah dengan Nean sudah di pastikan, keluarga itu akan mengambil uang itu dan tidak ada lagi biaya terapi.
Ia sedih ketika harapan itu sirna, menghilang berganti harapan yang tak ada apa apa nya. Pikirannya yang sudah di penuhi dengan bayangan kebahagiaan ibu nya itu langsung pecah seraya kaca. Tiba tiba hancur dan membuat dada Rena menjadi sakit ketika ibu nya hanya bisa diam sambil ia rawat.
"Bu, aku akan mencari pekerjaan lagi..Ibu jangan khawatir ya? Rena pasti akan menyelamatkan kondisi ibu," ucap Rena sendu. Sesekali ia mengusap pipi ibu nya yang sudah keriput itu, umur nya sudah berkepala 6.
Ibu nya menggeleng, seraya mengatakan.. "Ibu sudah tua, lebih baik gunakan yang itu untuk keperluan mu. Ibu sudsh merasa kalo ibu akan meninggalkan diri mu,"
"Hem, aku ingin ibu bisa mengomeli ku...bertahan lah demi putri mu. Aku akan berjuang keras, membayar hasil kerja keras ibu dalam membesarkan aku dan melahirkan aku! Terima kasih Bu," ucap Rena lalu memeluk ibu nya sekilas. Tubuhnya berisi, setiap saat ia beri makan. Ia mengelus punggung ibunya, tanpa terasa buliran air mata lolos begitu saja di pipinya.
"Hem, ekhem! Aku melewatkan bocah itu, aku akan mengurus nya. Aku akan mengantarkan nya pulang, ada mbak Ima yang akan menjaga ibu. Nanti, setelah Rena pulang dan ada waktu luang. Rena akan menceritakan kejadian itu kepada ibu, ibu istirahat ya. Muach," Rena memberikan kecupan hangat di pagi hari kepada ibunya. Lalu pergi, membawa piring bekas makan ibunya ke wastafel. Ia menatap seisi ruangan, tak menemukan bocah itu
"Dimana dia?" tanya Rena.
Ia pun melangkahkan kaki nya ke dapur sebelah kamar mandi, ia mendengar suara piring di sana. Mengingat film horor yang ia lihat membuatnya takut untuk pergi ke dapur, dengan langkahan gugup dan takut akan kejadian di film itu..
HAP!
maling kecil, kamu tertangkap!
"Pergi, aku berbuat apa kepada mu!! aku tidak pernah menganggu mu kan!!" Kalimat itu tiba tiba lolos.
Vano yang melihatnya langsung melongo, melihat wanita yang sudah ia ibunya bertingkah konyol di depannya.
"Bu?" sapa Vano membuat mata Rena yang awal nya terpejam kini langsung membuka mata nya perlahan - lahan. Ia melihat Vano yang tengah makan disana, piring yang bersih meninggalkan sebutir nasi di atas mulut Vano tanpa ia sadari.
"Hufft, kau ini..mengaggetkan saja! Kenapa kau makan dengan berdiri? Apa kau tidak capek?" tanya Rena.
"Tidak...Aku tadi makan di meja makan, aku sudah kenyang jadi hampir membuang makanan sisa bekas ku. Mengingat perkataan ayah yang bilang, makanan tidak boleh di buang karena mereka akan menangis karena tak di makan, membuat aku kembali melahap nya. Tak ku sangka malah membuat ibu takut, pfft-" tahan tawa lah Vano, mengingat kekonyolan ibu mu itu.
"Kau..Kau tertawa apa hah! berhenti, cuci piring ini cepat sebagai hukumannya!" ucap Rena meletakan piring bekas ibunya di meja dekat wastafel.
Rena duduk di kursi dengan kesal, bocah itu.. benar benar membuatnya hanya menggelengkan kepala nya. Ayah, ternyata sih pria galak itu cukup baik hati.
"Eh tunggu - tunggu, kenapa aku memperhatikan kebaikan hati nya !!! ashhh, kau kenapa Rena,"
Memukul kepala nya sendiri lalu mengusap wajahnya gusar, ia melihat Vano yang berjalan ke arahnya. Tak ada butiran nasi di sekitar mulutnya, mungkin sudah lepas karena tertawa atau mengobrol.
"Bu, ibu kenapa?" tanya Vano bersandar di kursi depan nya.
"Gak papa, ayo.. Kakak akan mengantar mu pulang, kakak harus bekerja.. Mencari informasi, apakah aku di pecat atau tidak di perusahaan itu ..." ucap Rena dengan pelan.
"Vano enggak mau, Vano mau ikut." ucapnya dengan tatapan imutnya ..
"Tapi.. ayah mu akan mencari mu Vano," ucap Rena mengusap tengkuk leher nya tak enak.
"Kenapa ibu memikirkan ayah? Dia ayah yang kejam, membiarkan ibu hidup menderita seperti ini.. aku tidak mau pulang," tegas nya dengan nada galak. Namun terlihat lucu di mata Rena.
"Hem, baiklah bocah, bagaimana kalo kakak akan antar kamu pulang setelah bekerja ok?" ucap Rena.
Palingan nanti siang, mungkin akan di pecat ... Ucap Rena dari dalam hati sambil menghela nafas. Salah dirinya adalah pegawai baru dan akan bekerja kemarin pagi...tapi malah dirinya menerima lamaran itu .. bahkan sudah jam 09.00 dirinya pasti akan tepat untuk bekerja.
Haishh, sabar Ren... kamu harus bisa membujuk Mbak Eka. Batinnya menyemangatkan dirinya sendiri.
"Ibu hanya memakai pakaian tidur?" tanya Vano bengong.
"Ehh..Ya enggak lah. kamu jangan ngawur kalo bicara, kakak ke kamar dulu." ucap Rena bergegas ke kamar.
Vano hanya menggelengkan kepalanya lalu menunggu ibu nya sambil membuka isi kulkas.. paling ada cemilan yang bisa di makan gitu.
"Woah! Makanan sebanyak ini.. ini benar benar surga dunia.. " ucap nya tanpa sadar ketika melihat cemilan yang lengkap di lemari es tak terlalu besar dibanding lemari es isi sayur yang lebih besar dari pada lemari es cemilan.
Ia pun mengambil 3-4 cemilan lalu minuman, ia membawanya dengan kantong kresek. Beberapa cemilan itu akan ia makan ketika di perjalanan, walaupun perut nya sudah kenyang. Perut cadangannya tak bisa kenyang ketika tiba tiba melihat banyak cemilan yang menggoda selera nya.
(Surga dunia anak rumahan mana suara nya!(人 •͈ᴗ•͈))