My Parent'S

My Parent'S
Chapter 25_Menjenguk 2



"Aku pulang ya, Ren! Semoga lekas sembuh!"


"Iya makasih Na, hati hati di jalan!" ucap Rena melambaikan tangannya.


"Iya! Dahh Rena!" ucap nya lalu menutup jendela setelah ia tak dapat lagi melihat Rena dengan matanya sendiri.


Rena tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, disaat ia mau berbalik badan. Sebuah mobil hitam Avanza berhenti di depannya, kaki mungil berhenti di depannya, muncul lalu memanggil dirinya.


"Ibu!!" Bocah itu memanggil nya dengan sebutan istimewa.


"Vano!! Astaga.. " kaget Rena ketika melihat Vano yang tersenyum ke arahnya lalu memeluknya.


"Astaga Vano, kamu disini sama siapa?" tanya Rena.


"Sama Oma!" ucap Vano tersenyum lalu menunjuk ke arah Ny.alvin yang berjalan ke arahnya.


"Halo Rena sayang! Gimana kabar mu?" tanya nyonya Alvin lalu memeluk Rena sekilas.


"Baik kok nyonya, maaf merepotkan sampai menjenguk kesini.. " ucap Rena tersenyum canggung.


"Nyonya apa sih Rena! Jangan panggil saya begitu ih, panggil ajah ibu gitu.. " ucap nya dengan nada menggoda


"T-Tapi.. "


"Udah lah Oma! Jangan membuat ibu kesal, ayo Bu! Aku ada sesuatu yang mau di tunjukkan ke ibu," ucap Vano menarik tangan Rena.


"I-Iya.. pelan - pelan Vano!" ucap Rena tertarik oleh tangan Vano yang berjalan di depannya sambil menarik tangannya.


Nyonya Alvin hanya tersenyum, ia pun menelpon seseorang sembari berjalan mengikuti Rena.


"Halo nyonya?" Terdengar suara asisten Nean disana.


"Halo Dean, dimana tuan? Kenapa dia tidak datang?" Tanya nyonya Alvin sedikit kesal.


"Nyonya, tuan sedang meeting saat ini. Apa ada sesuatu yang ingin anda bicarakan?" Tanya Dean.


"Hem, baiklah. Tidak apa apa, aku matikan teleponnya."


"Baik nyonya." ucapnya.


******


Setelah sampai di kamar rena, dengan cepat vano membuka nya dan menarik tangan rena memasuki kamar tersebut.


"Pelan pelan vano, tangan kakak masih sakit." ucap Rena.


"Di luar banyak wartawan bu!! Sstt, jangan berisik!" icap vano memegangi bibirnya sendiri.


"Hem baiklah, kenapa kau kemari Vano?" tanya rena sambil duduk di ujung kasur.


"Tentu saja aku mengkhawatirkan keadaan mu! Kemarin ketika aku ingin berada di samping mu, ayah mengajak ku pulang. Aku di marahi habis habisan sama dia bu, hiks hiks." ucap vano mencari pembelaan.


"Kau yang sabar ya vano! Ayah mu hanya ingin yang terbaik buat diri mu sayang," ucap rena juga ikut sedih.


"Iya bu, aku tau!" ucap vano mengusap air matanya.


"Baiklah, ayah mu tidak datang?" tanya rena.


"Ayah.."


"Dia akan datang, kau tunggu saja!"


Nyonya alvin datang dan berdiri di ujung pintu, membuat rena menjadi gugup, nyonya alvin pasti memikirkan sesuatu yang mengada ngada!


"Oma!!" ucap vano tersenyum.


"Hai sayang," ucapnya mengusap kepala cucunya lalu menaruh barang bawaannya di atas nakas.


"Itu.. buah dari teman teman ku yang kemarin menjenguk ku! Sebentar lagi ayah ku juga akan datang nyonya!" ucap rena.


"Ohh, jangan panggil nyonya sayang! Anggap saja aku seperti ibu mu, hem?" ucap nyonya alvin mendekat.


"Aku.."


"Aku berhutang budi kepada mu, kau telah menyelamatkan nyawa cucu ku! Aku tak bisa membayar dengan apapun! Panggil lah aku ibu, aku juga ingin di panggil 'Ibu' oleh mu.." ucapnya dengan sendu.


"Tidak perlu sedih bu, aku akan memanggil mu ibu!" ucap rena.


"Terima kasih sayang!" ucapnya lalu memeluk rena.


Rena tersenyum lalu membalas pelukan nyonya alvin, ia berusaha menahan tangannya yang masih sakit itu, tak sengaja tersenggol oleh sesuatu.


******


"Terima kasih ya Pak!" ucap pak samsul setelah mengeluarkan istrinya dari taksi.


"Iya pak sama sama! Semoga ibu baik baik saja ya pak! Semoga cepat sembuh!" ucap nya.


"Iya pak terima kasih! Hati hati di jalan!" pak samsul melambaikan tangan begitu taksi sudah berjalan menjauh dari rumah sakit itu.


"Ayo bu!" ucap pak samsul merapikan barang bawaannya lalu melajukan kursi roda milik istrinya itu.


Di sisi nean, setelah ia mendapatkan kabar dari dean asistennya. Ia segera menyusul ke rumah sakit dengan mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat. Ibunya pasti akan marah marah begitu ia sampai.


20 menit perjalanan, ia pun sampai disana. Membawa kunci mobilnya ke saku celananya dan menuju ke loby.


"Maaf mbak, pasien yang bernama rena!.. ada dimana ya?" tanya nean dengan hati hati.


"Sebentar ya pak! Saya cek dulu," ucap nya lalu membuka buku catatan pasien di depannya.


Nean hanya mengangguk, ia pun meletakan siku nya di meja loby. Sambil melihat sekitar, pandangannya tertuju kepada pak samsul berserta istrinya menunggu lift turun.


"Mbak! Saya permisi dulu.." ucapnya berpamitan dan segera berlari ke Arah pak samsul.


"Eh tapi mas.."


"Permisi selamat siang pak, bu!" ucap nean dengan hormat.


"Nean? Ada apa lagi kau disini?" tanya pak samsul dengan nada tak suka.


"Saya.. Saya ingin menjenguk putri bapak, apakah boleh?" tanya nean.


"Enggak usah! Kami enggak perlu kasihan dari kalian(Keluarga alvin)!" ucap pak samsul lalu masuk ke dalam lift.


"Pak! Saya kesana karena suruhan ibu dan anak saya! Mereka menelpon supaya saya menjenguk putri bapak. Jadi izinkan saya ya untuk menjenguk nya?" ucap nean di dalam lift.


"Nean! kamu tidak tahu malu banget ya! Udah menyakiti anak saya tapi malah menjenguk nya! Bagaimana perasaan mu sebagai laki laki!" ucap nya menyindir.


"Itu.."


Ting!


Pintu lift terbuka, "Saya enggak perlu kasihan dari kamu lagi! Sekali kamu nyakitin, tak ada kesempatan ke 2 lagi. Kamu mengerti?!" ucapnya.


Ia pun berlalu meninggalkan nean di dalam lift. Nean begitu bingung dengan sikap pak samsul, apakah rena berbicara yang tidak - tidak mengenai dirinya.


"Tidak bisa! Aku harus mengambil vano dari nya!" nean pun mengikuti langkahan kaki pak samsul.


Hingga sampai lah ia di suatu kamar, pintunya terbuka. Terdengar suara ramai ramai di dalam kamar pasien pelanggan VIP. Ia mengintip lewat jendela yang tertera..


DOR!


"Aaa sialan! Ada apa kau kemari!" Spontan nean terkejut dengan tingkah sosok itu.